
Elisa bangun pukul 03.40 WIB dimana dia tidur sangat lelap dan saking lelapnya dia sampai tak mendengar suara alarm.
"Sa.. Bangun nak sudah mau imsak.."
"Hah? Sudah jam berapa Mah?" buru-buru Elisa beranjak dari tempat tidur dan keluar kamar menuju kamar mandi untuk cuci muka. Dilihatnya jam dinding sudah menunjukkan pukul 03.45 WIB. Buru-buru Elisa makan dan pukul 04.00 WIB pun dia sudah selesai menghabiskan makanan.
"Alhamdulillah.. Selesai sebelum waktu imsak.."
Elisa pun langsung pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Akhirnya dia pun teringat ponselnya sambil menunggu azan subun, dia pun memainkan ponselnya. Ketika azan berkumandang dia pun menyempatkan diri untuk berjamaah sholat di masjid. Sesampainya di rumah, dia pun sempatkan waktu untuk bertadarus. Setelah itu barulah dia tertidur lagi hingga alarm membangunkannya di pukul 07.45 WIB. Elisa pun siap-siap mandi dan merapikan diri. Dia pun tak lupa menyiapkan uangnya, setelah selesai seperti biasa, dia diantar oleh mamanya ke tempat kerja.
***
Rutinitas harian di tempat kerja kadang membuat Elisa jenuh, terlebih pagi itu dia harus membuka kasir pertama. Sambil menunggu pembeli sambil Elisa termenung memikirkan sesuatu sembari tangannya bergerak mengelap dan merapikan meja kasirnya.
"Hai Sa.. Pagi-pagi mukanya kok sudah murung begitu?" ucap Reno.
"Biasa lah Ren kalau ada yang dipikir mah memang begini.."
"Memangnya mikirin apa sih?"
"Kalau aku bilang mikirin kamu juga pasti kamu enggak akan percaya kan Ren?"
"Tapi enggak mungkin juga dong kalau mikirin aku.."
"Ya begitulah.. Mikir kapan aku bisa bahagia.."
"Bahagianya nanti Sa kalau sudah menikah.."
Elisa pun seketika terdiam mendengar jawaban Reno.
"Kenapa diam Sa? Aku salah ngomong ya?"
"Enggak.. Enggak salah kok.. Mungkin ada benarnya juga ya Ren.. Capek Ren kerja terus.."
"Ya kan namanya perempuan pengennya dinafkahin ya Sa.."
"Ya begitulah Ren.."
"Ya makanya cari yang serius dong Sa.."
"Enggak bisa nyari yang buat seriusan Ren.."
"Loh kenapa? Ketemunya sama yang suka main-main ya.. Hehehe.." ucap Reno sambil bercanda.
__ADS_1
"Ya begitulah.. Sebenarnya ada sih yang serius tapi mungkin belum saatnya ketemu kali ya.." jawab Elisa ragu.
"Banyak-banyak berdoa saja.. Semoga dipertemukan dengan orang yang baik Sa.."
"Aamiin.. Thanks Reno buat doanya.."
"Aku balikin lap dulu ya.. Habis ini mau merapikan barang-barang yang berantakan.. Semangat kerjanya Sa.."
"Ya Ren.. Semangat selalu.. Kamu juga.."
Setelah itu Elisa pun ikut membereskan barang-barang yang berantakan di etalase sambil mengasiri.
Hingga tak terasa sudah pukul 10.00 WIB. Emeli pun datang untuk membuka kasir.
"Hai Sa.. Sudah siang jangan beres-beres terus dong.."
"Ya habisnya mau ngapain lagi.. Mau mainan ponsel pun juga takut diintai sama bos lewat CCTV.."
"Cerita dong Sa sama aku.."
"Hari ini, adek Reyhan mau datang kesini.."
"Mau ngapain Sa?"
"Hah? Yang benar saja? Kenapa dia mau pinjam duit Sa?"
"Ya ceritanya si Reyhan itu habis kena apes Mel.. Uang dia habis jadinya dia nyuruh aku buat nolong dia.. Katanya adek dia butuh uang buat bayar arisan bulan ini.."
"Memangnya berapa nominalnya Sa?"
"Lima ratus ribu Mel.."
"What??? Itu jumlah yang lumayan banyak loh Sa.. Kamu serius mau bantu minjamin dia Sa?"
"Ya mau bagaimana lagi Mel.. Aku enggak tega.."
"Aku takutnya dia enggak bakal balikin duit kamu Sa.."
"Ya mikirnya yang positif saja lah Mel namanya hutang kan juga harus dibayar.. Kalau dia enggak mau bayar ya harus ditagih dong.."
Lagi asyik ngobrol sama Emeli tiba-tiba ponsel Elisa bergetar ada notif chat dari adek Reyhan.
"Mbak Elisa.."
__ADS_1
"Ya.. Bagaimana dek?"
"Mas Reyhan sudah bilang ke Mbak Elisa perihal uang arisan?"
"Ya dek.. Kalau kamu butuh kamu bisa datang kesini.."
"Ok Mbak.. Sebelumnya aku minta maaf kalau merepotkan Mbak Elisa.. Aku enggak tahu kalau Mas Reyhan bakal kena apes.."
"Ya enggak apa-apa dek.. Namanya manusia harus tolong menolong kan?"
"Ya Mbak.. Pokoke terimakasih banget ya Mbak.. Nanti siangan habis dhuhur aku datang kesitu Mbak.."
"Ok.. Mbak tunggu kamu disini ya dek.."
Ketika jam menunjukkan pukul 13.15 WIB. Tiba-tiba salah seorang partner bagian alat tulis datang ke dapur mencari Elisa, saat itu Elisa juga baru keluar dari toilet.
"Sa.. Ada yang cari kamu di depan.."
"Oh.. Siapa ya? Perempuan kah?"
"Ya, dia perempuan.. Buruan geih kamu samperin.."
"Ya, bilang ke dia untuk tunggu sebentar.."
"Ok" partner itu pun keluar meninggalkan Elisa yang masih di depan toilet.
Elisa pun lantas membuka kunci loker tasnya. Diambilnya uang lima ratus ribu itu dari dalam tasnya dan bergegas keluar untuk menemui adik Reyhan yang sudah menunggu lama di depan kasir Elisa.
"Dek.. Sendirian kah datangnya??" Elisa menyapa.
"Iya Mbak.. Habisnya mas Reyhan belum balik dari dinasnya.."
"Ok enggak apa-apa kok.. Ini uangnya.."
"Terimakasih ya Mbak.. Tapi aku buru-buru Mbak, harus pulang karna ada urusan yang lebih penting.."
"Its Ok.. Enggak masalah.. Hati-hati di jalan.."
"Sekali lagi terimakasih loh Mbak, nanti Mas Reyhan yang akan mengganti uangnya kalau dia sudah gajian.."
"Iya dek.."
"Ya sudah aku pamit pulang ya Mbak.." sambil membalikkan tubuhnya dan meninggalkan Elisa.
__ADS_1