
Keesokan paginya Elisa bangun dengan suasana hati yang ceria. Dia nampak tersenyum pagi itu. Setelah semuanya selesai, Elisa pun menuju ke meja makan.
"Anak mama kok tumben senyam senyum. Lagi bahagia ya?"
"Hehehe iya nih mah.. Mama harusnya seneng kan lihat Elisa bahagia seperti ini.."
"Ya seneng dong sayang dari pada harus melihat mata kamu bengkak karna menangis.."
"Ya mah.. Elisa mau sarapan mah.."
"Ok mama ambilkan ya sayang.."
"Yang banyak ya mah.."
"Wah.. Sekarang makannya juga banyak anak mama.."
"Iya mah, biar enggak cepat lapar sih.. Kebetulan ini kan juga hari senin jadi biar makin semangat.."
"Bagus.. Harus makan yang banyak biar kerjanya semangat sayang.."
"Itu pasti mah.."
Elisa pun menyantap makanan yang sudah disajikan mamanya dengan lahap. Hingga 10 menit kemudian Elisa menghabiskan isi piringnya hingga tak ada makanan yang tersisa.
"Bersihnya, kamu pasti lapar ya sayang.."
"Ya, tentu saja juga karna masakan mama Enak.. Dan paling enak.. Oh ya Ma, Elisa langsung berangkat ya sudah pukul 08.10 WIB ternyata.. Assalamualaikum.."
Sambil mencium tangan Mamanya.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam.. Hati-hati di jalan dan hati-hati juga buat kerja ya sayang.." jawabnya sambil mengelus kepala Elisa yang tertutup hijab.
"Ok Mama.. Siap dah.."
Seketika Papa Elisa pun bersiap-siap mengeluarkan motor dari dalam rumah, dan menstarternya kemudian berangkat ke tempat kerja Elisa.
Sesampainya di tempat kerja dia sudah mendapati banyak teman-temannya di depan pintu toko.
"Hai Sa.." sapa Reno.
"Hai juga Ren.." balasnya.
"Kamu kok pakai hijab ya kayak Emeli.."
"Loh kamu baru sadar Ren? Kan semalam juga aku pakai hijab Ren.."
"Apa iya sih? Aku benar-benar enggak sadar Sa.."
"Enggak, malah bagus.. Pacar aku aja enggak pernah pakai hijab kayak kamu Sa.."
"Ya mungkin dia belum terbiasa.."
"Tapi kenapa disini enggak boleh bekerja pakai hijab ya.."
"Aku juga enggak tahu.. Itu peraturan dari jaman dulu banget Reyhan, mungkin sedari aku belum lahir.."
"Masa sih Sa? Berarti ini toko sudah tua banget dong ya umurnya.."
"Betul.. Mbak Marni tuh juga sudah puluhan tahun kerja disini, malahan mama ku masih kecil sekolah SD pun Mbak Marni sudah bekerja disini.."
__ADS_1
"Oh gitu.. Mama mu umur berapa sekarang?"
"Ya sekitar 48 tahunan.. Kenapa Ren?"
"Berarti umur Mbak Marni sudah kepala 5 dong Sa.."
"Malahan kayaknya sudah mau kepala 6 deh Ren.."
"Dia sudah kawin belum sih?"
"Kalau nikah sih belum ya.. Kalau kawin ya aku enggak tahu lah Ren.."
"Oh ya ya kamu bener juga.. Hehehe.."
"Killer ya Sa orangnya.." tambah Reno.
"Ya begitulah.. Aku saja enggak cocok kok Ren sama dia.."
"Apa ya Sa? Sebenci itu kamu sama dia?"
"Yang ada dia kali yang benci aku Ren.."
"Pasti ada yang memprovokasi dia kenapa dia bisa benci kamu Sa.."
"Bisa jadi.. Tapi aku enggak tahu siapa orangnya Ren.."
"Aku nanti akan cari tahu orangnya Sa.."
"Ya kelak kamu juga akan tahu dengan sendirinya Ren.."
__ADS_1
"Kamu akan tahu kalau hampir semua karyawan disini punya mulut yang benar-benar tajam.." batin Elisa dari dalam hati.
Tak lama setelah itu pintu toko terbuka dari arah dalam dan langsung para karyawan masuk dan membuka pintu toko yang besar itu. Seperti biasa mereka piket dan membersihkan etalase, menyapu dan mengepel secara bersamaan.