Sandiwara Menjadi Cinta

Sandiwara Menjadi Cinta
37


__ADS_3

Jeje ingin melabrak Luna di dalam namun sekertaris nya dengan sigap menghalanginya.


" Anda mau apa, dan anda siapanya nona?”. Jeje berpikir sebentar, kemarahannya tidak akan membuat Jepri kembali kepadanya, Jepri menyukai perempuan lembut dan penurut. , Jeje tidak bicara apa-apa ia langsung pergi tampa menjawab pertanyaan dari sekertaris Sem.


Jeje menahan emosinya ia tidak ingin gegabah, ia harus seperti dulu lagi yang manis dan lembut.


Di ruangan Luna tidak juga bangun, sekertaris itu masuk dan merapikan ruangannya, melihat ruangannya berantakan ia segera merapikan pakaiannya Luna dan juga bantal sofa nya.


Anda sangat beruntung nona memiliki suami seperti Pak Jepri. Sekertaris itu langsung keluar karena takut Luna terbangun. 1 jam berlalu Jepri dan Semi balik ke kantor. Jepri membatalkan Meeting keduanya karena ia sangat merindukan istrinya.


Belum satu jam, anda sudah tidak sabar bertemu dengan nona tuan. Batin Semi.


Sampai di kantor Jepri senang melihat Luna masih terlelap dalam tidurnya Ia duduk di samping sofa dan mengelus rambutnya.


” Dia ini lucu seperti bayi jika tertidur seperti ini". Jepri terus melihatnya. Tidak lama Luna membuka matanya. Ia menggeliat dan selimutnya jatuh membuat gunung kembarnya terlihat oleh Jepri. Luna yang sadar langsung menutupinya.


" Sayang maaf, saya ketiduran. Jepri yang sudah melihatnya langsung menginginkan nya lagi. Luna yang tau gelagat Jepri langsung bicara.


" Sayang saya lapar?”. Jepri langsung berhenti dan berdiri. Ia segera menghubungi sekertaris nya.


" Bawakan makanan ke ruangan saya!".


" Baik Pak".


Luna menarik nafasnya, setidaknya ia terlepas dari Jepri, Luna segera pergi ke kamar mandi dan membawa pakaiannya. Tidak lama ia keluar sudah ada makanan di atas meja.


Sebenarnya aku tidak lapar, aku hanya lelah, tapi kalau aku tidak makan dia akan curiga dan marah. Gumamnya.


" Ayo sini makan, katanya lapar!" Luna langsung tersenyum manis dan duduk di sampingnya, Jepri menyuapinya. Luna terkejut melihat jam hampir jam 4 sore.


" Sayang saya harus ke butik”.


" Habiskan dulu makannya" Luna cepat-cepat makanya lalu meneguk jusnya sampai habis.


" Sayang apa saya boleh pergi”. Jepri tidak langsung menjawabnya.


” Kita bisa melanjutkannya nanti malam!".Luna tidak sadar kata-katanya membuat Jepri senang. Jepri makin bersemangat.


" Aku maunya sekarang, dan nanti malam juga!" Jepri segera membuka jasnya lalu melepaskan pakaian Luna lagi. Luna lagi-lagi harus pasrah melayani suaminya terus menerus.


Tidak terasa jam menunjukkan pukul 6 sore, Luna segera mengabari Mila jika dirinya tidak bisa balik lagi ke butik.


Luna merasa lapar lagi karena tenaganya terkuras untuk melayani suaminya.


" Sayang saya lapar!". Mendengar istrinya lapar Jepri segera menghubungi sekertaris nya.


" Bawakan makanan untuk istriku"


" Baik Pak".


Tidak lama Stela masuk, dan melihat Luna mengunakan selimut tampa pakaian ia melihat pakaiannya ada di samping sofa, sedangkan Jepri duduk di meja kerjanya dengan pakaian rapih.


Luna yang belum sadar masih asik main ponselnya. Ketika mendengar suara Stela, Luna cepat-cepat menutup tubuhnya sampai lehernya.


" Terima kasih mbak".


