Sandiwara Menjadi Cinta

Sandiwara Menjadi Cinta
28


__ADS_3

Jepri langsung berdiri. ” Siapa dia?”. Luna langsung tersenyum ke arah suaminya.


" Sayang dia yang akan bantu saya untuk membuktikan kebenarannya!”.


" Maksudnya?”.


" Sayang dia Intel dan dia akan membuktikan kalau saya tidak bersalah atas gaun Jeje yang terbakar!”. Jeje mendengarnya terkejut.


" Apa-apaan ini, bukannya Jeje udah memaafkan kamu Luna?”. Saut Japran.


" Maaf bang, sebelum saya pergi saya ingin meluruskan masalah ini, mungkin kalau saya bicara kalian pasti tidak akan percaya sama saya, karena saya orang baru dan Jeje sudah lama bersama kalian, makanya saya harus dengan cara ini.


Luna mendekati pria itu lalu mereka bicara panjang lebar. Pria itu langsung bicara.


" Maaf nona Jeje, bisa ceritakan gimana kejadiannya ketika nona Luna membakar gaun anda?”. Pertanyaan pertama yang di ajukan sama pria tersebut. Sialan aku lupa lagi. gumam Jeje.


" Dia langsung membakar gaun dengan korek lalu gaun itu langsung terbakar!”.


" Jadi seperti itu ceritanya?, apa ada lagi yang anda ingat?”. Jeje langsung berpikir.


" Tidak ada, saya gak tau tiba-tiba saja dia menyalakan apinya lalu gaunku terbakar dengan cepat”. Pria itu langsung tersenyum.


" Giliran anda Nona Luna, bisa ceritakan kejadiannya seperti apa?”


Luna menceritakan semuanya seperti ia cerita kepada Jepri.


" Itu tidak benar dia bohong!!" Kata Jeje penuh emosi.


Ziya dan Japran makin kesal dengan Luna.


Pria itu langsung mengambil gaunnya yang di kantong pelastik.


" Saya sudah mengeceknya terlebih dahulu kalau di gaun ini hanya ada sidik jari nona Jeje dan juga anda nona Ziya dan tuan Japran!, tidak ada sidik jarinya Nona Luna!”.


Pria itu menyalakan apinya lalu ia bakar gaunnya, cukup lama gaun itu tidak terbakar seperti yang di ceritakan oleh Jeje. Semuanya masih bingung.


" Gimana bisa nona Jeje anda tidak tau kalau Nona Luna membakar gaun anda sendiri. kata anda tadi sangat cepat gaunnya terbakar bukan. Jeje langsung pucat mendengarnya.


” Kalian bisa lihat gaun ini hanya terbakar di bagian tengahnya. anda bisa menciumnya!" Pria itu memberikan gaunnya kepada Ziya dan Jarpan, mereka langsung menciumnya.


Mereka mencium bau bengsin di bagian tengah gaunnya!. Pria itu mengeluarkan botol parfum. " Apa bau ini sama yang anda cium di gaun itu?". Pria itu memberikan botolnya sama Ziya.


" Maksudnya ini apa??". Japran mulai kesal..


" Di botol ini hanya ada sidik jari nona Jeje, dan juga di korek ini. di pelatuknya hanya ada sidik jari nona Jeje tidak ada sidik jari nona Luna, gimana bisa nona Luna menyalakan apinya kalau tidak menekan pelatuknya. dan di bagian tengah koreknya memang ada DNA Nona Luna dan juga tuan Jepri, tapi nona Luna tidak menyalakan apinya. Jadi yang membakar gaun tersebut adalah nona Jeje sendiri”.


Semuanya melotot mendengarnya. Wajah jeje langsung gelap seketika.


" Kamu pikir ibu dan calon suami saya akan percaya??. bisa saja kan anda sengkokol dengan Luna!!”. Jeje menyangkalnya.


Pria itu mengeluarkan datanya yang sudah di periksa sebelumnya dan menunjukannya langsung di depan Jeje.


" Anda bisa datang ke kantor saya, dan disana bukan saya langsung yang memeriksanya! Ini hasil leb nya ". Jeje makin tersudut.


" Dari mana anda dapat sidik jari calon istri saya dan kami?” Tanya Japran.


Pria itu mengeluarkan gelas. " DNA kalian ada di sini!, jika kalian ingin lebih jelas lagi kalian bisa datang ke kantor polisi terdekat dan mengeceknya lagi!”.


Luna bernapas lega mendengarnya setidaknya ia ingin membuktikan sama suaminya. Jepri menatap istrinya yang sedang memandanginya.


Ziya langsung menatap ke arah Jeje. Japran menatapnya juga.


" Ikut aku!". Japran mengajak Jeje ke kamarnya. Ziya menatap Luna yang sedang berdiri di depannya.


” Ada yang bisa saya bantu lagi nona?". Tanya pria tersebut.


" Terima kasih banyak ya pak, saya rasa udah cukup”.


" Oke kalau gitu saya permisi”. Pria itu lalu pamit dan pergi.


