SaudaraKu Pacar KenalanKu

SaudaraKu Pacar KenalanKu
Curhat ke Reno dan Emeli


__ADS_3

Disisi lain Elisa sedikit kesal dengan ucapan Mbak Marni tadi. Di sepanjang dia berjalan menuju ke meja kasir, mukanya nampak kesal. Hingga Reno pun menegurnya.


"Hai Sa? Are you Ok?"


"Enggak.. Aku sedang kesal banget Ren.." dia pun berhenti berjalan di bagian alat tulis.


"Kesal sama siapa?"


"Siapa lagi kalau bukan sama senior killer itu Ren.. Udah ya aku balik ke meja kasir.."


Seketika Reno langsung memegang tangan Elisa.


"Tunggu Sa.. Kamu lihat aku!"


Elisa pun menatap muka Reno.


"Ada apa?"


"Aku sudah pernah bilang mau seburuk apapun suasana hati kamu, kamu harus tetap tersenyum, ok?"


"Tapi kali ini.."


Belum sempat Elisa selesai berbicara, jari telunjuk Reno langsung menutup mulut Elisa.


"Aku enggak mau mendengar alasan apapun dari kamu Sa.. Please kali ini kamu patuh ya sama aku.."


Adegan mereka sangat romantis layaknya di sinetron-sinetron, tak sadar bahwa masih ada kamera CCTV yang memantau adegan mereka berdua.


"Jangan terlalu dekat Ren.. Gini-gini pasti ada yang mengawasi gerak-gerik kita secara diam-diam.. Lihatlah kamera CCTV sebelah sana.."


"Aku enggak peduli Sa.. Janji sama aku kamu bakal tersenyum dan jangan kesal lagi.."


"Iya.. Iya deh aku janji sama kamu.."


"Ok.. Sudah sana kamu balik ke kasir.."


Malam itu toko lumayan rame sehingga Elisa pun tak sempat menceritakan kejadian petang tadi di dapur ke Emeli. Hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul 20.15 WIB.


"Sa.. Lumayan rame ya malam ini.."


"Iya Mel.. Aku juga ini lagi ngitungin duit dulu.."


"Sana kamu setoran dulu Sa.. Sudah selesai belum?"

__ADS_1


"Belum, sana barang kali kamu mau setoran dulu Mel.."


"Ok, aku pergi.."


"Seharian ini benar-benar enggak ada kabar dari Reyhan.." fikir Elisa.


Tiba-tiba Emeli datang.


"Sudah selesai Sa? Kamu ditunggu bos tuh buat setoran.."


"Ya Mel.. Ini aku sudah selesai kok.. Aku kesana ya.."


Elisa pun berjalan ke meja kerja bosnya.


"Ini Pak, uang setoran saya.."


"Ok, kamu bisa kembali ke meja kasir mu Elisa.." suruh pak bosnya.


"Iya Pak.."


Elisa pun kembali ke meja kasirnya, dia langsung membereskan uang yang masih di laci kasir. Tak terasa sudah pukul 20.30 WIB. Pak bos juga sudah memberi aba-aba untuk tutup toko, segera Toto dan Adit serta Senior killer dan Eny pun menutup pintu toko.


"Alhamdulillah akhirnya pulang juga.." ujar Emeli.


"Begitu ya Sa.."


"Ya, sampai aku lupa menceritakannya padamu karna tadi toko lumayan rame.."


"Memangnya ada kejadian apa Sa?"


"Ya nanti aku ceritakan kalau kita sudah keluar toko.."


"Ok.."


Semua karyawan pun keluar toko sementara Elisa dan Emeli pun seperti biasa keluar paling akhir.


"Ya, semua hasil penjualan ini benar, uang nyata dan yang dikomputer hasilnya sama.. Kalian sudah boleh keluar.."


"Ok Pak bos kita pulang ya.."


"Ya hati-hati di jalan.." ujar Pak Bos.