Stela hanya membalas tersenyum lalu pamit keluar. Jepri yang masih pokus dengan laptopnya tidak melihat ke arah Luna. Luna mengambil pakaiannya lalu masuk ke kamar mandi yang ada di dalam ruangan kantor Jepri.


Luna keluar dari kamar mandi lalu mendekati suaminya

__ADS_1


" Sayang ayo makan?". Jepri menghentikan kerjanya melihat Luna bersikap manis Jepri sangat menyukainya.


Mereka makan sama-sama, Jepri melihat Luna makan sangat lahap membuatnya langsung memberikan jatah makanan kepada Luna, Luna menatapnya.


" Ayo buka mulutmu” Dengan patuh Luna membuka mulutnya lalu ia mengunyahnya.


Jepri terus memberikan makanannya untuk Luna, Luna merasa senang melihat Jepri perhatian kepadanya.


" Jam 7 kita pulang, saya ada kerjaan sedikit lagi, kalau kamu jenuh kamu bisa keliling kantor”. Luna hanya mengangguk. Setelah makan Jepri melajukan kerjaannya sedangkan Luna hanya baca novel.


Di rumah, Jeje masih menunggu kedatangan Jepri dan juga Luna ia memasak untuk menyambutnya.


Demi kamu Ji aku akan bersikap manis dan juga lembut. Jeje bicara sendiri sambil membayangkan dirinya menyambut Jepri. Jeje sesekali tersenyum.


2 jam berlalu. Jepri dan Luna tak kunjung datang. Jeje sudah menunggu lama, Ia segera ke depan gerbang berharap melihat mereka datang, tapi belum juga ada tanda-tanda mobil masuk, Jeje mulai kesal karena harus menuggu mereka seperti orang bodoh.


Sabar, sabar, mereka sebentar lagi pasti pulang. Benar saja Jeje mendengar suara mobil masuk dan langsung menoleh. Jeje langsung melihat Jepri dan Luna turun.


Harusnya aku yang selalu di sampingmu, bukan wanita ****** itu. Jepri melihat ke arah Jeje. Semi tidak suka melihat tatapan Jeje kepada Jepri.


” Ji, aku udah masak kesukaan mu, apa kita bisa makan langsung?”. Luna mendengarnya biasa, ia tidak merasa marah atau cemburu. Jepri melihat ke arah samping dimana Luna berdiri di dekatnya.


" Apa kamu lapar?".


" Tidak sayang!" Jawaban Luna datar dan membuat Jeje tidak suka.


" Kamu dengar kan, istriku tidak lapar!". Jepri dan Luna melewatinya dengan dingin.


” Aku masak untukmu bukan untuk dia!’. Jepri tidak memperdulikan ucapan Jeje, ia terus jalan menaiki tangga.


Jeje ingin marah namun ia tahan, ia tidak mau jika Jepri makin jauh darinya. Jepri terkejut melihat sikap Jeje yang tidak protes. Luna melihat ke arah suaminya.


" Apa anda yang ingin kamu tanyakan?”. Luna cepat-cepat mengalihkan pandangannya.


" Tidak sayang, saya hanya suka melihat wajah anda" Luna segera menutup mulutnya. Jepri tersenyum dihatinya.


Di kamar Luna membantu Jepri membuka jasnya.


” Sayang jika aku bertanya soal Jeje apa anda akan marah?”. Jepri menatapnya.


" Memangnya kamu mau nanya apa?”.


Nanya gak ya?, tapi aku takut dia akan marah,


" Jeje itu siapanya anda?”. Mendengar pertanyaan Luna raut wajah Jepri langsung kesal.


” Jika anda tidak ingin kasih tau, ia gak apa-apa". Luna segera membereskan pakaiannya lalu membawanya ke keranjang. Jepri segera mandi. Luna menarik nafasnya sambil menatap Jepri yang hilang di balik pintu.


Luna keluar kamar untuk mengisi air minum. Ia melihat di atas meja ada beberapa makanan berupa daging. Jadi itu makanan kesukaannya. Gumamnya sambil jalan ke arah dapur.


