
Amanda memang sudah menerima Alif, tapi dia mempunyai rencana untuk kedepannya. Ia tidak mau seperti Emir yang diam-diam berhubungan, tapi tidak ada kepastian. Dia mau ada kepastian, maka keesokan paginya Amanda mengajak Alif untuk berbicara. Amanda bangun pagi, lalu ia melihat Alif yang sedang membuat kopi di dapur. Amanda menghampiri Alif.
"Assalamu'alaikum Kak, pagi." Alif langsung menoleh dan melihat Amanda, ia tersenyum manis.
"Wa'alaikumsalam, pagi juga manis. Kamu mau kopi nggak?" tanya Alif ketika sedang membuat kopi.
"Aku nggak cocok Kak minum kopi, aku langsung pusing kalau minum kopi. Aku suka minum teh, Kak boleh aku berbicara nggak sama kakak? Tapi jangan di sini. bagaimana di taman aja Kak?" tanya Amanda kepada Alif.
"Oh ya sudah aku bikin kopi dulu dan teh untuk kamu yah. Tunggu aku di taman belakang." Amanda mengganggukan kepalanya, lalu ia menuju ke taman untuk menunggu alif di sana.
Amanda menghela nafasnya, ia harus berani untuk berbicara langsung kepada Alif karena hal ini sangat penting dan akan menjawab apa yang sudah ada di pikiran Amanda. Tak selang lama Alif pun menghampiri Amanda dengan membawa kopi dan teh yang sudah ia buatkan.
"Kamu minumlah, agar perut kamu hangat." Alif memberikan secangkir teh kepada Amanda.
"Terima kasih Kak Alif." Amanda mengambil teh tersebut dan meminumnya.
"Mau ngomong apa kamu?" tanya Alif kepada Amanda.
"Tentang hubungan kita Kak, aku sudah menerima Kakak semalam. Tapi aku tidak mau pacaran Kak, jika Kakak serius kepadaku maka temui ayahku untuk memintaku." Alif ketika itu langsung terdiam karena dia tidak pernah memikirkan hal itu terlalu cepat bagi Alif.
"Jika kakak menemui ayahku dan memintaku artinya kita akan terikat, tapi jika Kakak tidak menemui ayahku maka artinya Kakak nggak serius sama aku dan hubungan kita hanya sampai di sini aja Kak. Keputusan hubungan kita mutlak Kakak yang ngambil keputusan. Aku menunggu Kakak, itu aja sih Kak yang aku mau bicarakan." Amanda bergegas untuk berdiri dan ia ingin meninggalkan Alif dengan membawa teh yang sudah Alif buatkan, sebelum Amanda masuk ke dalam, Alif memanggil Amanda.
"Tunggu Amanda." Amanda berhenti dan menatap Alif.
"Iya Kak, Kakak mau bicara sesuatu?" tanya Amanda.
"Apakah kamu sayang sama aku? Aku tahu sebelumnya ada seseorang di hati kamu yang sangat berarti bagimu. Bahkan ia sudah memberikan cincin kepadamu." Amanda menghela nafasnya dalam-dalamnya lalu ia mengeluarkannya perlahan.
"Aku sudah katakan semalam, aku merasa nyaman kepada Kakak. Buatlah aku senyaman mungkin agar hatiku bisa kau genggam Kak, dengan perhatian Kakak. Aku akan belajar mencintai Kakak jika Kakak serius dengan aku." Amanda membalikkan badannya, lalu ia melanjutkan langkahnya untuk masuk ke kamar kembali.
Amanda sudah tenang dengan apa yang harus ia katakan kepada Alif. Bagaimanapun ia memang tidak mau pacaran. Lama berpacaran itu akan menyakitkan, lebih baik diikat saja dan saling belajar untuk memberikan rasa cinta dan pengertian.
Keputusan Amanda untuk Alif, yang langsung meminta untuk menemui ayahnya, karena Alif sudah lulus. Pasti Alif akan mencari pekerjaan walaupun nantinya dia ingin melanjutkan S2 nya. Itu adalah syarat Andi ketika ada seseorang yang ingin serius kepada anak-anaknya harus lulus S1.
__ADS_1
Sudah tiga hari mereka berada di Magelang dan Amanda pun harus kembali lagi ke Jogja. Mereka pulang ke Jogja dengan mobil yang sama, Alif menurunkan teman-temannya di depan kampus, Sedangkan Amanda diantar oleh Alif sampai ke tempat kosnya. Sejak Amanda bilang kepada Alif, Alif terdiam lebih banyak Amanda yang menanyakan kabar Alif. Amanda pikir Alif tak akan berani untuk menemui ayahnya.
