Sebuah Kebodohan

Sebuah Kebodohan
Episode 60


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Ropha sudah berada di bandara dan hendak melakukan penerbangan ke tempat yang ditujunya. Ia terlihat sangat gelisah, entah apa yang dipikirkannya saat itu, beberapa kali Ropha melirik jam tangannya, ia sepertinya sudah tidak sabar untuk tiba di tempat tujuannya. Ia segera beranjak dari tempat duduknya begitu pesawatnya disebutkan dalam pengumuman.


Setelah menempuh sekitar 2 jam, Ropha akhirnya tiba di bandara tujuannya. Ia bergegas menuju pintu keluar bandara untuk mencari taksi yang akan membawanya ke hotel. Hotel yang menjadi tujuan Ropha berada tidak terlalu jauh dari bandara dan ternyata hotel itu adalah hotel tempat Roni menginap saat melakukan pertemuan dengan Adnan dan Bayu waktu itu.


Ropha kembali melirik jam tangannya ketika akan masuk ke dalam lobby hotel tersebut, lalu kemudian bergegas menuju receptionist.


"Selamat pagi!" sapanya lembut.


"Selamat pagi ibu, ada yang bisa kami bantu?" tanya pemuda yang bertugas saat itu.


"Saya ada janji bertemu dengan general manager hotel ini, ee.. bapak Rangga." terang Ropha.


"Sebentar saya tanyakan terlebih dahulu ya, bu! Dimohon untuk menunggu!" ucap pemuda itu sopan. Ropha menganggukkan kepalanya dan sesaat kemudian pemuda itu tampak sedang menghubungi seseorang melalui telepon.


Sesaat setelah selesai menelepon seseorang, pemuda itu segera memberi tahukan pesan yang harus disampaikan kepada Ropha.


"Terima kasih sudah berkenan menunggu, ibu!" ucap pemuda itu.


"Tadi saya sudah mengkonfirmasi dengan sekretaris pak Rangga, ibu diminta untuk menunggu sebentar, nanti sekretarisnya akan turun untuk menemui ibu dan mengantarkan ibu ke ruangan pak Rangga." lanjutnya.


"Kira-kira saya harus menunggu berapa lama ya?" tanya Ropha.

__ADS_1


"Kurang lebih sekitar 15-30 menit, bu!" jawab pemuda itu. Ropha menganggukkan kepalanya.


"Baiklah kalau begitu! Saya duduk di sebelah sana ya pak!" ucap Ropha.


"Baik ibu!" sahut pemuda itu. Ropha beranjak dari tempatnya dan duduk di salah satu sofa yang ada di lobby hotel itu.


...


Dua hari ini Roni menginap di apartemenku, kami tidak melakukan apa-apa, ia hanya terus menjagaku, tapi hari ini pagi-pagi sekali ia sudah mandi dan berganti pakaian.


"Kamu mau ke mana?" tanyaku pelan.


"Aku harus masuk kantor!" jawabnya.


Roni merapikan kemeja biru berlengan panjang yang dikenakannya itu, dari saku celananya ia mengeluarkan sebuah dasi berwarna biru tua. Roni melirik ke arahku.


"Kamu bisa pasangkan ini untukku?" tanya Roni pelan sambil menyodorkan dasi itu. Aku tersentak, sejenak aku hanya terdiam sambil memandangi dasi itu. Aku tidak pernah memasang dasi sebelumnya! Tidak ada yang menggunakan dasi di keluargaku! Aku menggelengkan kepalaku perlahan.


"Aku tidak bisa memasang dasi." ucapku pelan. Aku mulu! Aku merasa sangat bodoh! Aku tidak bisa melakukan apapun untuk membantu Roni, bahkan untuk urusan sepele seperti memasang dasi saja aku tidak bisa!


"Kamu tidak bisa memasang dasi sendiri?" tanyaku. Roni menggelengkan kepalanya, ia mencoba untuk memasang dasi sendiri dan memang terlihat kalau dia bingung.

__ADS_1


"Lalu siapa yang biasa memasangkan dasi untukmu?" tanyaku penasaran. Roni terdiam, tangannya yang sedari tadi sibuk mengutak-atik dasi itu pun langsung terhenti.


"Tidak ada!" jawab Roni pelan. Aku tidak percaya! Pasti Ropha yang selalu memasangkan dasi untuknya! Aku memang tidak berguna! Selamanya aku tidak akan bisa menjadi seperti Ropha!


...


Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.


Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.


Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.


Dukung terus karya-karyaku ya..


Aku sayang kalian semua.. πŸ€—πŸ˜˜πŸ₯°πŸ˜Šβ˜Ί


Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..


Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❀


Terima kasih πŸ˜˜πŸ€—πŸ₯°

__ADS_1


Baca juga karyaku yang lainnya ya! Kamu pasti suka! πŸ˜πŸ˜Šβ˜ΊπŸ˜šπŸ˜˜πŸ€—


__ADS_2