SaudaraKu Pacar KenalanKu

SaudaraKu Pacar KenalanKu
Terbukanya Aib dan Nasehat Partner


__ADS_3

Tak terasa hari mulai petang, saat itu juga sudah terdengar suara azan maghrib, Emeli sedang istirahat untuk mandi dan makan, sedangkan Elisa berjaga kasir seorang diri tak lama kemudian muncul Eny yang juga partner kasir yang sudah bertahun-tahun lamanya bekerja di toko.


"Sa, gimana? Kemarin kamu sudah ketemu Reyhan dan memberi kado itu ke dia?"


"Iya En sudah kok.."


"Terus bagaimana? Apa Reyhan suka sama kadonya Sa?"


"Aku kurang tau Sa, dia hanya bilang terimakasih dan katanya mau makai baju dan celana itu nantinya.."


"Oh gitu.. Kamu ada firasat enggak Sa pas kamu ngasih kado itu ke Reyhan?"


"Firasat? Firasat apa maksudnya En? Aku enggak ngerti.."


"Ya kan katanya orang jaman dulu kalau misal ada pacar atau teman kita yang ulang tahun tuh katanya kita enggak boleh sembarangan ngasih kado ya mitosnya sih kalau misal kita memberi kado berupa pakaian kelak hubungan kita sama pacar atau teman kita yang ulang tahun itu bakal putus.. Kamu percaya enggak Sa?"


"Justru ini yang aku harapkan En.."


"Loh emang kamu enggak ada niatan buat jadian dan nikah sama Reyhan gitu Sa?"


"Enggak ada.. Karna aku rasa Reyhan memang bukan lelaki yang ditakdirkan untuk ku En.."


"Terus kenapa dan buat apa kamu melakukan hubungan badan sama Reyhan Sa?"


"Loh kok kamu tahu masalah ini En?" Elisa langsung terkejut mendengar ucapan Eny.

__ADS_1


"Uppps.. Aku keceplosan, ya aku tahu dari seseorang Sa.. Hehehe.."


"Siapa? Apa itu Emeli En?"


"Bukan Emeli Sa.. Tapi dari partner lelaki yang enggak sengaja mendengar obrolan kamu sama Emeli waktu itu.."


"Oh ternyata gitu, ada orang yang diam-diam kepo dan suka curi-curi mendengarkan obrolan orang, enggak takut kupingnya jadi tuli apa tuh orang.."


"Ssssttt.. Kamu ngomongnya jangan keras-keras dong Sa kalau ada partner dan bos mendengar bagaimana bisa kena marah kita ngobrol kayak gini di jam kerja.."


"Ya habisnya kesal saja sama orang yang sudah menceritakan perihal aib ku ke kamu En.."


"Ya sudah lah Sa.. Aku juga enggak mungkin kok bilang-bilang masalah ini ke partner yang lain.."


"Ya semoga saja kamu bisa jaga mulut kamu En.."


"Kamu kepo banget deh En tentang masalah aku sama Reyhan.."


"Ya aku bukannya mau kepo atau ikut campur urusan kalian berdua hanya saja ya aku khawatir, khawatirnya takut kamu hamil gitu sama Reyhan.."


"Omong kosong apa yang kamu katakan barusan.. Mustahil lah aku hamil anak Reyhan.." jawabnya sedikit kesal.


"Masalahnya aku tahu Sa, kamu dan Reyhan melakukan itu pasti enggak satu dua kali saja kan? Dan dimana-mana lelaki kalau sudah pernah rasain rasa wanita itu pasti bakal nagih bakal minta kayak gituan lagi dan lagi Sa.. Kamu sadar enggak Sa kalau kamu sudah menjerumuskan diri kamu sendiri loh ke sesuatu yang enggak benar menyimpang dari agama.."


"Aku sadar En.. Bahkan tanpa kamu bicara panjang lebar pun aku tahu tindakan aku dan Reyhan memang salah dan menyimpang, tapi aku bisa apa En? Walaupun aku awalnya nolak pun dia bakal kekeuh melakukannya ke aku.. Emang dasarnya dia saja yang enggak bisa mengontrol hasratnya ke aku.."

__ADS_1


"Dimana-mana tuh kuncinya ada pada wanita Sa.. Seandainya kamu nolak diajak begituan ya dia bakal nyerah.."


"Percuma En.. Mau aku sering nolak dia pun dia tetep kok enggak pernah jera buat blangsakin aku.."


"Huh... Ya jalan satu-satunya kamu memang harus sama Reyhan Sa.. Kalau memang begitu terus.."


"Aku malah berharap dia sama Elena saja atau kalau dia enggak memilih diantara kita setidaknya dia bersama wanita yang benar-benar bisa nerima apa adanya dia.."


"Jujur ya.. Dimana-mana wanita kalau sudah enggak suci pasti bakal bertahan sama lelaki itu enggak peduli lelaki itu buruk banget perilakunya atau kasar gitu.. Tapi kamu enggak, seakan kamu itu malah merasa diri kamu enggak pantas bersama sama dia.."


"Kamu enggak akan pernah mengerti jalan fikiran ku En.. Sama.. Emeli juga gitu.."


"Ok Sa.. Aku rasa aku enggak perlu bicara panjang lebar lagi ya sama aku.. Intinya aku sebagai teman mu hanya bisa memberikan nasehat yang baik buat kamu, biar kamu enggak salah menentukan masa depan mu.. Aku minta maaf kalau aku sudah seperti ini ke kamu.."


"Kamu enggak salah En.. Aku berterimakasih karna kamu sudah peduli sama aku.. Aku hanya berfikir biarkanlah semua ini berjalan layaknya air yang mengalir.. Aku mengerti langkah apa yang harus aku ambil kedepannya En.."


"Ok aku percaya kamu sudah dewasa Sa.. Karna memang aku dan kamu lebih tua kamu usianya.. Tak peduli fisik mu kecil mungil.. Aku rasa kamu mengerti bahwa semua yang bukan milik kita memang seharusnya kita lepaskan.."


"Thanks Eny.. Kamu akhirnya mengerti.."


Obrolan mereka berlangsung selama hampir 30 menit hingga tak sadar jika Emeli sudah kembali ke meja kasirnya.


"Loh Emeli, kok kamu sudah keluar dari belakang.. Kapan keluarnya kok aku enggak lihat.."


"Hadeh.. Dasar kamunya saja Sa yang terlalu fokus ngobrol sama Eny, emang ngobrolin apa sih?"

__ADS_1


"Ceritanya nanti saja ya Mel kalau kita sudah keluar toko, kita fokus kerja dulu saja.. Masih ada waktu 2 jam kita bekerja.."


"Ya, semangat Sa.."


__ADS_2