"Terima kasih Kak untuk tumpangannya, aku permisi dulu ya." Amanda membuka pintu mobil.
"Amanda aku sangat sayang kamu. Aku mencintaimu, beri aku waktu untuk berpikir dan juga untuk aku berbicara kepada kedua orang tuaku, karena hal ini bukan hanya aku yang memutuskan tetapi atas persetujuan dari kedua orang tuaku. Asal kamu tahu dan ingat aku cinta sama kamu." Alif menatap mata Amanda dengan dalam. Amanda tersenyum kepada Alif.
"Iya kak aku tahu itu, aku akan menunggu Kakak. Asal Kakak tahu aku tidak pernah pacaran. Kepada seseorang itu, kami hanya berkomunikasi dan ia berjanji akan menikahi aku. Dia memberikan cincin sebagai keseriusannya kepada aku, tapi satu tahun ini dia tidak ada kabar. Aku tidak pernah kiss Kak, first kiss ku hanya untuk suamiku kelak. Paling aku pernahnya berpelukkan sama dia dua kali, sama Kakak satu kali waktu aku menjawab cinta kakak. Aku permisi dulu kak. Assalamualaikum," ucap Amanda.
"Wa'alaikumsalam." Ketegasan Amanda dengan apa yang ia bicarakan membuat Alif sangat senang artinya Amanda bukan perempuan gampangan. Jika ia mendapatkan Amanda itu berarti suatu anugerah, karena zaman sekarang para remaja sudah pernah pacaran dan sudah melakukan hal yang seharusnya tidak mereka lakukan.
Di malam harinya, di kamar kos Amanda. Amanda video call dengan Andi. Ia ingin membicarakan hal ini kepada ayahnya, jadi atau tidaknya Alif karena jika Alif datang menemui Andi, Amanda sudah memberitahukan hal ini.
"Assalamualaikum Ayah. Ayah sedang di rumah kan?" Amanda terlihat tersenyum di layar handphone Andi.
"Waalaikumsalam sayang, ia Ayah di rumah satu jam lalu baru Ayah sampai di rumah. Ada apa sayang?" Andi melihat di layar handphonenya Amanda seperti membicarakan sesuatu.
"Ayah, aku ingin bicara sesuatu dengan Ayah tapi Ayah jangan marah yah," ucap Amanda.
"Ada seseorang yang sayang sama aku Ayah, tapi aku tidak mau pacaran. Aku bilang sama dia, jika serius dia harus bertemu dengan Ayah dan membicarakan ini untuk meminta aku." Amanda menelan selivanya dan tangannya sudah memainkan bawah bajunya.
"Apa? Amanda kamu baru semester 5 Nak masih 2 tahun lagi kamu lulus." Andi terkejut dengan ucapan yang baru Amanda katakan.
"Iya Ayah, aku paham tapi pergaulan sekarang Ayah itu susah untuk ditahan. Ayah aku sudah jaga diri loh... agar tidak pacaran aku tahu baru semester 5 tapi, yang menyukai aku sudah lulus Ayah. Baru lulus S1 sama jurusannya denganku fakultas Hukum. Aku tidak sembarangan menerima, ia sesuai kriteria syarat yang Ayah katakan lulus S1." Wajah Amanda tampak di layar handphone sangat meyakinkan Andi.
Andi berpikir sejenak, apa yang Amanda katakan itu benar. Pergaulan zaman sekarang itu sangat susah untuk tidak pacaran, jangankan yang kuliah, yang SD pun sudah berani mereka saling panggil mamah papah, sehingga Andi menyetujui apa yang Amanda putuskan.
"Ya sudah, Ayah terima keputusan kamu. Apa yang kamu ucapkan itu memang benar," ucap Andi di balik telepon.
"Aku hanya ingin bilang seperti itu aja Ayah. Jika dia serius, dia akan langsung bertemu dengan Ayah untuk meminta aku. Jika dia tidak serius maka pertemuan itu tidak akan ada dan aku tidak akan berhubungan lagi dengannya," ucap Amanda.
Andi sangat bangga kepada Amanda, apa yang ia sudah nasehatin kepada Amanda, Amanda memakainya. Amanda sangat menjaga diri agar tidak terbawa arus dari pergaulan anak muda masa kini.
Bersambung
__ADS_1
❤❤❤
Baca juga yuk cerita novel saya yang lain nggak kalah seru loh....
5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)
Salah lamar (on going)
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
Dicampakkan suami setelah melahirkan (On going)
Love dari author sekebon karet ❤💞
__ADS_1