
Juna melepaskan tautannya. Cia wajahnya sangat merah kontras dengan kulitnya yang putih. Mereka saling mematung karena tak menyangka Juna langsung ingin memberi kecupan kepada istrinya.
Cia memegang bibirnya yang masih berasa ketika bersentuhan dengan bibir Juna.
"Maaf Cia, aku terlalu cepat ya?" tanya Juna.
Cia masih terdiam, ia tidak berkata apapun.
"Kamu marah sama aku?" tanya Juna kembali.
Cia menatap Juna.
"Aku tidak marah Kak, karena kamu sekarang adalah suamiku jadi berhak untuk menyentuh aku tanpa izin sekalipun," jawab Cia. Juna langsung memeluk erat Cia. Pelukan halal untuk istrinya, Cia membalas pelukan dari Juna.
"Kamu siapa jika aku meminta itu?" tanya Juna.
"Itu apa Kak?" Cia tidak paham karena ia memang sangat polos.
"Hmm ibadah suami istri yang itu sayang," bisik Juna.
Cia menelan salivanya sangat susah, ia merasa gugup dengan apa yang Juna utarakan karena memang itu adalah kewajibannya dan Juna berhak atas semuanya.
Cia menarik lengan Juna untuk duduk di atas ranjang.
"Kak, boleh kita berdiskusi?" tanya Cia.
"Iya boleh dong," jawab Juna.
"Boleh nggak kita menunda punya anak?" tanya Cia ragu.
"Kenapa? Kamu tidak mau cepat mempunyai anak?" tanya Juna.
"Sebenarnya aku mau Kak, jika Allah memberikan kepercayaan tapi kita belum bisa cari uang sendiri, aku nggak mau susahin ayah dan mamah. Orang tua kita bantu biaya hidup kita setelah menikah, masa aku minta uang untuk anak kita Kak. Aku malu," ucap Cia.
Juna berpikir sejenak.
"Aku akan bekerja sayang, uang yang dari ayahku 1/2 akan aku buat modal usaha dan 1/2 lagi aku berikan ke kamu." Juna menawarkan solusi.
"Baiklah Kak, aku setuju," jawab Cia.
"Jika kamu sudah siap, kita salat sunnah dulu yah," ajak Juna. Dengan malu Cia mengganggu kepalanya.
Mereka salat sunnah 2 rakaat setelah selesai Cia mencium punggung tangan Juna dan Juna menyentuh kepala Cia, ia berdoa setelah berdoa dia tiup kepala Cia.
"Bismillah," ucap lirih Juna.
Juna menggenggam tangan Cia, lalu mengarahkan Cia untuk keatas ranjang.
"I love you my wife," bisik Juna di telinga Cia. Cia sangat gugup ketika akan memulai ini semua, pengalaman pertama untuk diri nya dan juga Juna. Dengan jantung yang sudah berdetak kencang, Juna mulai menyentuh Cia.
"Jangan tegang yah sayang, aku akan melakukan dengan lembut dan juga pelan-pelan," ucap Juna.
Juna membelai rambut Cia, ia memandang wajah Cia yang cantik. Tak henti dia bersyukur di dalam hati telah menikahi pujaan hatinya. Cinta pertama sewaktu SMP, berlanjut SMA dengan pendekatan yang bukan seperti pacaran pada umumnya dan akhirnya menikah. Kini Juna sudah halal untuk menyentuh Cia, bahkan jika Cia hamil tidak akan ada orang yang menggunjing mereka karena kini mereka sudah halal.
Juna memulai menyentuh Cia dengan membawa Cia kepangutannya. Sangat candu bagi Juna bahkan mereka saling membalas. Juna menggenggam kedua tangan Cia, membawa Cia ke nirwana. Mereka sudah sama-sama bermandi keringat.
Juna merebahkan tubuhnya di samping Cia, nafas mereka masih saling memburu.
__ADS_1
"Nikmat rasanya hubungan halal, terima kasih sayang sudah memberikan mahkotamu untukku. Maaf kamu kesakitan." Juna mencium kening Cia.
Cia menarik selimut sampai kedadanya.
"Nggak apa-apa Kak aku sakit, karena sudah kewajiban aku dan aku iklas memberikannya kepada Kak Juna karena Kakak adalah suamiku sekarang." Cia wajahnya sangat merah mengatakan hal itu, membuat Juna gemas. Juna memiringkan tubuhnya menghadap Cia dan memeluk tubuh Cia yang polos di balik selimut.
"Kak, tangannya. Aku malu di peluk kamu seperti ini," ucap Cia.
