
Reno tak tenang kala melihat raut muka Elisa, Reno pun bergegas menghampiri Elisa.
"Sa.. Apa kamu baik-baik saja?" tiba-tiba Reno menepuk bahu Elisa dari belakang.
"Aku.. Aku baik-baik saja kok Ren.." buru-buru dia menghapus air matanya.
"Kamu menangis Sa?"
"Enggak kok Ren.. Kamu.. Kamu ada perlu apa datang ke area kerja ku Ren?" Elisa mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku datang kesini untuk memastikan apakah kamu baik-baik saja, dan lebih tepatnya apakah suasana hatimu baik-baik saja?"
"Ya.. Seperti yang kamu lihat Reno.. Aku baik-baik saja, suasana hatiku juga baik kok.." jawabnya sambil tersenyum meskipun terpaksa.
"Elisa.. Aku tahu banget tentang kamu.. Ya meskipun kita kenal belum lama tapi aku bisa merasakan beban hatimu.."
"Kamu ngomong apa sih Ren? Kamu enggak takut dimarah bos atau senior killer kalau kamu berdiri terlalu lama di kasir ku.." katanya mengusir Reno secara halus.
"Gini -gini kamu tuh masih karyawan baru loh Ren.." imbuh Elisa.
"Sa.. Aku siap mendengarkan keluh kesah mu.. Jangan sungkan ya.. Nanti siang kita makan bareng.. Ok?"
"Ya.."
"Aku balik bekerja dulu.. Kamu jangan bersedih lagi.. Ingat, kamu harus tetap tersenyum enggak peduli serumit apapun isi hati dan pikiran mu, enggak peduli serumit apapun masalah yang sedang kamu hadapi, tetaplah tenang dan tersenyum, karna kamu cantik ketika tersenyum.."
__ADS_1
Elisa tersipu malu tatkala Reno mengatakan itu.
"Kan.. Lagi lagi kamu menggombali aku Ren.."
"Apa yang aku katakan adalah kenyataan Sa.."
"Ya sudah lah terserah kamu, sudah geih kamu balik bekerja dulu Ren.. Enggak enak karna disini banyak kamera pengawas.."
"Ya.. Aku balik ke bagian alat tulis dulu ya.."
Elisa pun mengangguk melihat Reno berbalik badan meninggalkan dirinya.
"Reno.. Kenapa kamu seperhatian ini sama aku? Apa kamu tidak takut kalau pacar mu akan cemburu jika mengetahui ini.." pikir Elisa.
Tiba-tiba Emeli datang.
"Hadeh Emeli lagi-lagi kamu, mengagetkan ku saja.. Kamu sudah selesai piket?"
"Ya, seperti yang kamu lihat.."
"Kamu enggak buka kasir?"
"Kamu melamun sampai jadi bodoh ya Sa?"
"Maksud kamu? Kamu enggak ngasir hari ini? Apa barang di gudang masih banyak?"
__ADS_1
"Bukan itu.. Tapi ini baru jam 09.45 WIB Sa.."
"Astaghfirullah.. Aku benar-benar tidak melihat jam di komputer aku Mel.. Lantas kamu kesini mau apa? Apa kamu enggak takut diamuk sama senior killer?"
"Cih.. Takut buat apa Sa? Dia sedang di gudang lah, kamu kayak enggak paham pekerjaan dia saja.."
"Ya tapi ini masih jam kerja Emeli.. Bos juga ada di meja kerjanya.. Jangan sampai kita berdua kena tegur.. Sudah sana kamu pergi ke bagian lain saja.." Elisa mengusir Emeli.
"Huh.. Iya iya aku pergi.." Emeli pun meninggalkan Elisa.
Emeli sebenarnya tahu kalau Elisa sempat menangis, dia bisa melihat itu dari monitor kamera pengawas.
"Dasar Elisa, sudah tahu lagi sedih, pura-pura sok tegar banget.. Padahal aku tahu banget apa yang kamu rasakan Sa.." pikir Emeli.
"Emeli enggak mungkin tahu kan kalau aku sempat menangis.. Jangan sampai dia khawatir sama aku.." batin Elisa dari dalam hati.
Pukul 11.30 WIB. Emeli pun sudah sejam berada di meja kasir. Hari itu toko lumayan ramai.
"Sa, enggak terasa sudah pukul 11.30 ya.. Kamu nanti mau istirahat pertama apa kedua Sa?" tanya Emeli.
"Aku kemarin-kemarin sering ya Mel istirahat pertama.. Kalau hari ini aku istirahat pertama lagi boleh enggak Mel? Kamu keberatan enggak?"
"Ya jelas enggak dong Sa.. Lagian hari ini aku sarapan banyak tadi pagi jadi perut aku tahan lapar.. Hehehe.."
"Ya.. Aku juga ada yang perlu dibicarakan sih sama Reno.."
__ADS_1
"Masalah apa Sa?"
"Masalah reuni ku nanti Mel.." Elisa menjawab dengan sedikit berbohong.