SaudaraKu Pacar KenalanKu

SaudaraKu Pacar KenalanKu
Suasana Malam Takbiran


__ADS_3

Seminggu kemudian gema takbir berkumandang dimana-mana, jalanan nampak ramai banyak kendaraan berlalu lalang kesana kemari. Elisa pun hanya bisa menyaksikan pemandangan itu dari meja kasirnya.


"Ramai banget ya Sa.." ujar Emeli.


"Ya Mel.. Senang kali ya mereka bisa jalan-jalan di malam takbiran.."


"Mereka pasti rata-rata pada beli keperluan buat lebaran lah Sa.."


"Ya lah Mel.. Dari kemarin toko ini juga ramai terus kan banyak orang membeli kosmetik di toko ini, alasannya karna lebaran suasana baru, hati baru, baju baru, muka pun harus baru alias glowing.."


"Ya lah Sa.. Namanya orang pengin tampil cantik di hari lebaran.."


"Kamu sendiri enggak mau kayak mereka toh Mel?"


"Mau lah.. Tapi apalah daya kulit ku apa bisa glowing Sa?"


"Kalau kamu rutin ya pasti bisa kok Mel.. Intinya kan harus rutin.."


"Ya sih Sa.. Tapi uang ku enggak bisa ku pikirkan untuk kehidupan pribadi ku saja.. Kamu tahu lah aku masih ada adik yang masih butuh pendidikan.."


"Ya aku tahu kok Mel.. Enggak usah sedih.. Kali saja malam ini kita bisa dapat gaji dan bonusan THR dari Bos.."


"Ya semoga saja ya Sa.. Kita sama-sama berdoa.."


"Ya pastinya.."


Mereka layaknya saudara sering berbagi hal apa saja. Sering bertukar pikir kadang juga sering ngambek-ngambekan layaknya anak kecil. Ya namanya berteman pasti selalu saja ada konflik kecil. Namun pada akhirnya mereka akan selalu berbaikan lagi dan bagi mereka yang sudah lewat ya sudah tidak perlu dibahas apalagi dipikirkan.


Tak terasa jam di komputer Elisa menunjukkan pukul 21.45 WIB namun toko tak kunjung tutup karna masih ada beberapa pembeli yang masuk ke dalam toko untuk membeli keperluan mereka.


"Lamanya lah.. Aku sudah pengin pulang.." ujar Emeli.


"Sabar Mel.. Besok kan lebaran.. Libur lebaran juga beberapa hari.. Jadi nanti kamu pasti bakal kangen sama aku deh.."


"Halah.. Kangen kayak orang pacaran saja Sa.. Kamu mah kadang ngeselin kali.."


"Hahaha.. Ya lah.. Maaf ya.. Kan ini sudah masuk lebaran jadi kalau aku ada salah ya aku minta maaf Mel.."


"Iya Sa.. Aku juga ya.."


"Ok kita jadi 0-0 ya skornya.." ujar Elisa.


"Ya.." jawab Emeli.


Tiba-tiba saja datang pembeli untuk membayar di kasir Emeli. Dan Elisa pun mulai mengemasi uang hasil penjualan hari ini untuk disetorkan ke bos. Setelah selesai transaksi kemudian bos memberikan aba-aba kepada karyawan lelaki untuk menutup gerbang toko karna jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB.


"Akhirnya selesai juga hari ini.." ujar Emeli dan Elisa bernafas lega.


Kemudian mereka langsung menuju ke meja bos. Setelah menghitung seluruh uang hasil penjualan hari ini kemudian bos memberikan sebuah bingkisan kepada karyawan dan karyawati. Baik itu tukang masak, maupun pelayan dan kasir yang bekerja di toko itu. Setelah selesai membagikan bingkisan lebaran, mereka pun satu persatu keluar dari toko termasuk Elisa dan Emeli.


"Isi bingkisannya apa ya Sa kira-kira?" tanya Emeli.

__ADS_1


"Mungkin jajanan lebaran Mel.."


"Coba aku buka bingkisannya ya.."


"Wah benar juga Sa.. Isinya jajanan lebaran.."


"Ya lah.. Momen lebaran mau apa lagi yang bakal dikasih ke kita kalau bukan jajan lebaran Mel?"


"Ya kali saja dapat baju gamis cantik gitu.. Hehehehe.."


"Ah kamu ada-ada saja Mel.. Mana mungkin.. Kan ukuran tubuh antara karyawan 1 dengan yang lainnya berbeda Mel.."


"Benar juga sih.. Jadi enggak mungkin kan ya Sa.."


"Kalian belum pada pulang?" tiba-tiba saja suara Reno mengagetkan mereka.