Pak Bos mereka memang sangat baik dan ramah, tidak pernah marah, hanya sering menegur dan selalu perhatian sama karyawan-karyawannya. Setelah Pak Bos mengantar mereka berdua ke pintu toko. Kemudian Pak Bos mengunci dari arah dalam dan mereka melihat Reno masih duduk seorang diri menunggu jemputan dari Icha.

__ADS_1


"Kamu, masih menunggu Icha Ren?"


"Ya seperti yang pernah kamu lihat Sa.. Oh ya, aku mau dengar cerita pasal kamu kesal tadi dong.."


"Kebetulan disini ada kamu dan Emeli jadi aku akan langsung cerita saja ya.."


"Jadi intinya pas aku masuk ke kamar mandi tuh aku enggak cuma kencing doang, tapi aku juga BAB dan aku pas masuk kamar mandi juga enggak nyalakan hexos itu loh yang sejenis kipas yang ditempel di dinding.. Jadi pas aku sudah selesai kan aku keluar kamar mandi.. Eh ternyata bau busuknya keluar ke arah dapur.. Sedangkan di dapur ada Mbak Marni sama Eny Mel Ren.. Ya aku langsung kena semprot dia lah, malah aku dikata penghilang nafsu makan mereka.. Eny memang hanya diam.. Tapi Mbak Marni yang ucapannya benar-benar keterlaluan banget Mel Ren.. Begitulah ceritanya.." jelasnya panjang lebar ke Emeli dan Reno.


"Terus apa kamu merespon waktu kamu dikata menghilangkan nafsu makan mereka Sa?" tanya Reno.


"Ya jelas aku berani ngomong lah, aku bilang saja kalau aku enggak sengaja membuat mereka kehilangan nafsu makan, karna aku jujur sih emang enggak melihat ada Mbak Marni sama Eny di dapur.."


"Ya, aku tahu kamu emang enggak bersalah Sa.. Tapi kali ini kamu benar-benar teledor.." ujar Emeli.


"Ya aku tahu Mel ini salah ku.. Tapi apa sampai segitunya mereka menuduh ku menghilangkan nafsu makan mereka hanya karna ketidak sengajaan ku?"


"Harusnya enggak perlu sampai segitunya Sa.. Karna setiap orang juga punya perasaan, kalau mau mengeluarkan kata-kata juga harus dipikir dulu nantinya bakal menyakiti perasaan lawan bicara kita apa tidak.. Kalau ini sih Mbak Marni benar-benar sudah keterlaluan Sa.." ujar Reno panjang lebar.


"Ya, tapi kita enggak bisa apa-apa Reno.." tambah Emeli.


"Ya sudah lah.. Biarkan saja.. Intinya aku sudah menceritakannya sama kalian berdua.. Kedepannya aku yakin, dia bakal jadi musuh bebuyutan ku disini Mel Ren.."


"Tapi kita akan selalu berpihak padamu Sa.. Iya kan Reno?"


"Ya, apa yang dibilang Emeli benar, enggak peduli mau sejahat apapun mulut dia.."


"Thanks.. Kalian benar-benar teman baik ku.." Elisa memegang tangan Emeli dan Reno. Seketika Reno tersipu malu.


"Ahem.. Sa.. Jangan pegang tangan ya.." kebetulan Icha juga sudah sampai. Buru-buru Elisa melepas genggaman tangannya.


"Sorry Ren.. Kamu pulang geih sana.."


"Ok.. Aku pulang duluan ya.. Kalian berdua juga hati-hati ya pulangnya.."


"Pasti" jawab Elisa dan Emeli secara kompak.


"Sa.. Aku pergi ke parkiran dulu ya.."


"Apa kali ini kamu enggak minta bantuan ku untuk menemani mu Mel?"


"Boleh saja kalau kamu menawarkan diri ya aku enggak akan menolak Sa.."


Mereka pun langsung menuju tempat parkir untuk mengambil motor Emeli. 5 menit mereka keluar dan menutup gerbang. Emeli pamit pulang dan Papa Elisa pun datang.

__ADS_1


"Akhirnya hari ini benar-benar selesai.. Huh, sungguh capek hati, fikiran dan fisik ku.."


__ADS_2