SaudaraKu Pacar KenalanKu

SaudaraKu Pacar KenalanKu
Nasehat dari Reno


__ADS_3

"Sa, kamu dari tadi ditinggal aku istirahat tuh mainan ponsel terus ya.." Emeli tiba-tiba mendekat ke meja kasir Elisa setelah selesai beristirahat untuk mandi.


"Kenapa emangnya Mel?" tanya Elisa keheranan.


"Aku tadi dengar Mbak Marni lagi ngomongin kamu di gudang Sa.."


"Ngomongin apa Mel? Terus yang jadi lawan bicara dia siapa?"


"Ya siapa lagi kalau bukan si Eny, ya ngomongin kamu kerja enggak fokus cuma mainan ponsel doang.."


"Lah emang apa salahnya si Mel? Kan ya enggak ada pembeli yang bayar juga di kasir.. Toko juga nampak sedikit pembeli.. Aku bengong saja juga jenuh Mel.."


"Ya aku tahu Sa.. Tapi kamu harus berhati-hati kalau di depan Mbak Marni, bisa-bisa dia ngadu ke bos loh Sa.."


"Oh iya ya.. Kamu benar juga Mel, dia kan manusia bermulut lebih Mel.. Apa saja pasti di komplain sama dia, mentang-mentang paling senior.."


"Benar itu Sa.. Aku saja hati-hati banget kok kalau ngomong sama dia, jangan sampai nyentok hati dia takut aku tamat di tangan dia.."


"Hahaha.. Kamu takut Mel sama dia? Ditakutin apanya sih orang kayak dia itu.. Mau ngadu ke bos ya tinggal ngadu saja lah.." ucap Elisa dengan suara keras sampai para partner mengarahkan tatapannya ke Elisa saat itu.


"Ssssttt... Kamu jangan keras-keras dong Sa kalau ngomong, sampai para partner pada lihat ke arah kamu.."


"Ya habisnya aku kesal saja sih Mel sama Mbak Marni.. Sewenang-wenang sendiri.. Merasa paling tua, paling lama disini, paling mengerti keadaan toko dan barang-barang sebagainya.. Jadi merasa berkuasa banget disini.."


"Ya tapi kamu harus sabar Sa.. Jangan gegabah kayak tadi.. Kalau Mbak Marni dengar bagaimana?"


"Ya biarkan saja, biar dia tahu Mel kalau aku enggak pernah takut sama dia.."


"Hati-hati loh Sa pokoknya.." ucap Emeli sambil balik ke meja kasirnya sendiri.


Elisa terdiam, dalam hatinya dia benar-benar ingin marah, dia merasa banyak orang yang lebih menyebalkan di kehidupannya sekarang ini.

__ADS_1


"Kenapa sih aku harus berhadapan sama orang-orang yang bisa membuat ku sakit otak.." batinnya.


"Kamu kenapa Sa?" tiba-tiba Reno mengagetkan Elisa yang sedang kesal. Dia sedang menata barang di dekat kasir Elisa.


"Biasa lah Ren.. Senior menyebalkan itu.."


"Enggak usah dilayan, aku juga sudah paham watak dia seperti apa kok Sa.."


"Kalau aku diamin dia ya Ren, yang ada dia makin nglunjak loh Ren.."


"Tapi enggak semua kejahatan harus dibalas kejahatan juga Sa.."


"Ya terus aku harus gimana dong.. Mana aku emosi banget lagi.."


"Sabar ya.. Cewek cantik kalau emosian itu nanti cantiknya hilang loh.."


"Ah kamu sukanya gombal terus Ren.."


"Tapi masalahnya sabar ku juga ada batasnya Ren.."


"Yah.. Baru kayak gini aja Sa.. Kalau kamu marah, dia bakal bahagia dan dia enggak akan berhenti untuk buat kamu marah loh.."


"Ya, kamu benar Ren.. Aku harus slow, enggak boleh naik tensi darah.. Sayang kan sama tenaga ku ini.."


"Lah itu tahu.. Sekarang kalau sudah kenal aku ya kamu harus perbanyak sabar, karna aku suka cewek penyabar Sa.."


"Tunggu deh, kamu bilang kamu suka cewek penyabar?Bukan berarti kamu ada perasaan sama aku kan Ren?"


"Ya enggak lah.. Elisa ternyata orangnya sangat percaya diri banget ya.." ucapnya sambil tertawa lirih.


"Lagi-lagi kan kamu menertawakan aku.." Elisa merajuk.

__ADS_1


"Ya deh enggak-enggak, enggak berani.. Aku minta maaf.. Aku anggap kamu ya teman karna kamu lebih tua dari aku, harusnya aku panggil kamu dengan sebutan *Mbak* kan?"


"Emang aku sudah setua itu kah dimata kamu?" Elisa makin merajuk.


Reno makin suka melihat Elisa yang merajuk. Dia pun tak bisa menahan rasa sakit diperutnya karna menertawakan Elisa.


"Iya deh Sa.. Kali ini aku enggak bercanda.. Aku cuma mau lihat ekspresi muka kamu saja gitu kalau lagi cemberut.."


"Udah puas kan sekarang karna sudah melihat jeleknya muka ku kalau lagi cemberut.."


"Udah, puas banget malah.. Makanya jangan cemberut lagi ya Sa.. Jangan sampai lah muka mu kayak Mbak Marni.."


"Idih.. Amit-amit jangan sampai lah Ren.."


"Makanya banyakin senyum biar aura cantiknya makin kelihatan.."


"Apa iya? Ok aku akan berusaha senyum, tapi untuk kamu saja, gimana?" Elisa menggoda Reno.


"Kenapa buat aku saja Sa? Kalau bisa buat partner yang lain juga dong.." jawabnya santai.


"Ya enggak bisa, aku maunya sama kamu saja kok, kalau enggak mau ya sudah.."


"Hahahaha.. Merajuk lagi.. Iya deh iya.. Itu terserah kamu saja.. Yang penting kamu seneng.."


"Ya ampun Reno paling bisa buat aku nyaman kalau kayak gini mah suatu saat aku pasti bakal punya rasa sama dia.." katanya dari dalam hati.


"Kok diam? Kenapa? Melamun lagi? Nglamunin apa sih?"


"Kalau aku bilang lagi nglamunin kamu. Kamu percaya enggak?"


"Enggak.. Karna aku yakin kamu bukan cewek yang mudah jatuh ke pelukan cowok Sa.."

__ADS_1


__ADS_2