
Setelah selesai makan, Elisa kembali ke tempat kerjanya dengan muka sedikit kecewa lantas Emeli pun menegurnya.
"Sa.. Ada apa dengan mu? Kenapa mukanya masam begitu?"
"Inilah reaksi muka ku jika sudah kecewa akan perilaku seseorang Mel.."
"Siapa yang sudah membuat mu kecewa Sa?"
"Apa kamu ingat obrolan kita kemarin perihal Eny yang mengetahui tentang hubungan ku dengan Reyhan?"
"Ya aku ingat.. Terus siapa orang yang sudah membeberkan aib mu Sa?"
"Dia rupanya Toto, seorang lelaki yang di depan ku terlihat baik dan peduli padaku tapi ternyata dibelakang ku dia menusuk ku.. Dia sudah ku anggap seperti kakak tapi dia malah buat aku kecewa Mel.."
"Aku benar-benar enggak menyangka jika Toto akan melakukan itu pada mu Sa.."
"Aku pikir semua orang yang ada disini benar-benar baik padaku.. Rupanya mereka tak sama dengan yang ku fikirkan.." ujar Elisa dengan penuh rasa kecewa.
"Itulah alasan kenapa aku meminta mu untuk tidak terlalu terbuka atau blak-blakan ke mereka Sa.. Sudah ya enggak usah diperpanjang, pura-pura enggak tahu saja Sa.."
"Ya Mel.. Aku berharap kamu tidak akan sama seperti mereka.."
__ADS_1
"InsyaAllah aku enggak seperti itu Sa.."
Kemudian Emeli menghampiri Elisa dan memeluk Elisa. Dimata Emeli, Elisa itu seperti seorang kakak yang bisa diajak untuk bertukar pikir hal apa saja. Elisa selalu berbagi makanan ke Emeli. Pun sebaliknya, Emeli selalu berpihak ke Elisa dibanding ke Elena meskipun Elena dulunya adalah teman sepermainan Emeli waktu masih duduk di bangku sekolah. Akhirnya Emeli kembali duduk setelah memeluk Elisa sebentar.
Elisa juga nampak sedang melihat-lihat story teman-temannya, tiba-tiba saja dia dikejutkan postingan story dari Elena yang seperti menyindir dirinya.
"Ya mbak, rambut mu memang panjang lurus tapi tubuhku lebih semok dibanding dengan tubuh mu.."
Sontak saja Elisa tersenyum setelah membaca story Elena itu. Kemudian dia membalas story Elena.
"Semoga kelak rambut mu bisa secantik rambut ku ya dek.."
"Jangan tersindir ya.." balas Elena ke Elisa.
"Itu karna kamu yang kegatelan sih.. Aku tahu kamu sudah enggak berhubungan sama Reyhan, jadi jangan memprovokasi ku.."
"Siapa juga yang lagi memprovokasi? Kan memang buktinya seperti itu dek.."
"Maksud kamu, kalian masih sering chat diam-diam dibelakang aku dan masih sering ketemu juga, iya??"
"Pacar kamu memang masih sering chat aku, masih sering ngajakin ketemu juga.. Tapi aku tolak tuh.. Soalnya aku takut ada singa yang bakal mengamuk.."
__ADS_1
"Pada akhirnya aku juga kan yang tersakiti.."
"Elena, kalau kamu enggak mau hati mu terbakar, jangan berani menyulut api, Ok.. Lebih baik kamu nasehatin pacar kamu lagi ya.."
Setelah itu Elena tak membalas chat Elisa lagi. Elisa pun lanjut bekerja. Tiba-tiba ada notif chat dari Reyhan.
"Sa, kamu bilang apa ke Elena?"
"Kenapa lagi? Emang aku salah kalau bilang seperti itu ke dia Han?"
"Ya tapi kamu enggak harus gitu dong Sa.. Kamu enggak bisa sembunyikan hubungan kita di depan Elena apa?"
"Enggak bisa.. Karna bagaimana pun dia saudara aku loh, ya meskipun jujur itu menyakitkan, akan lebih sakit lagi kalau tidak jujur.. Benar tidak?"
"Ya masalahnya Elena jadi marah-marah sama aku Sa pas tahu aku masih sering komunikasi sama kamu.."
"Itu bukan urusan aku.. Dan enggak ada hubungannya sama aku.. Kalau dia marah ke kamu berarti tandanya dia pengen kamu tuh berubah.."
"Enggak bisa Sa.. Atas apa yang sudah aku lakuin ke kamu, aku enggak semudah itu lepasin kamu.."
"Terserah kamu.. Sudah ya aku sibuk.."
__ADS_1
Lagi-lagi hati Elisa terasa sesak saat mendengar bahwa Reyhan enggak akan pernah bisa melepaskannya. Dan lagi-lagi dia harus menghadapi Elena yang sangat labil itu. Elisa capek setiap saat harus bermain sindir menyindir dengan Elena di media sosial. Capek juga harus mempeributkan Reyhan yang jelas-jelas Elisa pun tak mencintainya.