
Sementara Elisa mengarahkan pandangannya ke arah Reno, dari jauh muka Reno nampak kesal.
"Hadeh.. Jangan-jangan dari tadi Reno memperhatikan aku pula.. Aku tahu banget dia pasti kesal sama aku karna melayani mereka berdua sampai mau ribut.. Aku enggak menuruti ucapan Reno.. Hadeh gimana ini?" Pikir dari dalam otak Elisa.
"Sa.. Kamu kenapa mukanya kok gugup gitu?"
"Eh.. Enggak apa-apa kok Mel.."
"Sudah mau pulang, berhitung uang dulu Sa biar enggak kalang kabut nanti..".
"Oh iya Mel, hampir aku lupa kalau sekarang sudah pukul 20.05 WIB.."
"Ok aku mau setoran dulu ya Sa.."
"Ok Mel.."
Elisa pun menghitung uang yang didapatkannya hari ini untuk disetorkan ke bosnya. Setelah selesai menghitung Emeli pun balik ke kasir dan gantian Elisa yang menghadap ke bosnya. Elisa melewati bagian alat tulis, nampak Reno yang masih duduk sambil menggulung kertas sampul coklat lembaran. Reno pun cuek melihat Elisa. Elisa merasa makin tak enak hati, takut Reno ngambek dan membatalkan untuk pergi ke acara reuni nanti. Elisa pun sampai di meja bosnya, tiba-tiba saja bosnya bertanya.
"Elisa, 2 perempuan tadi yang di kasir kamu itu siapa?"
"Oh itu ya bos, mereka teman Emeli bos.. Kenapa pak bos?"
"Hemm.. Enggak apa-apa kalau kalian sedang ada masalah jangan sampai dibawa ke lingkungan kerja ya Elisa.."
"Ya bos, saya mengerti.." ujar Elisa.
"Ya sudah kamu bisa kembali ke meja kasir kamu.."
"Ok bos.." Elisa pun meninggalkan meja bosnya dan balik ke meja kasir. Sementara Reno masih saja cuek pada Elisa.
30 menit kemudian toko pun tutup. Elisa dan Emeli bergegas membereskan sisa uang di laci kasir yang tinggal sedikit. Mereka buru-buru karna dipikiran Elisa hanya ada Reno. Ya, Elisa ingin menanyakan secara langsung ke Reno, tidak melalui chat WA.
"Aku sudah selesai berhitung Mel.. Aku duluan ya.."
"Wah.. Lajunya kau menghitung Sa.."
Elisa pun hanya tersenyum dan meninggalkan Emeli.
Setelah itu Elisa balik lagi ke meja kasir Emeli.
"Masih banyak kah Mel?"
"Ya nih tinggal uang koin, kamu bisa bantu aku Sa.."
"Bisa banget dong.."
Elisa pun membantu Emeli membereskan uang-uang koin. 5 menit selesai. Mereka pun menghadap pak bos mereka dan mengambil barang bawaan yang disimpan didalam loker.
"Ya, hitungan kalian hari ini benar sama seperti yang ada di komputer.. Kalian bisa pulang.."
"Baik pak bos.." ucap mereka dengan kompak.
__ADS_1
Pak bos pun membukakakan pintu untuk mereka.
"Kalian pulangnya hati-hati ya.."
"Ya pak bos.." jawabnya kompak lagi.
Pak bos pun langsung mengunci pintu dari dalam. Elisa dan Emeli berjalan menuju area parkir.
"Mel.. Tadi pak bos sempat tanya ke aku tentang Elena dan Ocha?"
"What? Terus apa pak bos curiga Sa?"
"Sepertinya begitu soalnya tadi pak bos sampai bilang begini.. Kalau kalian sedang ada masalah jangan sampai dibawa ke lingkungan kerja.."
"Kok bos bisa tahu sih Sa.. Heran deh.."
"Mungkin ada karyawan lain yang lihat dan mengadu ke bos kali Mel.."
"Hem.. Bisa jadi sih seperti itu Sa.."
"Sudah ya kamu jangan mikir yang aneh-aneh Sa.. Dan jangan seperti tadi ya.. Soalnya aku enggak mau aku ikutan ditegur gara-gara sikap gegabah mu itu.." tambah Emeli.
"Hehehe.. Ya enggak lah Mel.."
