SaudaraKu Pacar KenalanKu

SaudaraKu Pacar KenalanKu
Bukan Sekedar Gombalan


__ADS_3

"Mau pergi kemana Mel?" ucap Reno ketika Elisa melewatinya buru-buru.


Elisa pun berhenti berjalan dan menoleh ke arah Reno.


"Aku mau piket jadi Ijah dulu.. Kamu mau ikut?"


"Piket apa lagi? Kan tadi pagi sudah piket?"


"Biasa nyuci-nyuci lap yang dipakai buat lap etalase sekalian bersihin kamar mandi.. Udah ya aku lagi buru-buru nih.. Bye.." ujarnya sambil meninggalkan Reno.


"Elisa.. Kamu ini perempuan yang cerdas dan ceria.. Selalu menebarkan sisi positif.. Aku benar-benar penasaran sama kamu.." batin Reno dari dalam hati.


Seketika Reno pun beranjak pergi dari bagian alat tulis menuju ke dapur. Dan benar saja pintu kamar mandi sudah tertutup. Lantas dia iseng mengetuk pintu kamar mandi.


"Tok-tok.." suara pintu diketuk dari luar kamar mandi.


"Siapa ya? Kan aku lagi mau piket? Jangan ganggu ya.."


"Ini aku Sa.." ujar Reno menjawab.


"Reno?" Buru-buru Elisa membuka pintu kamar mandi dan benar kalau itu Reno.


"Kamu.. Kamu mau apa kesini? Kamu gila ya?"


" Aku kesini karna aku kebelet kencing.."

__ADS_1


"Oh gitu.. Aku kira kamu mau apa.." Ucapnya sampai tersipu malu.


"Kamu tuh ya mikirnya yang jelek-jelek kan pasti.. Bukannya tadi kamu juga yang mengajak aku untuk ikut sama kamu ya Sa?"


"Ya.. Tapi itu kan hanya bercanda.. Enggak tahu juga kalau kamu bakal bener-bener nyusulin aku sampai kesini.."


"Ini karna panggilan alam Sa.. Sudah kamu keluar dulu, aku mau masuk.."


Elisa langsung keluar dari balik pintu kamar mandi.


"Huh untung saja aku belum lepas baju dan celana aku. Kalau tadi nyucinya sudah lepas baju bagaimana? Bisa-bisa Reno mikir yang macam-macam kalau aku lambat buka pintu tadi" batinnya sambil menghela napas.


Tak lama pintu kamar mandi pun terbuka.


"Sudah Sa.. Silahkan kamu masuk dan lanjutin jadi Ijahnya ya.. Aku keluar dulu.."


"Sudah wangi ya.." kata Reno.


"Gombal.." jawab Elisa senyam senyum.


"Ya memang.. Kalau enggak wangi berarti kamu belum mandi dong Sa.."


"Aku sudah mandi kok.."


"Ya berarti kamu sudah wangi sudah cantik Elisa.."

__ADS_1


"Ya.. Itu terserah kamu.." Elisa meninggalkan Reyhan yang masih melayani pembeli.


"Bisa-bisanya Reno menggombal didepan pembeli.. Malu banget aku pas tadi Reno bilang kayak gitu.." ujarnya dari dalam hati.


"Hemb... Sudah cantik ya.. Sekarang gantian aku nih Sa yang masuk.." ujar Emeli melihat Elisa sudah berada di meja kasirnya.


"Ya udah sana buruan geih.." ujarnya memaksa Emeli.


Elisa bercermin di meja kasirnya dan tiba-tiba Reno muncul.


"Ehem.. Sudah cantik enggak usah bercermin lah.." ucap Reno.


"Kan kata kamu.. Kalau kata orang lain belum tentu mereka akan bilang aku cantik tahu.."


"Sa.. Wanita cantik muka itu sudah biasa menurut aku.. Tapi kalau hatinya yang cantik baru sesuatu.."


"Masa sih Ren? Baru pernah ada lelaki yang bilang aku cantik loh.."


"Muka kamu biasa saja Sa.. Tapi hati kamu baik.. Aku suka.."


Jantung Elisa berdetak sangat cepat kala Reno mengatakan itu, mukanya pun juga memerah.


"Sudah ya Sa aku balik.. Aku rasa kamu dari tadi tersipu malu terus sama aku.."


"Ya mau bagaimana lagi.. Kamu pandai menggombal Reno.."

__ADS_1


"Itu bukan kata-kata gombalan tapi itu fakta Sa.." Reno pun meninggalkan meja kasir Elisa.


Elisa melamun memikirkan kata-kata Reyhan. Ya, dia memang tidak secantik wanita lain, bahkan jika dibandingkan dengan Elena pun masih lebih cantik Elena. Tapi kenapa Reyhan bersikeras menggenggamnya dan tak ingin melepaskan dirinya. Pikiran Elisa kacau kala memikirkan Reyhan dan Elena.


__ADS_2