
Hari berganti minggu namun kenyataannya Reyhan tidak bisa menepati ucapannya untuk mengembalikan uang Elisa. Elisa pun mulai berpikiran macam-macam dan mulai menanyakannya setiap kali chat dengan Reyhan.
"Han.. Kamu enggak ada itikad buat bayar hutang kamu ya?"
"Maaf Sa.. Saat ini aku belum ada uang.. Gaji ku kepotong banyak bulan ini karna mobil kontainer yang ku bawa sering mogok dan harus bolak balik masuk bengkel.." begitulah alasan Reyhan ketika ditagih Elisa.
"Kalau menurut mu berat ya kamu bisa balikinnya nyicil.. Bagi aku uang segitu tuh besar loh Han.. Itu adalah uang berhari-hari aku kerja sebagai kasir disini.."
"Iya Sa aku tahu.. Nanti pasti aku balikin kok.. Sudah ya enggak usah cemas memikirkan ini.. Kalau ada pasti langsung aku bayar semuanya.."
"Ya tapi kapan Han?"
"Nanti.. Aku enggak tahu kapan.. Tapi pasti aku balikin Sa.."
"Ok.. Jangan hanya ngomong doang ya.."
"Iya sayang.."
Saat itu jam kerja dan toko tidak terlalu ramai jadi Elisa curi-curi waktu chat dengan Reyhan.
Hingga akhirnya dia pun mulai curhat dengan Emeli.
"Mel.. Aku kok mulai kesal ya sama Reyhan.."
"Kenapa Sa? Apa ada masalah?"
"Dia kan janji mau bayar hutangnya ya.. Eh dia malah alasannya banyak banget Mel.."
"Tuh kan Sa.. Aku bilang apa.. Dia tuh cuma mai manfaatin kamu doang.. Kalau dia enggak balikin duit kamu bagaimana Sa? Duit segitu kan nominal yang cukup besar Sa.."
"Ya Mel.. Aku juga mikir begitu.. Tadi aku pun sudah ngomong ke dia.. Tapi ya begitulah jawaban dia.."
"Ya sudah buat pengalaman kamu saja ya Sa.. Enggak usah minjam-minjamin duit ke orang lain.."
"Ya Mel.. Kapok banget aku.. Omongannya dia enggak bisa dibuktikan.."
Tiba-tiba sudah memasuki jam istirahat.
"Tak terasa tahu-tahu sudah jam 12.15 Mel.."
"Ya Sa.. Kamu barangkali mau masuk dulu oh Sa.."
"Ya sudah aku masuk ya Mel.."
Elisa pun mengambil air wudhu dan bergegas sholat. Setelah selesai dia pun kembali keluar, saat melewati bagian alat tulis tiba-tiba saja Reno mengganggunya.
__ADS_1
"Sa.. Habis makan ya?"
"Huh memangnya kamu Ren??" ejeknya.
"Ya itu sih mulutnya blepotan.. Hehehe.."
"Masa sih? Mana coba aku pinjam cermin.."
"Enggak ada cermin lah disini.."
"To.. Memangnya mulutku belpotan ya?" tanyanya ke Toto.
"Enggak kok Sa.. Jangan percaya lah sama Reno.."
"Huh Reno kamu puasa enggak? Batal puasa kamu karna sudah bohong.." ujar Elisa.
"Hahahaa aku enggak puasa.. Aku iseng saja.. Habisnya mukamu terlihat gelisah.. Apa ada masalah?"
"Ya, sedikit ada masalah.."
"Boleh dong dengerin cerita masalah mu.."
"Idih kamu kepo banget sih Ren jadi orang.." ujar Toto menyindir.
"Ya lihat-lihat dong, ini kan jam kerja.. Kalau ketahuan senior killer baru tahu rasa kamu Ren.."
"Masalahnya dia lagi sibuk di gudang.. Jadi dia enggal mungkin keluar, kalau pun keluar dan datang kesini berarti ada yang ngadu.."
"Sudah-sudah enggak usah ribut lah.. Nanti aku cerita ke kamu Reno.. Tapi enggak sekarang.. Soalnya Emeli belum istirahat kasihan dia.. Aku balik ke tempat kerjaku dulu.. Bye.."
Elisa pun meninggalkan bagian alat tulis dan menuju ke meja kasirnya.
"Kok cepat sekali Sa?"
"Ya lah.. Buat apa lama-lama.. Tadi aku mampir dulu di bagian alat tulis Mel.."
"Oh begitu.. Ya sudah aku gantian masuk ya sekalian mau setorkan uang ini.." sambil menunjukkan uang hasil penjualan ke Elisa.
"Ya sanalah masuk.."
Elisa pun mulai merenungi nasibnya. Bagaimana tidak, sebentar lagi lebaran datang dan bagaimana dengan janji Reyhan yang akan datang ke rumahnya? Untuk masalah hutang uang saja dia tidak bisa menepati apalagi ucapan untuk silaturahmi dengan orang tua Elisa.
Saat sedang memikirkan itu tiba-tiba Reno datang.
"Kok melamun sih Sa?"
__ADS_1
"Kamu Ren.. Ya beginilah kalau lagi kepikiran.."
"Memikirkan apa sih?"
"Mikirin duit aku yang ditangan orang.."
"Siapa orang itu? Pacar atau teman kamu.."
"Entah dia statusnya siapanya aku tapi lebih ke teman ya seharusnya.."
"Laki-laki apa perempuan?"
"Ya laki-laki lah Ren.."
"Kok bisa duit kamu di dia.."
"Ya awalnya dia bilang pinjam karna untuk setoran arisan bulanan.. Karna pas itu dia lagi kena apes uangnya banyak keluar.. Jadi dia minta tolong ke aku.."
"Terus dia bilang kapan mau bayar?"
"Ya lah.. Tapi pas ku tagih ya begitulah Ren.. Banyak alasannya.."
"Kok enggak tahu malu banget ya dia.. Sudah ditolong tapi balasannya kayak gini.."
"Kamu kok ikutan geram Ren?"
"Ya habisnya aku yang merasa laki-laki pun enggak pernah begitu Sa.."
"Karakter orang kan beda-beda Ren.."
"Ya sudah kamu jangan dipikirkan dalam-dalam.. Takutnya kamu emosi terus.."
"Ya mau bagaimana lagi.. Mau enggak dipikirin tapi ya tetap kepikiran.. Enggak berusaha mikirin ya tetap saja ke ingat.."
"Kayak orang berusaha move on dari mantan ya Sa rasanya.."
"Nah itu tahu kamu Ren.."
"Aku balik ke bagian alat tulis dulu ya Sa.."
"Jangan bilang ke siapa-siapa ya Ren.."
"Ya.. Enggak kok Sa.. Dijamin aman.."
"Ok aku percaya sama kamu Reno.."
__ADS_1