
Reyhan sempat mengajak Elisa jalan sepulang kerja seperti biasa. Tetapi Elisa menolaknya. Ya, tentu saja malam itu Elisa hanya ingin fokus pada Reno, agar mereka bisa berchatting dan saling dekat.
"Jadi kamu benar enggak mau ketemu aku Sa?"
"Ya, mau gimana lagi.. Aku ada urusan yang lebih penting, kali ini kamu jangan egois Reyhan.. Tamu bulanan ku benar-benar datang.." ujarnya berbohong demi menyelamatkan diri.
"Ok aku bisa mengerti.. Tapi lain kali jangan buat aku seperti ini lagi ya.."
"Aku tidak bisa menjanjikan.. Lagian kamu sudah janji kan malam itu bakal jadi yang terakhir.. Ditambah Elena juga mau pulang kan?"
"Ya juga sih.. Ok akhir-akhir ini aku enggak akan ganggu kamu dulu Sa.."
"Ok dengan senang hati Reyhan.."
"Ini memang yang aku inginkan Han.." batinnya dalam hati.
Reyhan pun tak membalas chat Elisa lagi.
Seperti biasa ketika toko tutup, Elisa dan Emeli keluar bersama dan melihat Reno masih di depan toko seperti sedang menunggu seseorang. Benar saja, dia sedang menunggu Icha yang tadi pagi mengantarnya pergi bekerja.
"Masih belum datang si Icha?" sapa Elisa.
"Iya nih, enggak tahu dia kemana ya kok lama banget.."
"Mungkin dia lagi ada urusan sebentar.."
"Ya mungkin saja, aku coba chat dia juga enggak ada balasan.."
"Mungkin dia lagi sibuk kali.."
"Sa, Ren.. Aku duluan ya.. Kebetulan Elisa juga menunggu jemputan Ren, jadi kalian bisa saling mengobrol.." ujar Emeli ke Reno.
"Oh ya Mel.. Hati-hati di jalan ya.." serentak Reno dan Elisa.
"Cie... Kok bisa barengan gitu ya.. Hihihi.. Ya sudah aku pulang ya.. Assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam" jawab Reno dan Elisa.
Elisa nampak malu gara-gara tadi kompakan jawab sama Reno.
"Oh ya Sa, kamu nunggu jemputan pacar kamu?"
"Oh enggak.. Aku enggak punya pacar kok Ren.."
"Masa sih? Kamu sudah sedewasa ini belum punya pacar?"
Elisa hanya diam tak mampu menjelaskan apapun, terlebih hubungannya yang sangat rumit dengan Reyhan.
"Seandainya nih ya kamu ditaksir sama cewek tulen, sedangkan Icha kan cowok yang ngaku kayak cewek, kira-kira kamu bakal milih cewek tulen atau cewek jadi-jadian kayak Icha, Ren?"
"Ya jelas aku milih cewek tulen sih.."
"Ngomong-ngomong kamu sudah punya pacar Ren?" Tanyanya penasaran.
__ADS_1
"Ya aku punya, kebetulan namanya juga sama kayak kamu Sa.."
"Maksudnya sama-sama Elisa gitu?"
"Ya, dia seorang biduan.. Sering manggung.. Aku juga sering nemani dia pergi menghadiri acara manggungnya itu.."
"Oh gitu.. Kayak apa sih orangnya, aku boleh lihat enggak? Hehe maaf ya kepo.."
"Ya enggak apa-apa nih aku lihatin fotonya" sambil menyodorkan ponselnya ke tangan Elisa.
"Wah.. Cantik ya Ren pacar kamu.. Enggak heran kalau dia jadi biduan.."
"Ya begitulah Sa.."
"Ngomong-ngomong, kamu suka nyanyi juga ya Ren.."
"Suka, mau dengar suara aku nyanyi?"
"Ya boleh.."
"Tapi nanti saja kalau kita sudah di rumah ya.."
"Maksudnya aku suruh dengarnya lewat rekaman suara gitu.."
