
Di kamar, Pak Jody menatap fotonya dengan istrinya dan juga Jeje yang terletak di dinding. Hatinya sakit mendengar kenyataan yang baru di dengarnya.
" Mih, kita sudah gagal mendidiknya. dia bukan malaikat kecil lagi kaya dulu, tapi dia adalah malaikat maut yang tega mengambil nyawa demi memenuhi keinginannya. Ujarnya lirih sambil menangis. Pak Judy tidak kuasa menahan sedihnya, dia menangis di kamar sendirian.
Di tempat berbeda.
Jeje membuka matanya dan melihat cahaya sudah silau. Sedikit melakukan olahraga kecil sambil meregangkan tubuhnya, merasa puas Jeje langsung pergi mandi. Setelah mandi Jeje menyalahkan ponselnya. Matanya terbelalak melihat isi pesan dari ayahnya dan juga polisi.
Jeje langsung mematikan ponselnya cepat-cepat agar polisi tidak bisa melacaknya. Jantungnya berdegup kencang rasa takut mulai menyelimuti hatinya.
Jeje kalang kabut sambil mondar-mandir. Astaga aku harus apa ini!. Jeje terus berpikir sambil melihat ke sekelilingnya. Ambil tas lalu ia cepat-cepat keluar kamar hotel. Jeje langsung cek out dari hotel lalu ia tancap gas dan pergi. Di jalan ia membuang nomor ponselnya. Sambil nyetir mobil Jeje memikirkan ingin pergi kemana.
Di tempat lain Jepri merasa bingung karena mobil yang mengikutinya tiba-tiba pergi. " Sepertinya mereka sadar kalau kita tau sedang di ikuti". Zapran hanya melihat ke belakang dan melihat mobilnya tidak ada lagi. Mereka melanjutkan perjalanan ke rumah pak Yusuf.
Sampai di rumah Pak Yusuf. Jepri turun di ikuti Sama Zapran. Pak Yusuf tersenyum melihat kedatangan Jepri dan juga Zapran.
" Apa kabar nak?". Tanya pak Yusuf sambil memeluk menantunya.
" Baik yah" Jawab Jepri sambil membalas pelukannya. Zapran tersenyum melihat kedekatan keduanya. Pak Yusuf melihat ke arah Zapran sambil tersenyum tipis.
” Zapran Om, " Zapran mengenalkan dirinya.
__ADS_1
" Yusuf, jadi ini abangnya?, ayo silahkan masuk". Jawab pak Yusuf.
Mereka masuk kedalam, lalu duduk di ruang tengah.
" Ayah, saya dan bang Zapran sudah melaporkan kasusnya ke polisi!". Kata Jepri mulai bicara panjang lebar.
” Iya, dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya!". Saut Zapran tegas.
" Kemungkinan besar Zaki pun sama di racun oleh wanita itu" Ujar Pak Yusuf.
" Apa udah terbukti ayah?". Tanya Jepri. Pak Yusuf menggelengkan kepalanya.
Dirumah.
Luna merasa suntuk ia masih kepikiran soal Mila. Luna segera ke teras mencari udara segar, disana penjaga terus memperhatikan Luna seperti kamera pengintai.
Lila menghampiri Luna yang lagi jalan-jalan di luar. Luna melihatnya.
" Lila, saya ingin ke butik, apa kamu mau menemani saya?". Lila bingung harus jawab apa.
" Kalau kamu tidak mau saya akan pergi sendiri!"..
__ADS_1
" Tapi nona, apa sebaiknya ijin tuan dulu sebelum kita pergi?". Jawab Lila sopan. Luna mengangguk sambil jalan ke dalam rumah. Lila menarik napasnya sambil mengikuti Luna dari belakang. Luna meraih ponselnya lalu menghubungi Jepri. Tidak ada jawaban.
" Lila sepertinya tuan sibuk" Ujar Luna sambil menutup teleponnya. Luna mengambil tas sama kunci butiknya.
" Nona, anda mau kemana?". Lila mulai cemas karena Luna ingin pergi.
" Apa kamu lupa tadi saya ngomong apa?". Jawab Luna sambil jalan ke luar.
" Tunggu nona, saya akan temani anda, dan kita ajak salah satu bodyguard !".
" Kamu apa-apaan sih Lila, pake ngajak orang segala, saya tidak nyaman kalau ada pria lain di dekat saya selain suami saya. Jawab Luna sambil ngambil kunci mobil. Lila merasa cemas karena Jepri masih belum bisa di hubungi.
Lila mengikuti Luna, dan di ikuti sama bodyguard nya dari belakang. Lila duduk di samping Luna sembari chat sama bodyguard nya
" Ada apa Lila, dari tadi saya perhatikan kamu gusar?". Lila melihat ke arah Luna sambil tersenyum terpaksa.
" Saya hanya cemas anda kenapa-kenapa nona!". Jawab Lila. Luna hanya tersenyum senang.
" Terimakasih Lila kamu sudah menghawatirkan saya, tapi kamu tenang saja, saya baik-baik saja oke!". Lila hanya mengangguk sambil memegangi ujung pakaiannya.
Bersambung jika suka tolong bantu like dan VOTE terimakasih 🤗.
__ADS_1