Ziya merasa malu ia pun langsung pergi ke kamarnya.


Luna mendekati suaminya.


” Sayang kamu percaya kan sama aku?”. Jepri menatap istrinya.


Dasar bodoh, dari awal saya percaya sama kamu.


" Hmmmm”. Jepri hanya menjawab seperti itu.


Luna sedikit kecewa karena Jepri tidak seneng.


" Kenapa kamu sedih, bukannya masalahnya udah kelar?”.


" Hanya kecewa sedikit”.


" Kecewa ko sedikit², ayo kita pulang!" Ajak Jepri sembari jalan duluan.


Di kamar lainnya...


” Apa maksudnya semua ini!!, jelaskan”. Japran merasa kesal dengan ulah Jeje.


Jeje masih berpikir gimana ia membuat alasan agar Japran tidak marah kepadanya..


Japran masih mematung membelakangi Jeje.


” Aku.. aku hanya takut ibu menyayanginya dibandingkan aku!”. Japran melihatnya langsung.


” Sayang, aku tau aku salah, tapi aku lakukan semua ini demi ibu, aku takut kehilangan ibu” Jeje sambil menitihkan air matanya.


” Tapi caramu salah, aku kecewa sama kamu!!”.. Jeje menggenggam kedua tangan Japran.


” Maaf sayang” Lirihnya.


Japran melepaskan tangannya, tiba-tiba Jeje ambruk sembari memegangi jantungnya.


” Kamu kenapa?”. Japran segera menggendongnya ke tempat tidur.

__ADS_1


” Maaf” Jeje memeluknya sembari menangis. Japran tidak tega melihatnya ia pun menenangkan Jeje.


” Kamu harus minta maaf sama Luna!”. Jeje hanya mengangguk.


” Gimana dengan ibu, apa beliau akan marah kepadaku?”. Ujar Jeje.


" Soal ibu biar aku yang ngomong!”. Jeje seneng mendengarnya.


" Terima kasih”. Japran hanya mengangguk sambil mengusap pucuk kepalanya.


Jeje tersenyum senang mendengarnya.



” Udah siap, ayo kita pulang”. Luna dan Jepri membawa Kopernya masing-masing. Mereka menuruni tangga bersamaan.



Ziya melihat dari kamarnya tampa sepatah katapun. Di bawah Japran dan Jeje berdiri menuggunya.



Jeje mendekati Luna.



” Lun apa aku bisa bicara sebentar?”. Luna menatap Jepri.



" Bicaralah”. Jepri yang menjawabnya.



” Saya mau minta maaf atas kesalahan yang saya lakukan sama kamu”.


Luna menatap kedua matanya.



” Udah minta maafnya, ayo sayang kita pergi, kita akan telat!" Ajak Jepri sembari menggenggam tangan Luna.



” Tunggu. Luna belum mengucapkan Iya, apa kalian bisa tinggal satu minggu lagi di sini?”. Cegah Jeje.



” Acaranya masih seminggu lagi kan, kami bisa kesini lagi nanti! itupun kalau kami tidak sibuk”. Luna tidak bicara apa-apa, Jepri terus yang menjawabnya..



" Jeep, saya minta maaf udah bersikap tidak adil kepada istrimu”.


Jepri tersenyum kecut.



Ziya merasa tidak enak sudah bersikap tidak adil kepadanya.



" Sayang, aku udah berusaha minta maaf tapi coba kamu lihat dia itu angkuh dan sombong!”. Japran tidak menjawabnya ia langsung naik ke atas.



” Sayang, apa aku boleh pamit sama ibu?”. Jepri mengehentikan langkahnya.



” Kamu gak lihat tadi, minta maaf aja gak ngapain kamu pamit segala!”. Jepri langsung jalan duluan pergi.


Luna melihat rumah itu lagi lalu ia mengikuti suaminya.



Japran menemui ibunya.



" Bu, apa saya boleh bicara?”. Ziya mengangguk, Japran duduk di samping tempat tidurnya.



" Jeje mengakuinya, tapi ia punya alasannya!”. Japran menceritakan semuanya, Ziya hanya diam sambil menatap putranya.


" Ibu paham di posisi Jeje seperti apa, tapi itu bukan alasan untuk menjatuhkan seseorang demi memenuhi keinginannya, apa lagi sama Luna dia itu iparnya bukan orang lain!”. Japran langsung diam.



Di balik pintu Jeje mendengarnya, ia terkejut ternyata ibu mertuanya marah.



Jeje segera pergi ke kamarnya, ia mengirimkan pesan kepada seseorang.



Di bandara Jepri di jemput sama Semi..


Mereka masuk ke mobil. Tidak ada obrolan sampai mereka nyampe ke rumah.


Semi membawakan koper Jepri dan Luna. Jepri langsung mandi sedangkan Luna hanya duduk di meja riasnya.


Aku pikir aku akan mendapatkan kasih sayang seorang ibu ternyata tidak. Batin Luna.


