
Ditinggal Emeli istirahat untuk makan siang, Elisa merasa kesepian tiada teman mengobrol, terkadang dia merasa mengantuk karna reaksi setelah makan memang seperti itu. Tiba-tiba saja Elisa melihat ke bagian alat tulis, nampak Reno sedang menggulung-gulung sampul coklat lembaran, sesekali Reno pun memandang Elisa. Mereka saling curi pandang satu sama lain. Terkadang saling senyam senyum. Layaknya dua sejoli yang sedang di mabuk cinta. Lagi asyiknya mereka saling tatap, dari dalam laci ponsel Elisa bergetar membuatnya sangat kaget. Buru-buru Elisa mengambil dan melihatnya. Lagi-lagi Reyhan.
"Siang, Sa.. Sudah makan siang?"
"Siang juga, sudah tadi.. Ada apa?"
"Ternyata Elena pulangnya masih sebulanan lagi Sa.."
"Oh, terus aku suruh apa?"
"Hehehe.. Judes banget sih sayang.."
"Lah ya aku suruh apa kalau dia pulangnya masih sebulan lagi.. Kok malah ngatain aku judes.."
"Ya aku nyuruh kamu biar selalu temani aku lah setiap aku lagi libur.."
"Wah.. Aku sudah seperti perempuan sewaan dong ya.. Atau kau anggap aku anjing peliharaan mu ya Reyhan.."
"Sejak kapan aku mengekang kebebasan mu Sa? Sampai kamu bisa bilang aku anggap kamu sebagai anjing peliharaan aku.."
"Kamu enggak mengekang kebebasan ku Reyhan.. Tapi apa yang kamu lakukan ke aku itu membuat aku bosan sama kamu.. Ngerti.."
"Oh ya ada 1 hal yang mau aku sampaikan ke kamu Reyhan.. Kemarin-kemarin tuh mama ku bilang ke aku, apa kamu dekati aku tuh karna kamu sudah putus sama Elena? Dan kalau misal kalian sudah putus, mama ku minta kamu untuk segera menyeriusi aku, dia nanyain ke aku kapan kamu akan datang ke rumah lagi?"
"Masalah ini ya.. Kamu bilang saja ke mama kamu, aku akan datang insyaAllah setelah lebaran Sa.."
"Ok nanti aku akan coba ngomong ke mama ku.."
"Tapi kamu enggak bilang kan kalau aku sampai sekarang ini masih sama Elena?"
__ADS_1
"Tanpa aku harus menjawab seharusnya kamu tahu lah jawabannya.."
"Setahu aku, Elisa enggak pernah mau membuat orang tuanya khawatir dan berfikiran macam-macam.. Iya kan?"
"Kalau sudah tahu ya syukur.. Syukur-syukur lagi kalau kamu beneran putus sama Elena.."
Setelah itu Elisa langsung menonaktifkan data selulernya demi menghindari suasana hati dia yang sedang membaik terus berubah jadi buruk hanya karna chat-an sama Reyhan.
Tak terasa 30 menit berlalu, Emeli pun sudah kembali dari istirahatnya.
"Hai Sa.. Kenapa? Ada apa? Kok agak cemberut mukanya..".
"Biasa lah si Reyhan.. Paling bisa membuat mood ku hancur dalam sedetik.."
"Memangnya dia kenapa lagi Sa?"
"Keterlaluan sih Sa.. Kamu screenshot chat Reyhan yang ngomong kayak gitu terus kamu kirim ke Elena saja Sa.. Biar Reyhan kena amukan si Elena.."
"Wahh.. Ide bagus tuh Mel.. Otak kamu cerdas apalagi kamu juga kan baru selesai makan ya.. Hahahaa"
Elisa langsung membuka ponsel dan mengaktifkan data seluler kemudian mengscreenshoot chat Reyhan yang barusan itu dan mengirimnya ke Elena. Selang berapa menit ada balasan dari Elena.
"Oh jadi kayak gini kelakuan kamu dan Reyhan di belakang aku.. Ok kepulangan ku akan aku percepat bahkan kamu dan Reyhan pun enggak akan ada yang tahu.." ujar Elena.
