Sandiwara Menjadi Cinta

Sandiwara Menjadi Cinta
78


__ADS_3

Setelah melihat ibunya Jepri baru ingat dia belum ada menghubungi istrinya. Dia mengeluarkan ponsel dari saku lalu menyalakan ponselnya.


Banyak panggilan masuk dari Semi dan juga dari Jeje. Jepri membuka pesan dari Semi bibirnya tersenyum lebar karena mendapatkan kabar baik untuknya. Ketika mengecek Email-nya senyum lebar nya langsung hilang. Jepri langsung menekan tombol panggilan.


Tut ... Tut.... Suara sabungan telepon.


>> Halo tuan muda?.


>> Sem, jangan bilang istriku belum ketemu??". Dengan nada tinggi Jepri bicara.


>> Tuan, saya sudah mencarinya dengan pak Yusuf namun nona belum juga kembali!..


>> Apa!!, kenapa kamu hanya diam!!. cari segera dan kamu harus menemukan istriku!!.


>> Baik tuan.


Jepri langsung menutup teleponnya dan segera berdiri. Perempuan itu lagi dan lagi!!. Umpatnya sambil jalan keluar dari ruangan ibunya.


Melihat wajah Jepri Zapran mengerutkan keningnya.


" Bang, maaf aku harus balik dulu". Jepri menceritakan masalahnya sama Zapran.


" Oke kamu hati-hati". Jepri mengangguk lalu pergi dari rumah sakit. Zapran menatap punggung adiknya itu sampai menghilang.


Jepri langsung gusar mengingat Luna. Dia tidak bisa berpikir jernih dan tenang. Jepri menghubungi nomor Luna namun buka Luna yang angkat teleponnya melainkan Lila asistennya.


" Sit!!" Umpatnya merasa tidak berdaya, disaat istrinya sedang membutuhkan dirinya malah tidak ada di sampingnya. Jepri tidak langsung berangkat dia harus menuggu beberapa jam lagi keberangkatan pesawat nya.


Jepri terus mengecek ponselnya sambil chat sama Semi dan terus menanyakan Luna. Di bandara Jepri tidak bisa tenang, dia terus melihat jadwal keberangkatannya dan melihat ke arah jam di pergelangan tangannya.


Di rumah sakit Ezio masih menuggu Luna yang masih belum sadarkan diri. Ezio duduk di samping ranjang pasien sambil menatap wajah Luna yang terpenjam. Dia tidak sadar dua mata tertuju kepadanya sejak tadi.


Suster yang merawat Luna terkejut melihat dokter Ezio masih ada di rumah sakit dan tidak bergeming dari tempat duduknya.


" Dok, bukannya anda sudah pulang tadi pagi, lalu kenapa anda masih di sini?". Tanyanya heran sekaligus penasaran.


Karena bukan jadwalnya dokter Ezio yang jaga pagi itu. Suster itu melihat ke arah Luna.

__ADS_1


" Apa dia istri anda dokter?". Tanyanya lagi. Ezio baru sadar dan melihat ke arah suster yang sedang bertanya kepadanya.


"Oh dia. Belum selesai Ezio menjawab Luna siuman dari pingsannya.


" Saya dimana?". Ujar Luna lirih. Ezio langsung berdiri dan melihat Luna


" Tolong tinggalkan kami Sus". Pinta Ezio sama suster. Susternya langsung pamit keluar dari ruangannya.


Ezio masih menatap Luna. Luna mengingat lagi kejadian tadi. Dia langsung menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


" Nona apa anda baik² saja”. Tanyanya pelan. Luna langsung kaget mendengar suara pria asing di hadapannya.


" Anda siapa?, kenapa anda ada di kamar saya?". Tanyanya sambil melihat sekitarnya dan berusaha menjauhi Ezio.


" Nona saya dokter di sini!, dan saya yang bawa anda ke rumah sakit ini. apa anda ingat sesuatu?". Ezio berusaha membuat Luna agar tidak takut.


Luna diam cukup lama. Ezio masih berdiri di sampingnya.


" Nona, apa ada nomor suami anda, biar saya menghubunginya?". Ujar Ezio berharap Luna bicara. Mendengar kata suami Luna langsung sakit hati.