"Ya iya lah, aku malu kalau disuruh nyanyi langsung.."
"Hahaha kamu bisa saja Ren.."
"Ren, papa ku sudah datang.. Aku pulang duluan ya.."
"Ya enggak apa-apa Sa.. Silahkan.."
"Kamu aku tinggal sendirian disini enggak apa-apa Ren?"
"Ya enggak apa-apa memangnya siapa yang berani nyulik aku Sa?" candanya ke Elisa.
"Ya kali aja ada yang mau nyulik cowok tampan kayak kamu.." goda Elisa ke Reno.
"Enggak ada lah.. Buruan geih sono kasihan papa mu nungguin, hati-hati di jalan ya Sa.." Ucapnya sembari tersipu malu.
"Ya, kamu juga Ren.. Assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam.."
Mereka pun berpisah. Sepanjang perjalanan Elisa dan papanya hanya diam. Sampai tiba di rumah pun pikiran Elisa masih di penuhi dengan sosok Reno di otaknya.
"Assalamualaikum.." Ucapanya ketika memasuki pintu rumah.
"Wa'alaikumsalam.." Jawab mamanya yang sedang menonton TV.
"Cuci tangan dulu ya sebelum masuk ke kamar.." Perintah mama Elisa yang mengingatkan Elisa.
"Oh iya mah.. Elisa hampir saja lupa.."
__ADS_1
Buru-buru dia ke kamar mandi untuk mencuci tangan, kaki dan muka. Sekalian ambil air wudhu untuk sholat isya.
Setelah sholat dan berdoa pun Elisa terfikirkan untuk chat Reno.
"Hai.. Coba tebak aku siapa.."
"Elisa ya.."
"Kok tahu sih, kamu sudah pulang belum?"
"Sudah nih kebetulan tadi pas kamu baru pergi kebetulan Icha juga nyampai sini.."
"Syukurlah jadi enggak kemalaman pulangnya.. Kamu disitu ngekost bareng sama Icha ya Ren?"
"Iya dong Sa.. Malahan Icha yang sering bayarin kost-nya tiap bulan.."
"Kenapa enggak petungan aja Ren?"
"Makanya aku kerja biar bisa petungan bayar Sa.."
"Oh gitu.. Ya bagus sih.."
"Kamu lagi apa Sa?"
"Aku.. Habis bersih-bersih diri sekalian sholat tadi.."
"Oh gitu.. Aku mau nepatin janji ku ke kamu nih, mau ngirimin suara aku kalau lagi nyanyi.. Kamu mau request lagu apa Sa?"
"Ok dengan senang hati aku siap mendengarkan, aku request lagu dangdut boleh?"
"Ya boleh banget dong, kebetulan aku juga suka dangdut.."
"Wah.. Kebetulan banget.."
Kemudian Elisa pun mengirim judul lagunya, begitupun Reno mengirim hasil suaranya pas lagi nyanyi. Ketika mendengarkannya betapa terkejutnya Elisa, ternyata suara Reno lumayan merdu. Sampai rekaman itu sering di putar berulang kali.
"Ren.. Asli merdu banget suara kamu.."
"Merdu yang kamu maksud itu MERusak DUnia ya.. Hahahaha.."
"Ini aku serius Reno.. Beneran enak banget di dengerin.."
"Makasih kalau kamu suka.. Nanti aku kirim lebih banyak dengan judul lagu yang berbeda ya.."
"Ok sippp..."
Mereka pun akhirnya mulai dekat. Berawal dari Reno yang menyanyikan lagu dan mengirimkannya ke Elisa. Hingga tak terasa obrolan mereka pun berakhir ketika Elisa bilang capek, ngantuk dan ingin tidur.
"Sudah malam.. Aku capek + ngantuk nih.. Aku istirahat dulu ya Ren.. Sampai jumpa besok.."
"Ya sampai jumpa Sa.. Semoga mimpi indah ya.."
Elisa merasa tersipu di ucapin Reno kata-kata seperti itu. Hingga akhirnya dia terlelap dengan sendirinya.
__ADS_1