Sebuah Kebodohan

Sebuah Kebodohan
Episode 41


__ADS_3

Roni mengajakku ke kamar utama rumah itu yang berada di lantai atas. Sesuai dugaanku, kamar itu terlihat sangat cantik, jendela besar ada di salah satu sisi dindingnya yang menyajikan pemandangan taman belakang rumah itu yang sangat cantik.


"Ini juga kekasihmu yang merancangnya?" tanyaku.


"Seluruh rumah ini dia yang merancangnya." jelas Roni.


"Apa kekasihmu itu seorang arsitek?" tanyaku lagi. Roni menggeleng.


"Dia seorang accounting!" jawab Roni.


"Hanya saja dia punya impian membangun rumah seperti ini." lanjutnya. Ini rumah impiannya tapi dia tidak bisa menempatinya. Aku yang tidak pernah memimpikan tinggal di rumah seperti ini malah akhirnya yang menempati rumah ini. Terkadang dunia itu terasa lucu! Peristiwa ini seperti keberuntungan untukku tapi musibah bagi Roni dan kekasihnya.


"Ini apa?" gumamku pelan ketika melihat sebuah gulungan kertas yang berada di pojok ruangan. Aku berjongkok dan perlahan membuka gulungan itu.


Deg! Jantungku seperti tersengat aliran listrik sejenak. Ternyata gulungan itu adalah sebuah foto. Ya! Itu foto Roni dan kekasihnya yang sangat cantik itu. Foto itu sama dengan yang ada di kamar Roni hanya saja ukurannya lebih besar.


"Sreeett!" Aku terkejut, tiba-tiba saja Roni menarik foto itu dari belakangku. Ia menggulung kembali foto itu.


"Maaf, aku belum sempat membuangnya!" ucapnya pelan. Aku hanya terdiam menatapnya. Ia berusaha membuatku tidak terluka.

__ADS_1


"Kalian sangat serasi!" pujiku. Dan aku mencari lukaku sendiri!


"Sudah tidak perlu di bahas!" ucap Roni.


"Tapi aku bicara yang sesungguhnya!" seruku. Roni sudah berusaha menjaga perasaanku tapi aku sendiri malah yang melukai perasaanku. Dadaku terasa sesak saat melihatnya! Mereka terlihat sangat sempurna bersama!


"Kalian terlihat sangat serasi bersama!" ucapku lagi.


"Aku tahu!" ucap Roni.


"Hampir semua orang berkata seperti itu!" akunya. Dan akhirnya aku benar-benar terluka mendengar ucapannya! Roni menatapku dengan ekspresi wajah serius, lalu perlahan air mataku meluncur ke pipiku.


Bodoh! Kenapa aku malah menangis? Aku sungguh memalukan! Aku yang memulai tapi malah aku juga yang menangis!


"Kalian benar-benar sangat serasi berdua!" gumamku pelan. Roni menghela nafasnya dengan kasar.


"Kalau tidak ada aku dan anak ini, kalian pasti sudah bahagia bersama!" sesalku.


"Sudah hentikan!" sentak Roni. Aku terkejut! Sangat terkejut! Ini pertama kalinya aku mendengar Roni mengeluarkan suara yang keras seperti itu. Suara kerasnya itu seketika membuat tangisku terhenti.

__ADS_1


Perlahan Roni melangkah mendekatiku. Apa yang akan dia lakukan? Apakah dia akan memarahiku? Roni berdiri tepat di hadapanku, sejenak ia hanya menatapku tanpa berkata apa-apa. Kepalaku tertunduk, aku takut kalau ia akan memarahiku.


"Aku sudah bilang jangan dibahas kan!" ucapnya dengan suara berbisik. Tiba-tiba ia memukul kepalaku pelan. Aku tersentak, kucoba mengangkat kepalaku dan menatapnya. Wajahnya masih tampak serius.


"Kita sudah mau menikah, tidak perlu membahas masa lalu lagi!" pintanya. Aku sungguh sangat beruntung! Roni benar-benar pria yang baik dan sangat menghargaiku! Aku jadi takut kehilangannya!


...


Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.


Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.


Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.


Dukung terus karya-karyaku ya..


Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺


Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..

__ADS_1


Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤


Terima kasih 😘🤗🥰


__ADS_2