"Itu terserah kamu Len.. Kamu bilangin deh pacar kamu itu ya.. Enggak usah ganjen-ganjen lagi sama aku.. Aku kan juga sudah punya gebetan baru.." ujar Elisa.
"Oh kamu sudah punya gebetan baru.. Pantesan saja sok jual mahal sama Reyhan.. Kali ini pacar perempuan mana lagi yang kau gebet?"
"Pffftttt.. Terserah kamu mau ngomong apa.. Nanti juga kamu akan tahu sendiri, yang jelas sih dia lebih tampan dari Reyhan.. Pastinya lebih muda juga dong.. Hahaha.."
__ADS_1
"Aku bakal bilang ini ke Reyhan biar Reyhan tahu kelakuan busuk mu dan buru-buru ninggalin kamu.."
"Wow.. Aku sangat berterimakasih ya sebelumnya Len, karna ini juga yang aku mau.. Tapi aku enggak yakin Reyhan bakal ninggalin aku begitu kamu memberitahukan hal ini ke dia sih.."
"Enggak yakinnya kenapa? Jangan terlalu percaya diri seperti itu deh.. Aku tuh yang lebih awal kenal sama Reyhan jadi aku paham semua sifat dia, perilaku dia.. Dibanding kamu yang hanya pengganggu, kamu enggak selevel sama aku.."
Elisa sebenarnya ingin marah tapi dia bersabar, kali ini dia hanya perlu menunggu reaksi Reyhan setelah Elena memberitahu semua itu kepadanya.
"Sudah aku kirim Mel, tadi Elena sempat mencaci ku.. Dan dia mengancam ku, dia bakal bilang ke Reyhan kalau aku punya gebetan baru.. Aku benar-benar enggak sabar pengen tahu reaksi Reyhan seperti apa Mel.."
"Aku rasa Reyhan enggak mungkin cemburu Sa.. Justru aku pikir sih ya si Reyhan bakal makin menggila sama kamu.. Karna difikiran Reyhan mungkin kamu enggak puas main sama Reyhan terus kamu cari gebetan baru.. Alhasil dia bakal lebih kejam menjerat mu.."
"Kok kamu mikirnya sampai sejauh itu sih Mel? Kamu membuat ku takut saja Mel.."
"Maaf ya Sa.. Aku enggak ada niat buat nakutin kamu.. Karna aku pikir Reyhan itu enggak mudah dihadapi.. Dia itu lelaki paling mesum, meskipun aku hanya mengenalnya dari kamu tapi jika dibandingkan dengan lelaki kenalan-kenalan ku di dunia maya mah si Reyhan jauh lebih mesum dan enggak ada sopan-sopannya Sa sama perempuan.."
"Apa yang kamu bilang memang benar Mel.. Dia memang lelaki kurang ajar.. Tapi herannya ketika aku sedang sama dia pun aku selalu enggak bisa mengendalikan hasrat ku sendiri Mel.. Bahkan aku pasrah saja gitu diapa-apain sama dia.."
"Apa jangan-jangan kamu di pelet Sa sama dia?"
"Yang benar saja Mel? Masa sih dia tega main begituan sama aku.. Setahu aku ini murni Mel enggak ada unsur berbau ilmu hitam.. Aku yakin dia enggak mungkin melakukan hal yang bisa membahayakan dirinya atau pun orang lain.. Dan aku benar-benar yakin Mel.."
"Kalau kamu yakin Reyhan enggak main ilmu pelet ke kamu berarti dia enggak sepenuhnya brengsek dong Sa.."
"Ya.. Aku rasa juga seperti itu Mel.. Tapi dia tuh misterius Mel.. Aku enggak bisa mengenali sisi baik dan buruknya dia.."
"Mungkin itu yang dinamakan cinta Sa.. Cukup kamu lihat sisi baiknya dia saja.. Meskipun dia punya sisi buruk juga kamu harus tetap melihat sisi baiknya saja.."
"Ya enggak bisa gitu lah Mel.. Jelas-jelas aku enggak cinta sama dia juga.."
__ADS_1