"Masih malu? Aku sudah sentuh semua tubuh kamu sayang. Izinkan aku memeluk kamu seperti ini 5 menit setelah itu kita bersih-bersih lalu istirahat." Juna malah membelai perut Cia dari balik selimut.
"Kak Juna, ih..." protes Cia.
"Kenapa sih sayang? Nggak suka?" tanya Juna. Cia menggelengkan kepalanya.
"Atau mau lagi?" Juna tersenyum manis kepada Cia. Cia membolakan matanya.
"Please Kak, istirahat dulu. Masih perih di sana," keluh Cia.
"Iya sayang, aku tahu. Aku hanya menggodamu saja," ucap Juna.
Setelah 5 menit, Juna mengangkat tubuh Cia.
"Kak." Cia terkejut.
"Berpegangan, nanti jatuh sayang. Aku hanya mengantar kamu ke kamar mandi agar kamu mandi wajib. Aku tahu jika berjalan kamu pasti sakit," ucap Juna.
Juna masuk ke kamar mandi lalu meletakkan Cia ke dalam bathub.
"Rendam air hangat yah, aku keluar. Terima kasih istriku yang cantik." Juna mencium kening Cia lalu ia melangkahkan kakinya untuk keluar kamar mandi.
'Ya Allah, aku sudah menjadi istri Kak Juna seutuhnya. Kak Juna nggak mau tunda-tunda untuk sentuh aku,' ucap batin Cia.
"Sakit, perih deh di sini," gumam Cia. Dia masih mengingat kejadian sebelumnya membuat ia malu sendiri ketika mengingatnya.
Setelah puas berendam, ia melaksanakan mandi wajib, ia hanya butuh waktu 15 menit. Kemudian Cia memakai kimono dan berjalan menuju pintu kamar mandi.
KLEK
Pintu di buka Cia. Cia berjalan dengan perlahan karena terasa sangat perih. Ternyata Juna sudah menyiapkan baju ganti Cia.
"Ya Allah Kak Juna, bukannya aku yang siapkan baju ganti untuk Kakak kenapa kembalikan," ucap Cia. Juna melihat jalan Cia yang sangat pelan dan tampak kesakitan. Dia langsung menggendong untuk di dudukan ke pinggir ranjang.
"Berpakaianlah lalu kamu istirahat. Aku tahu kamu sangat lelah. Setelah resepsi kita langsung ibadah itu," ucap Juna.
"Aku ambil baju ganti untuk Kakak dulu," ucap Cia.
"Nggak usah sayang, aku bisa sendiri. Kamu istirahat aja yah." Juna membelai rambut Cia. Cia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, Juna menyelimuti Cia.
Setelah Juna membersihkan tubuhnya, ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Cia. Juna menatap Cia, ia memeluk tubuh Cia lalu tertidur lelap.
***
Juna dan Cia kembali ke kediaman Kaila dan Andi. Sudah 3 hari mereka berada di Hotel. Juna menggenggam tangan Cia walaupun saat ini mereka sedang ada di mobil perjalanan untuk pulang.
Selama 1 jam perjalanan, Juna dan Cia sampai di rumah. Kaila langsung menyambut Cia.
"Duh anak mamah wajahnya segar banget," ucap Kaila. Cia hanya tersenyum kepada Kaila.
__ADS_1
"Ayah, Kak Manda mana Mah?" tanya Cia.
"Ayah ke kantor, Kakmu sedang lari pagi dengan Alif belum pulang mereka," jawab Kaila.
"Yah sudah, aku dan Kak Juna ke kamar dulu yah Mah," izin Cia.
"Cia, sore ini kita jenguk Kakekmu yah," ucap Kaila.
"Harus yah Mah, aku malas bertemu ayah, Mah," ucap Cia.
"Cia..." Kaila langsung menatap Cia tak suka.
"Iya Mah, aku akan ikut," ucap Cia.
Cia dan Juna masuk ke kamar, Cia langsung membanting tubuhnya di kasur yang empuk.
"Males banget aku ikut nanti sore," keluh Cia.
"Sayang, Kakek masih keluarga kamu. Seburuk apapun perlakuannya kepadamu." Juna menasehati Cia.
"Sini Yang, jangan diri aja. Peluk aku, aku suka mencium aroma tubuhmu. Masih tak percaya aku sudah menjadi istrimu Kak." Juna langsung berbaring di sebelah Cia dan memeluk erat Cia.
Bersambung
❤❤
Baca juga yuk cerita seru di novel yang lainnya karya author.
5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)
Salah lamar(Tamat)
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
Dicampakkan suami setelah melahirkan
Love dari author sekebon karet ❤
__ADS_1