"Ah kamu Ren.. Bikin kaget saja.." ujar Emeli.


"Kamu sendiri belum dijemput sama teman kamu Ren?" tanya Elisa.


"Belum nih.. Mungkin macet kali ya jalanan ramai sih.."


"Ya bisa jadi sih Ren.."


"Berhubung ada Reno.. Maka aku pamit pulang ya Sa.."


"Oh ya sudah enggak apa-apa Mel.. Kamu hati-hati di jalan ya.."


"Bye juga.." ujar Elisa dan Reno dengan kompak.


Tiba-tiba saja obrolan mereka mengarah pada acara reuni.


"Libur beberapa hari rencana mau kemana Sa?"


"Aku enggak tahu.. Paling cuma kumpul sama keluarga saja Ren.. Ya silaturahim gitu.."


"Hah.. Sama lah.. Malah mungkin aku bakal banyak tidurnya.."


"Kamu ngrasa capek banget ya Ren kerja dibagian alat tulis?"


"Ya Sa.. Banget capeknya.."


"Ok enggak masalah asal kamu enggak lupa untuk jemput aku dan antar aku pergi ke acara reuni.."


"Aku enggak akan lupa lah Sa.."


"Kalau lupa maka aku enggak mau kenal kamu lagi.."


"Ok.."


Obrolan mereka tiba-tiba berhenti ketika teman Reno datang untuk menjemput Reno.

__ADS_1


"Dia sudah datang.. Aku pergi dulu enggak apa-apa kan Sa?"


"Ya.. Enggak apa-apa.. Nanti papa ku juga sebentar lagi pasti datang kok.. Pergi lah Ren.."


"Ok.. Kamu hati-hati ya Sa.."


"Siap.."


Reno pun mulai naik dan membonceng temannya sambil mengklakson motor dan pergi meninggalkan Elisa seorang diri didepan toko.


Elisa pun dari tadi tidak sempat membuka ponselnya. Ternyata ada notif chat dari Reyhan.


"Sa.. Malam takbiran kemana?"


"Enggak kemana-mana.. Kenapa?"


Tapi pesan balasan Elisa ke Reyhan hanya ceklis satu.


"Aku tahu kamu pasti pergi jalan bareng sama Elena Han.." batin Elisa dari dalam hati.


Akhirnya papa Elisa pun datang dan segera Elisa naik membonceng menuju arah pulang. Benar saja suasana malam takbiran malam itu benar-benar sangat ramai sampai jalanan terlihat macet.


"Jika seandainya aku dan Reyhan pergi jalan bareng.." batin Elisa sembari berkhayalan yang kemudian dia tersadar.


"Sejak kapan aku punya perasaan khusus untuk Reyhan? Apa yang salah dengan diriku? Kenapa tiba-tiba ingin sekali diprioritaskan sama dia.. Sadarlah Sa.. Reyhan bukan milikmu.."


Suasana hati Elisa sangat kacau walau dia sedang membonceng motor. Dia pun sempat melihat dua sejoli yang sedang berboncengan motor dengan berpelukan sangat mesra.


"Ah bikin iri saja.." ujarnya dari dalam hati.


15 menit kemudian akhirnya mereka sampai di rumah. Elisa langsung membuka pintu mengucap salam sembari papanya menyusul masuk menuntun motor.


Elisa langsung bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri sebelum masuk ke dalam kamar. Dilihatnya mamanya sedang sibuk memasak opor ayam di dapur.


"Sudah pulang nak.. Sini nyicipin opor ayam buatan mama apa ada kurang rasa asin atau bagaimana.."


Elisa pun datang menghampiri mamanya di dapur. Dicicipinya opor ayam itu dan menurut lidah Elisa memang sudah pas rasa asinnya.


"Sudah ok lah Mah.. Enggak terlalu asin.."


"Kamu kelihatan capek banget Sa.."


"Ya Mah.. Toko tutup terlalu malam jadi jam segini sudah terasa ngantuk.. Ini tadi Elisa dapat bingkisan dari bos.. Nanti masukin ke dalam toples ya Mah.."


"Ya sayang.. Kamu istirahatlah biar besok bisa bangun pagi dan bisa sholat Ied.."


"Ok Mama.. Selamat Malam Mah.."


"Ya, selamat malam juga sayang.."


Elisa pun pergi meninggalkan mamanya dan menuju ke kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya di kasur empuk. Dilihatnya jam dinding sudah menunjukkan pukul 21.50 WIB. Namun chat dia ke Reyhan masih belum terkirim. Akhirnya Elisa pun mematikan lampu dan berusaha tidur dengan nyenyak malam itu.

__ADS_1


__ADS_2