" Ngapain bengong, cepet sana mandi, atau saya yang mandiin kamu!”. Mendengar mau di mandiin sama Jepri Luna cepat-cepat lari ke kamar mandi.

__ADS_1


Jepri tersenyum dihatinya. Di balik pintu Luna memegangi jantungnya dag-dig-dug. Hah, aku pikir dia akan bersikap manis setelah tau aku tidak salah. gumamnya.


Luna keluar dari kamar mandi tidak melihat suaminya di kamar. Ia menuruni tangga.


Di meja sudah terhidang makanan banyak. ” Lila pak Jepri dimana?”.


" Tuan ada di ruang kerjanya nona”.


" Oh, terima kasih Lila"


" Sama-sama Non!”.


Luna memilih ke halaman belakang sembari melihat sosial media di ponselnya. Ia melihat akun ibunya yang lagi liburan di luar negeri. Melihat ibunya bahagia Luna tidak sakit hati.


Luna menghubungi Mila.


" Halo nona".


" Hai Mil, gimana butiknya rame gak?”.


" Alhamdulilah non rame, oiya nona apa pak Aris menghubungi anda?".


" Tidak ada, memangnya kenapa?”.


" Kata pak Aris nomor anda tidak bisa di hubungi, hanya operator terus yang menjawabnya.


" Masa sih, tidak ada Mil, ia sudah jangan bahas dia lagi, besok saya ke butik ya Mil.


" Iya nona siap”.


" Ya udah saya tutup teleponnya. Luna menutup teleponnya.


” Ngpain di sini, ayo kita makan" Ajak Jepri seraya jalan duluan. Rupanya dia tidak tau kalau nomornya sudah saya blok. Gumam Jepri.


Di ruang makan, Luna menaruh ponselnya di meja. Jepri mengambilnya.


" Saya ada perlu sama Sem, ponselnya saya tertinggal di ruang kerja". Luna pasrah ponselnya di ambil Jepri.


Diam-diam Jepri membuka bloknya. Ia pun langsung mengirimkan pesan kepada Sem sebagai barang bukti.


Jepri menaruh lagi ponselnya di dekat Luna.


Benar saja ponselnya langsung berdering dan nama Aris muncul di ponselnya.


Sial, pria itu rupanya tidak nyerah. batin Jepri.


Luna tidak mengangkatnya..


Di kamar Jepri duduk di tempat tidur sedangkan Luna nonton film di tv sambil makan eskrim dan dia tertawa terbahak-bahak melihat film komedi


Rupanya dia lagi seneng aku kerjain dia. Batin Jepri.


Jepri batuk-batuk agar Luna mendengarnya. Dan benar saja Luna langsung menoleh ke arahnya.


" Sayang anda kenapa?” Jepri masih pura-pura batuk. Luna menghampirinya lalu ia mengambilkan minum


Tangan satunya masih memegangi eskrim. Jepri melihat eskrim nya belepotan di bibirnya.


Luna duduk di dekatnya sambil memberikan minum, Tiba-tiba Jepri langsung menciumnya. Mata Luna terbuka lebar.


” Bengong lagi”. Luna langsung diam tangan memegangi bibirnya.


" Sayang, tadi anda menciumku kan?”. Jepri terkejut mendengarnya.


Dasar bodoh dia tidak sadar lagi, otaknya dimana dia!.


" Cium.. kapan?. Oh kamu ingin saya cium ya!"


" Tidak sayang, tapi, tadi anda mencium saya". Jepri lagi-lagi menciumnya.


" Gini maksudnya?". Jepri memperagakan yang Luna bilang. Luna melotot dirinya di cium sama Jepri.


" Iya anda mencium saya barusan".


" Ha-ha-ha" Jepri tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Luna seperti itu.


" Bukannya kamu yang minta, saya tidak mau kalau saya cium duluan yang ada nanti kepala ini membesar!" Ejek Jepri sambil menunjuk kepala Luna.


Luna merasa malu atas ulahnya. Tapi dia tadi mencium ku, aku yakin ko. batinnya.


Jepri mengambil eskrim di tangannya. " Sayang itu bekas aku?"


" Memangnya kenapa, bukannya barusan aku sudah mencium bibirmu!”.


Luna langsung diam.


" Kamu gak mau minta maaf?”. Luna bengong salah dia apa kenapa harus minta maaf.


" Memangnya saya salah apa?".


" Tadi kamu sudah berani suruh saya untuk mencium kamu!”. Luna terkejut.


Bukannya dia sendiri yang cium bibirku, ko jadi aku yang salah, tapi kalau aku gak minta maaf aku takut dia.


" Sayang maaf, aku tidak bermaksud seperti itu!”.


" Saya akan maafin kamu, tapi ada syaratnya?".


" Apa?".


" Setiap mau tidur kamu harus cium saya tampa di suruh, kalau kamu menolaknya atau lupa maka hukumnya akan bertambah menjadi dua kali lipat dan dimulai dari malam ini!".


Luna terkejut mendengarnya. Jepri tersenyum dihatinya.



Bersambung jika suka bantu like dan VOTE terimakasih 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2