SaudaraKu Pacar KenalanKu

SaudaraKu Pacar KenalanKu
Makan Sore bareng Reno


__ADS_3

"Aku enggak mudah jatuh ke pelukan cowok? Kenapa kamu bisa ngomong gitu Ren?"


"Ya karna kamu tuh cewek mandiri jadi enggak gampang gitu ditaklukin sama cowok, apalagi kalau cowoknya kayak aku.." ujar Reno.


"Emang kamu kenapa? Menurut aku tuh kamu baik sih, tampan, pinter gombal pula.. Jadi mana ada sih cewek yang enggak langsung klepek-klepek kalau kenal kamu.." puji Elisa ke Reno.


"Apa difikiran mu ke aku seperti itu Sa?"


"Iya.. Memangnya kenapa Ren?"


"Apa kamu juga bakal klepek-klepek sama aku gitu?" tanyanya sambil bercanda.


"Pffftttt.. Bukannya kamu tadi bilang kalau aku cewek mandiri yang enggak mudah ditaklukin sama cowok? Jadi aku enggak mungkin klepek-klepek dong Ren sama kamu.."


"Yakin nih Sa? Awas aja kalau suatu saat punya rasa sama aku ya.." ancamnya sambil bercanda.


"Ok.. Aku akan pastikan kalau kita hanya teman biasa saja Ren.." jawab Elisa dengan mantap.


"Ok lah aku percaya sama kamu Sa.."


"Oh ya, kamu disitu lagi apa sih?"


"Lagi bersih-bersih barang di etalase lah.. Sambil nambahin stok barang apa lagi yang kosong gitu.. Kenapa emangnya Sa?"


"Aku kira kamu sengaja duduk disitu biar bisa ngobrol sama aku.." ucapnya sambil menahan tawa.


"Lagi-lagi rasa PD mu terlalu tinggi ya Sa.."


"Hahahahaha.." Elisa akhirnya bisa tertawa. Dan Reno berhasil menghilangkan rasa emosi pada diri Elisa.


"Aku seneng lihat kamu ketawa Sa.."


"Kenapa? Alasannya apa?"


"Ya karna kamu itu polos, baik, natural.. Cara kamu tertawa juga asli banget enggak dibuat-buat.. Aku suka cewek yang pribadinya kayak kamu Sa.."


"Hadeh.. Lagi-lagi si Reno ngeluarin jurus gombal.." ujarnya sambil tepuk jidat.


"Sa.. Kamu enggak makan? Ini sudah jam 17.25 WIB loh.." ujar Emeli.


"Oh iya ya Mel.. Kamu mau masuk dulu atau aku nih Mel?"


"Biasanya kalau jam segini sih di dapur ada Mbak Marni lagi siap mau mandi atau baru mau mandi.. Ya terserah kamu saja Sa.."

__ADS_1


"Ya kalau perut kamu sudah lapar ya makan sekarang saja lah Sa.." ujar Reno.


"Tapi kata Emeli di dapur pasti ada Mbak Marni Ren.."


"Kamu bilang katanya kamu enggak takut sama dia.. Hem.. Jangan-jangan cuma di mulut saja ya ucapan enggak takutnya kamu itu.." Ejeknya ke Elisa.


"Ih.. Enak aja.. Aku bukannya takut.. Hanya saja aku takut enggak bisa kontrol emosi aku kalau lihat dia, apalagi kalau dia berbicara bahas-bahas kesalahan ku.. Uh, mana tahan telinga ku buat mendengarkannya?" jelas Elisa panjang lebar.


"Aku temani kamu Sa.. Ayok kita makan.."


"Loh, kok kamu tiba-tiba ngajakin aku makan sih? Bukannya kamu masih sibuk dengan pekerjaan kamu Ren?"


"Santai saja, ini sudah clear kok.. Ayok lah, perut ku juga sudah lapar nih.."


"Kali ini kamu sendiri ya yang mengajak ku langsung.."


"Iya lah.. Jadi kamu mau enggak?"


"Kalau Reno yang ngajak mana bisa aku menolak.." ucapnya sambil tersenyum. Reno pun ikut tersenyum.


"Ok Mel, aku dan Reno pergi makan dulu ya.." ujar Elisa ke Emeli.