" Nona ada yang bisa saya bantu?”. Lila mengangetkan Luna yang melamun.


" Lila kamu mengagetkan saya”.


" Maafkan saya nona”.


" Gak apa-apa Lila, saya hanya ingin ambil minum”.


" Biar saya ambilkan Nona?”.

__ADS_1


"Tidak perlu Lila, saya bisa ambil sendiri.


" Hmmm" Mendengar suara batuk Luna langsung menoleh.


” Aku mau taruhan denganmu!” Jeje langsung ngajak Luna bicara.


” Maksud anda?”.


” Kita lihat Jepri menyukaimu atau aku, jika aku bisa mengajaknya pergi maka dia tidak menyukaimu!”. Luna berniat untuk pergi.


" Tunggu. apa kamu takut??”. Luna berbalik dan menatapnya.


" Dia suamiku, aku tidak butuh taruhan apa lagi dengan mu nona, bukannya anda sudah menikah?, lalu untuk apa lagi anda mendekati suami saya??".


" Dia milikku, bukan suamimu!!" Luna ingin tertawa namun ya tahan karena Jeje makin ngaco bicaranya.


Luna pun langsung pergi, tampa sepengatahuan Jeje dan Luna, Lila merekam mereka berdua dengan ponselnya..


Jeje tambah kesal melihat Luna yang biasa saja.


Luna hanya senyum-senyum sendiri. Ketika Luna ingat dengan Zaki dan mamanya, senyumannya langsung hilang seketika. Apa dia sama seperti Zaki?. Pintunya kebuka Luna terkejut Jepri sudah ada di hadapannya.


" Dari mana kamu?”.


" Saya habis ambil air minum sayang”. Luna langsung masuk dan menaruhnya di samping tempat tidurnya.


Jepri menghubungi Lila.


” Ya tuan?".


" Kamu lupa sama tugasmu??".


" Maaf tuan nona sendiri yang menolak untuk saya bantu”.


" Jika ini terulang terpaksa saya pecat kamu!!". Mendengar Jepri marah nyali Luna langsung ciut dan melupakan mantan nya.


" Sayang, tadi bukan salah Lila, saya sendiri yang menolaknya.


" Jika kamu seperti itu lagi maka dia yang saya hukum!". Luna langsung takut dan hanya mengangguk. Maaf Lila. Batin Luna.


Luna hendak mandi, tangannya di cekal Jepri. ” Kamu lupa yang kamu katakan tadi siang di kantor?”. Luna langsung melotot. Astaga dia ini tidak ada puasnya. Batinnya.


" Tidak sayang, saya ingat".


" Lalu?". Luna menarik nafasnya lalu mengangguk dan mengajak Jepri duluan. Jepri sangat senang karena kali ini Luna yang mengajaknya. Jepri ingin tau seberapa beraninya Luna melakukannya.


" Ayo, tunggu apa lagi". Pelan-pelan Luna membuka pakaiannya suaminya lalu dirinya, wajahnya langsung merah seketika. Jepri menatapnya dengan senang.


Luna bingung harus di mulai dari mana, Jepri menarik tangannya sehingga tubuh Luna jatuh di atas tubuhnya. Luna makin gugup.


” Saya bisa ajarin kamu" Perlahan Jepri menciumnya merasa sudah puas ia pindah ke bagian lainnya. Jepri terus membuat Luna menikmatinya sampai Luna yang jadi mengendalikannya.


2 jam berlalu keduanya sama-sama mengatur napasnya, Jepri merasa puas sedangkan Luna merasa malu.


" Kamu hebat sayang" Mendengar Jepri memanggilnya sayang Luna tertegun. Apa aku tidak salah dengar dia memanggilku dengan sebutan sayang, dia tidak lagi sandiwara kan. Luna malah melamun.


" Bukannya tadi kamu mau mandi?". Luna tersadar lalu ia berdiri dan pergi mandi. Jepri melihat ke arah Luna dengan senang.


*******

__ADS_1


Bersambung Jika suka tolong bantu like dan VOTE terimakasih 🤗🤗


__ADS_2