SaudaraKu Pacar KenalanKu

SaudaraKu Pacar KenalanKu
Kegundahan Elisa


__ADS_3

Esok paginya, ditempat kerja Elisa. Hari itu hari Selasa, dimana jadwal piket Emeli menjadi Ijah.


"Gantian ya, sekarang kamu yang jadi Ijah.." ujar Elisa meledek ke Emeli.


"Hehehe.. Iya nih tukar posisi sama kamu ya Sa.."


"Semangat mengepel.."


"Ya, kamu juga semangat ngasir, jangan ngantuk ya.. Hahaha.."


"Enggak dong Mel.. Nanti kalau ngantuk ya beli kopi dong.."


"Betul betul betul.." jawab Emeli.


Elisa pun bersiap membuka kasir. Tiba-tiba datang Reno dan Toto mengelap kaca etalase.


"Permisi tante cantik, aku lap bagian sini dulu ya.."


"Oh ok silahkan.. Eh tunggu, kenapa kamu manggilnya aku tante cantik Ren?"


"Ya enggak apa-apa sih.. Kamu keberatan ya Sa?"


"Ya lah tua banget, emang aku sudah setua itu ya sampai dipanggil tante?"


"Hehehe.. Ya enggak lah.. Aku cuma bercanda kok.. Jangan dimasukkin ke hati dong Sa.."


"Ya ya.."


"Elisa sama Reno udah kayak orang pacaran aja sih.." ujar Toto mengganggu mereka.


"Terus kenapa? Kamu jealous gitu?" ujar Elisa.


"Ih sorry.. Ngapain jealous.. Sadar Sa kamu tuh sudah punya Reyhan masa iya sih kamu mau pacaran sama brondong kayak Reno.."

__ADS_1


"Tolong ya, enggak usah bawa-bawa nama Reyhan, memangnya kamu tahu apa sih tentang aku sama Reyhan?" ujar Elisa sedikit kesal ke Toto.


"Ya tahu dikit-dikit sih.. Bahkan aku juga bisa membantu kalau kamu butuh bantuan Sa.." ujar Toto.


"Ya, tapi sayangnya aku lagi enggak butuh bantuan kamu To.."


"Ya sekarang enggak, lihat saja nanti.."


"Sudah sudah, masih pagi ributin apa sih kalian.. Berantem mulu kayak kucing sama anjing saja.."


"Toto duluan tuh Ren yang mulai.. Sukanya sok tahu.."


"Sudah To, kamu tuh cowok malu lah ribut sama cewek.."


"Iya iya enggak Ren.." ujar Toto.


"Ayok pindah ngelap ke bagian sana.." pinta Reno ke Toto.


"Heran banget aku sama si Toto tiap kali dia bertatap muka sama aku selalu saja dia bahas-bahas tentang Reyhan.. Sok tahu.. Menyebalkan sekali.. Bahkan aku sendiri pun tidak pernah ada perasaan cinta atau sayang ke Reyhan.." batinnya yang masih kesal dengan Toto.


"Sa? Are you Ok?" sapa Emeli yang melihat raut muka Elisa nampak kesal.


"Aku Ok.. Hanya saja tadi aku sempat debat sama Toto Mel.."


"Masalah apalagi Sa?"


"Biasa.. Dia sebut-sebut nama Reyhan didepan Reno.."


"Wah.. Itu mah dia jealous Sa kamu dekat sama Reno.." jawabnya sambil fokul mengepel lantai.


"Ya aku pun tahu.. Tapi dia pura-pura enggak jealous.."


"Aku lanjut ke bagian sana dulu ya Sa.. Nanti kita sambung lagi.."

__ADS_1


"Ya, kamu selesaikan dulu pekerjaan kamu Mel.."


"Ok siap.."


"Hei Sa.. Kamu enggak kesal kan sama ucapan Toto barusan.." tanya Reno.


"Kesal banget.." jawabnya.


"Hahaha.. Toto emang suka bikin orang naik tensi Sa.. Kamu jangan pikirkan dia ya.. Fokus kerja.. Semangat.." ucapnya sambil tersenyum.


"Ya.. Thanks.. Kamu juga Ren.." jawab Elisa sambil tersenyum juga.


Entah mengapa hati Elisa jadi merasa lebih tenang saat melihat Reno tersenyum. Terlebih lagi dia ingat saat Reno bilang agar dia tidak mudah memasang muka cemberut dan harus selalu tersenyum ke siapa pun.


Ponsel Elisa pun bergetar tanda ada notif chat. Dia langsung membukanya.


"Sa.. Hari ini sepertinya Elena akan pulang.."


"Reyhan? Untuk apa dia memberitahuku tentang kepulangan Elena? Apa yang akan Elena perbuat?" batin Elisa dari dalam hati.


"Aku enggak peduli dia mau pulang atau enggak.. Bagus juga sih kalau dia pulang, tandanya kamu enggak bisa genit-genit ke aku.." balas Elisa ke Reyhan.


"Hehehe.. Sebegitu enggak sukanya kah kamu sama aku Sa? Mau aku jalan sama Elena pun dipikiran aku tetap ada kamu.."


Membaca chat Reyhan seperti itu pun muka Elisa berubah menjadi merah karna tersipu malu, jantungnya pun berdegup kencang, Elisa tak sadar kalau dari jauh Reno sedang memperhatikannya.


"Elisa kenapa ya? Kenapa raut mukanya selalu berubah setiap waktu? Apa dia sedang ada masalah?" Pikir Reno.


"Kenapa juga jantung aku berdegup kencang.. Enggak mungkin kan aku suka sama Reyhan.." kata Elisa lirih.


"Ah, peduli apa sih aku sama dia, dia pun tidak pernah peduli tentang perasaan ku, dari awal hubungan kita hanya kesalah pahaman, dan dari dulu aku mencoba lari dari jeratan dia, tapi selalu gagal, lagi lagi aku harus menuruti kemauan dia yang mesum itu, lagi lagi aku jatuh dalam pelukannya, lagi lagi kita bercumbu mesra, lagi lagi hati aku yang sakit.. Sampai kapan Tuhan?" batin Elisa yang matanya mulai berkaca karna tak sanggup dengan keadaan ini.


"Raut muka Elisa berubah lagi.. Sebenarnya apa yang dia pikirkan, bukankah tadi sudah membaik ketika ku berikan penyemangatan dan senyuman.." batin Reno karna cemas memikirkan Elisa.

__ADS_1


__ADS_2