
Hari itu hari senin, hari piket Elisa mengepel lantai. Jadi Emeli yang bertugas membuka kasir lebih awal.
"Semangat ngepelnya cinta.." kata Emeli menyemangati Elisa.
"Kamu juga semangat ngasirnya ya.."
"Pasti dong Sa.. Cepat-cepat selesaikan ya biar kita bisa duduk bareng disini dan ngobrol-ngobrol.."
"Ok Siap.. Aku jadi Ijah dulu ya.."
"Hahahaa.." Serempak mereka tertawa.
Ya karna nama Ijah sering dipakai di sinetron-sinetron sebagai seorang asisten rumah tangga. Jadi mereka memakai lelucon Ijah untuk bercanda. Ketika semua lantai sudah selesai dipel kemudian Elisa menuju ke tempat bagian alat tulis.
"Permisi, aku mau pel dulu ya lantainya.."
"Silahkan Mbak Cantik.." ucap salah seorang partner yang kebetulan juga masih baru bekerja disitu.
"Ok.."
Elisa pun mengepel lantai dengan serius tiba-tiba saja.
"Woy.. Ngepelnya yang bersih.. Haha.." Ujar si Toto mulai iseng.
"Muka kamu mau sekalian aku pel pow?" Balas Elisa bercanda.
"Enak aja.. Muka kamu saja sana.." Balasnya.
"Eh Toto enggak sopan ngomong kayak gitu ke cewek tahu.." Ujar si Reno membela Elisa.
"Kenapa kamu belain Elisa? Kamu suka sama dia.. Hahaha.." Toto tertawa dan Adik Emeli juga ikut senyam senyum. Sementara partner baru hanya diam dan mendengarkan.
"Sudah lah Ren.. Maklum saja kalau Toto berbicara kayak gitu, pacar dia kan cowok bukan cewek.." Sindir kasar Elisa pun keluar.
__ADS_1
"Oh iya ya Sa.. Kamu benar juga.." Ucapnya sambil terkekeh.
"Awas saja kalian.. Benar-benar menyebalkan.." Ucap Si Toto dengan kesal dan pergi ke gudang.
"Pada akhirnya dia kalah kan Dit?" tanyanya kepada adik Emeli.
"Ya si Toto kadang suka gitu mulutnya Sa.." Balasnya.
"Enggak usah dimasukkan ke hati ya Sa.." Ujar Reno.
"Ya bener tuh Sa.." tambah Adit.
"Ya enggak lah.. Masukin ke perut saja terus keluarin lewat anus aja deh.." ujar Elisa sembari sedikit tertawa.
"Hahaha.. Kotoran dong.." Mereka semua yang dibagian alat tulis pun tertawa riuh hingga mereka tak sadar kalau pak bos mereka sedang mengamati mereka dari layar monitor kamera CCTV di meja kerjanya.
"Bagian sana ada apa ya? Kenapa ramai kayak pasar? Sini bantuin Toto di gudang banyak barang datang jangan hanya tertawa-tertawa saja.." Ujar Mbak Marni sedikit emosi dari dalam gudang.
"Udah buruan sana Adit sama Reno pergi ke gudang bantuin Toto.."
Sementara Elisa melanjutkan mengepelnya yang hampir selesai. Tiba-tiba karyawan baru berkata.
"Mbak cantik, mbak Marni galak ya mbak.. Orang gitu aja kok marah.. Pak bos juga cuma diam saja kok.."
"Biarkan saja lah War.. Emang sudah watak dia seperti itu.. Kamu beresin barang-barang saja jangan sampai kena semprot dia loh War.. Hati-hati.."
"Ok siap mbak.."
Elisa pun meletakkan ember sekaligus alat pel itu ke kamar mandi dan mencucinya. Setelah itu dia keluar dan kembali ke bagian alat tulis.
"Kamu mau apa disini? Sana ke kasir saja.." Pinta Toto dengan sedikit masih kesal.
"Huh.. Aneh.. Orang suka mbully pas gantian di bully malahan emosi.." ujar Elisa pergi meninggalkan bagian alat tulis dan memilih menata barang dibagian lain.
__ADS_1
Tak terasa sudah pukul 10.00 WIB. Elisa pun menuju meja kasir bersiap membuka kasir.
"Sa.. Kenapa lagi sama si Toto?"
"Biasa.. Dia mah kayak orang gila, suka mbully pas gantian dibully sendiri malahan marah-marah enggak jelas.." jawab Elisa sedikit kesal.
"Hahaha.. Dia memang seperti itu Sa.. Enggak usah dipikirin lah Sa.."
"Aku enggak mau memikirkan orang yang sama sekali enggak penting buat ku Mel.."
"Bagus.. Begitu baru benar.."
"Tadi mbak Marni juga sewot tuh pas aku dan partner pada tertawa.."
"Ya habisnya suara kalian semua terdengar sampai ke semua penjuru arah Sa.. Jadi wajar saja kalau dia sewot, mbak Marni kan emang enggak suka suasana kerja yang bising.."
"Apa ya Mel?"
"Ya, tapi kalau dia sendiri yang menciptakan kebisingan itu malah bangga banget kayaknya.. Ya lah mana ada yang berani memarahi dia pas dia lagi tertawa.."
"Egois dong ya Mel namanya.."
"Ya bisa dibilang begitu Sa.."
Tiba-tiba saja Mbak Marni datang menaruh barang di kasir Emeli.
"Kalau kerja itu ya fokus kerja, jangan tertawa keras-keras memangnya ini toko, tokonya simbah mu?" Ujarnya sekaligus menatap sinis ke arah Elisa dan pergi dari kasir.
"Menyebalkan.." ujar Elisa sedikit menahan amarah.
Suasana hati Elisa yang baik pagi itu telah sirna sudah, dan berubah menjadi emosi.
"Sabar ya Sa.. Biarkan saja dia menggonggong layaknya anjing.."
__ADS_1
"Ya, dia memang anjing liar yang siap menggigit siapa saja yang berusaha mengganggunya.."