"Ok sipp.. Semangat sayang.." jawab Emeli.


Elisa nampak bahagia sore itu. Dia enggak menyangka bakal diajak Reyhan buat makan bareng hanya karna dirinya takut emosi melihat sang senior.


Mereka pun meninggalkan meja kasir dan berjalan ke arah gudang kemudian pergi ke dapur. Benar saja, disana dia melihat sang senior, tapi untungnya sang senior baru mau masuk ke kamar mandi. Jadi kali ini Elisa selamat. Elisa dan Reno pun mulai mencuci tangan mereka, kemudian mengambil piring yang sudah ada lauk diatasnya dan mengambil nasi juga segelas air minum. Begitu juga dengan Reno. Seperti biasa, mereka makan di tangga.


"Kamu naik duluan deh Sa.."


"Loh kok aku sih Ren? Kamu dulu lah.."


"Kan kamu yang lebih tua.."


"Hadeh.. Lagi-lagi masalah umur.. Kamu saja lah Ren yang duduk di atas.."


"Ok.. Kalau enggak mau ya udah aku duduk di atas.."


"Itu baru benar, karna lelaki itu kelak akan jadi seorang pemimpin ketika sudah menikah nanti Ren, jadi derajatnya lebih tinggi dibanding istrinya, dan statusnya lebih tinggi juga dibanding istri.."


"Kalau misal yang jadi suami umurnya lebih muda tuh gimana Sa?"


"Ya tetap, dia akan jadi seorang pemimpin rumah tangga Ren.. Enggak peduli usianya muda atau tua.. Jadi kamu jangan pernah mempermasalahkan umur ku hanya untuk hal-hal sepele kayak gini.. Ok.."

__ADS_1


"Ok lah Sa.. Kamu pemikirannya dewasa juga ya ternyata.. Meskipun tubuh mu mungil.."


"Thanks.. Yok makan dulu.. Jangan sampai kita melihat muka senior killer itu disini.. Bisa-bisa kita kena gosip.." ujar Elisa.


Kemudian Reno dan Elisa pun membaca doa terlebih dahulu sebelum menyantap makanan mereka, mereka fokus makan dan tidak berbicara seperti makan siang tadi. 15 menit mereka selesai makan, namun sang senior juga belum kunjung keluar dari balik pintu kamar mandi.


"Aku sudah habis nih Sa.. Kamu apa masih banyak nasinya?"


"Enggak, aku juga sudah habis, yok kita segera cuci piring, ambil air minum dan buru-buru balik keluar.."


"Ok.."


Ketika mereka selesai mencuci piring tiba-tiba Reno bilang dia ingin kencing.


"Sa, kamu keluar dulu ya.."


"Loh kenapa? Kamu kenapa Reno?"


"Jangan serius gitu lah Sa.. Aku hanya kebelet kencing saja.."


"Tapi masalahnya Mbak Marni belum keluar dari kamar mandi Ren.."


"Enggak apa-apa aku nunggu dia sampai keluar Sa.. Kamu balik dulu saja ya.. Enggak usah nungguin aku, kasihan Emeli kan, takut perut dia sudah lapar.."


"Hem.. Ok lah Ren.. Aku keluar duluan ya.."


Reno pun mengangguk tanda dia setuju Elisa balik ke meja kasirnya meninggalkan dirinya sendirian di dapur. 5 menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka, buru-buru Reno menghampiri.


"Kamu mau apa Reno?" ujar Mbak Marni.


"Aku mau masuk Mbak.. Mau kencing.."


"Kamu dari tadi nungguin ya?"


"Ya, tapi enggak lama kok Mbak.." Reno pun langsung masuk dan menutup pintu kamar mandi.


"Huh, di depan aku lagaknya baik banget, tapi senior berani nyindir Elisa secara langsung.." ucapnya dari dalam hati tatkala dirinya masih berada didalam kamar mandi. Tak lama pintu kamar mandi terbuka.


"Permisi Mbak, aku mau lewat.." ucap Reno yang melihat sang senior sedang bersolek di depan cermin depan pintu kamar mandi.


"Ya silahkan.." jawab sang senior.


Reno pun meninggalkan kamar mandi dan kembali ke tempat kerjanya dibagian alat tulis.

__ADS_1


__ADS_2