Benar dugaan ku kalau wanita ini punya masalah sama suaminya. Gumam Ezio.


" Gimana kalau saya hubungi keluarga anda?". Luna makin sedih mendengarnya.


" Saya tidak punya siapa-siapa lagi. saya hanya sendiri dok!". Jawabnya lirih. Air matanya terus mengalir deras di pipinya. Ezio ingin sekali menghapusnya namun ia tidak berani takut membuat Luna marah kepadanya.


" Kalau anda tidak keberatan anda bisa tinggal di rumah saya untuk sementara waktu, di sana ada asisten saya. Usul Ezio. Luna menatapnya.


" Tidak dokter terimakasih!". Luna hendak bangun dan mau membuka infus ditangannya.


" Nona anda sedang hamil, dan anda butuh istrhat!". Ezio hampir menyentuh tangannya untuk mencegah Luna agar tidak melepaskan infusnya. Luna syok mendengarnya.


" Saya hamil?". Tanya Luna pelan. Ezio mengangguk. Luna langsung menangis mendengar kabar kehamilannya. Luna merasa bahagia sekaligus sedih.


Jadi dia gak tau kalau dirinya sedang mengandung. Batin Ezio.


Luna kembali lagi ke posisinya sambil memegangi perutnya.. Sayang mama menunggumu cukup lama. dan sekarang kamu baru tumbuh di perut mama. Terimakasih nak, berkat kamu mama akan berjuang untuk hidup lagi. Batin Luna sambil menitihkan air matanya.

__ADS_1


Ezio langsung pamit ke luar untuk membelikan makanan untuk Luna.


Ezio terus mengingat Luna yang tadi menangis, hatinya tersentuh melihatnya.


Sementara di tempat lain Semi menuggu kedatangan Jepri. Tidak lama Jepri datang tergesa-gesa dengan wajah serius.


" Tuan muda". Sapa Semi. Jepri terlihat kusut dan murung. Dia tidak menjawab sapaan dari Sem. Semi membukakan pintu mobilnya mereka langsung pergi dari bandara.


" Tuan, saya minta maaf sampai saat ini saya belum bisa menemukan nona". Ujar Semi lirih. Jepri merasa kasian mendengar Semi bicara seperti itu.


" Maaf Sem, tadi saya marah-marah, seharusnya saya tidak bicara seperti tadi!"..


" Tidak tuan, anda tidak salah, saya yang harus minta maaf karena saya nona menghilang!'.


" Bukan kamu Sem, ini gara-gara perempuan itu, kalau bukan dia Luna tidak mungkin menghilang". Ujar Jepri sambil menepuk pundak Semi dari belakang.


Jepri masih memikirkan istrinya dimana. Di mana kamu sayang. Batinnya.


Sampai di apartemen Jepri langsung menemui papa mertuanya. Untuk pertama kalinya Jepri bertemu.


Pak Yusuf melihat pria di depan pintu sudah bisa menebaknya kalau pria itu adalah menantunya


" Saya Jepri suaminya Luna pa". Ujarnya sambil mengenalkan dirinya. Pak Yusuf langsung memeluknya.


" Terimakasih nak sudah menjaga anak Ayah". Kata Pak Yusuf merasa bahagia.


Pak Yusuf melihat ke arah Semi wajahnya terlihat sedih begitu juga dengan Jepri.


" Apa Luna belum kembali?". Tanyanya..


" Belum Om, kami sudah menyewa detektif untuk mencari nona!". Jawab Semi. Pak Yusuf menepuk pundak Jepri.


" Ayah yakin Luna akan baik-baik saja nak". Mendengar ucapan Pak Yusup Jepri tersenyum sedikit menghibur dirinya sendiri.


Semi melihatnya merasa kasian. Jepri pria dingin yang tidak mudah menunjukan rasa sedihnya. Namun kali ini Jepri terlihat berbeda dia seperti tidak ada gairah untuk hidup lagi.


Bersambung jika suka tolong bantu like dan VOTE terimakasih 🤗🙏🙏.

__ADS_1


__ADS_2