Ketika mereka hampir sampai di depan gerbang parkir, nampak Reno sedang duduk sendirian, sepertinya sedang menunggu jemputan Icha.
"Reno.. Aku pikir kamu sudah pulang.. Kenapa duduknya disini?" tanya Elisa.
"Iya biasanya kamu duduk di depan toko.." tambah Emeli.
"Reno merespon pertanyaan ku, mungkin dia sudah enggak kesal lagi sama aku.." pikir Elisa.
"Ya udah Sa.. Aku masuk ke dalam ambil motor dulu ya.." ujar Emeli.
Elisa pun kemudian duduk di samping Reno dan mulai bertanya ke Reno.
"Ren.. Kamu kenapa sih? Sikap kamu beda banget.."
"Tanpa aku harus jelasin harusnya kamu sudah tahu Sa.."
"Aku tahu, kamu pasti kesal sama aku kan Ren?"
"Kenapa Sa? Kamu enggak mau dengar saran aku?"
"Aku minta maaf Reno, bukannya aku enggak mau dengar saran kamu.. Tapi aku benar-benar kesal sama mereka.." Elisa pun menitikkan air mata.
Reno yang mendengar nada suara Elisa berubah pun langsung menoleh ke arah Elisa.
"Hei.. Kamu kenapa Sa? Kenapa kamu menangis?" tanyanya sembari mengusap air mata Elisa.
"Aku sakit Reno.. Aku sakit.."
__ADS_1
"Kamu sakit karna ucapan mereka atau kamu sakit karna sikap aku Sa?"
"Ya aku sakit karna kedua-duanya.. Bahkan dicuekin kamu tuh lebih sakit Ren.."
"Aku minta maaf Sa.. Aku enggak ada maksud nyuekin kamu, tapi aku hanya ingin kamu berubah sedikit lebih dewasa.."
"Tapi kenyataannya aku seperti ini Reno.."
"Ya aku tahu, aku bener-bener minta maaf.. Kamu jangan menangis lagi ya.." Reno meminta maaf dan ingin memeluk Elisa, tapi Reno sadar kalau Elisa bukan siapa-siapanya, terlebih takut Emeli melihat dan terjadi kesalahpahaman.
"Ya aku maafin kamu.. Tapi kamu harus janji Ren jangan lakuin ini lagi ke aku.."
"Enggak akan Sa.."
"Loh Sa.. Kamu menangis?" Emeli tiba-tiba muncul.
"Enggak apa-apa kok Mel.. Elisa hanya kesal sama Elena.. Salah ku juga harusnya aku tak menanyakan hal ini ke Elisa langsung kalau kenyataannya akan menyakiti perasaannya hingga menangis.." ujar Reno sedikit berbohong.
"Aduh Sa.. Kamu jangan nangis dong kasihan Reno nanti semakin bersalah sama kamu.. Sudah ya Sa lupakan apa yang terjadi hari ini.. Ok.."
"Thanks Mel, Ren.. Kalian memang partner terbaik ku.."
"Sama-sama Sa.. Ya udah ya Sa aku pulang dulu.." ujar Emeli.
"Ya Mel.. Hati-hati di jalan.."
"Ok Sa.. Yok Ren aku duluan ya.."
"Ya Mel.. Hati-hati.." ujar Reno.
Emeli pun berlalu meninggalkan Reno dan Elisa.
"Sa.. Apa yang dibilang Emeli ada benernya, lupakan apa yang terjadi hari ini.. Ok.."
"Ya Ren.."
"Aku percaya kamu perempuan baik-baik Sa.."
"Terimakasih atas kepercayaan mu ke aku Ren.." Elisa menoleh ke arah Reno sambil tersenyum.
"Aku suka dengan kamu yang tersenyum seperti ini Sa.."
Elisa langsung tersipu malu dan mengalihkan topik pembicaraan.
"Sudah malam loh, Icha belum datang juga Ren?"
"Hah, dia sudah terbiasa membuat ku menunggu terlalu lama Sa.."
"Ya.. Kamu kan penyabar Ren.. Oh ya, pacar kamu tahu enggak kalau kita berteman?"
"Ya tahu, memangnya kenapa Sa?"
__ADS_1
"Enggak apa-apa sih.. Apa dia cemburu Ren?"
"Ya jelas enggak dong Sa.."