
Pria itu mengenakan kembali pakaiannya, begitupun denganku. Aku mengambil pakaian baru dari tasku dan mengenakannya karena pakaian yang kukenakan semalam sudah dikoyakkan oleh pria itu. Setelah selesai berpakaian, pria itu membereskan beberapa barangnya yang bertebaran di kamarku dan hendak beranjak pergi meninggalkan kamarku.
"Kamu mau kemana?" tanyaku tepat sebelum tangannya menyentuh handle pintu. Ia terdiam sejenak, ia tampak seperti sedang berpikir.
Tak lama kemudian, ia membalikkan tubuhnya menghadapku. Ia menatapku datar, ekspresi wajahnya sangat dingin, ia tampak berbeda sekali dari sebelumnya.
"Kamu mau apa?" tanyanya pelan. Aku tersentak mendengar pertanyaannya. Ia membuatku bingung menjawab pertanyaannya.
Pria itu berjalan perlahan mendekatiku. Jantungku mulai berdebar dengan kencang. Sesaat ia hanya menatap kedua mataku tanpa berkata apapun.
"Kamu butuh uang?" tanyanya tiba-tiba. Aku benar-benar sangat terkejut mendengar pertanyaannya itu.
"A.. apa maksudmu?" ucapku balik bertanya. Ia terus menatap mataku, membuatku ketakutan! Bagaimana kalau ia bisa mengetahui kebohonganku dari mataku?
Pria itu mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya dan menyodorkannya ke hadapanku.
"Nih!" ucapnya singkat. Aku meraih kartu nama yang ternyata itu adalah kartu namanya.
"Kalau terjadi sesuatu padamu, hubungi nomor ini secepatnya!" ucapnya pelan. Aku mengangguk pelan.
"Baiklah!" Tak lama setelah itu, ia keluar dari kamarku dan benar-benar meninggalkanku. Entah kapan aku akan bertemu dengannya lagi? Apakah semuanya ini akan berhasil? Bagaimana kalau hasilnya justru kebalikannya?
...
"Tok.. tok.. tok!!"
__ADS_1
Bayu dan Adnan terbangun karena mendengar pintu kamar mereka diketuk dengan cukup keras.
"Siapa sih yang ngetuk pintu kamar orang sampai seperti itu!" gerutu Bayu kesal karena tidurnya terganggu.
"Jangan-jangan itu Roni, Bay!" seru Adnan. Bayu langsung beranjak dari tempat tidurnya setelah mendengar ucapan Adnan barusan, ia melangkah dengan cepat menuju pintu kamar.
"Bener, Nan! Roni!" serunya setelah mengintip dari lubang kecil yang ada di pintu kamar itu. Ia segera membukakan pintu kamar itu untuk Roni.
Roni masuk ke dalam kamar itu dengan cepat dan langsung menghampiri Adnan. Ia menarik kerah kaus yang dikenakan oleh Adnan dengan kasar.
"Apa-apaan lo, Ron!" seru Adnan marah.
"Lo buat minuman apa semalam sampai gua bisa mabuk?" teriak Roni. Tampak sekali kalau ia sangat marah pada temannya itu.
"Ron.. Ron! Sabar Ron!" ucap Bayu, ia berusaha menenangkan Roni.
Roni melepaskan cengkramannya dari kerah kaus Adnan dan perlahan duduk di ranjang. Ia kembali terlihat depresi, beberapa kali ia mengacak-acak rambutnya. Bayu dan Adnan saling melirik satu sama lain.
"Lo kenapa, Ron?" tanya Adnan pelan. Roni terdiam dan hanya menghela nafasnya beberapa kali.
"Ron!" panggil Bayu sambil menepuk pundak Roni. Bayu duduk tepat di samping Roni.
"Lo kasih minuman apa ke gue?" tanya Roni akhirnya.
"Gue kasih minuman biasa! Sumpah! Lo bisa tanya sama bartender-nya deh!" terang Adnan.
__ADS_1
"Terus kenapa gua bisa ga sadar padahal gua cuma minum segelas?" tanya Roni lagi. Ia tampak sangat bingung.
"Lo ga sadar?" ucap Adnan balik bertanya. Roni mengangguk pelan.
"Lo pergi itu dalam keadaan sadar, kok! Lo pamit baik-baik sama kami!" tukas Adnan. Roni mengerutkan keningnya.
"Memangnya ada apa, Ron?" tanya Bayu.
"Gue..." Roni menghentikan ucapannya, ia tampak ragu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada kedua temannya itu. Ia hanya kembali memghela nafasnya.
...
Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.
Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.
Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.
Dukung terus karya-karyaku ya..
Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺
Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..
Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤
__ADS_1
Terima kasih 😘🤗🥰