
Aku mengusap mulutku begitu selesai menyantap makanan yang dipesankan oleh Roni. Sepertinya dia sering ke restoran ini, sampai-sampai dia hafal menu yang populer di restoran ini.
"Kamu sering ke sini ya?" tanyaku pelan. Roni yang sedang menekan tombol-tombol di notebook-nya itu spontan menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arahku dengan wajah seriusnya. Aku tersentak, apa dia marah karena aku mengusiknya yang sedang serius mengerjakan pekerjaannya. Sejenak ia hanya menatapku tanpa berkata apapun.
"Kamu bicara padaku ya?" tanyanya polos. Seketika ekspresi wajahnya berubah, ia terlihat sangat lucu! Aku tak bisa menahan tawaku dan mulai tertawa, ia hanya menatapku bingung.
"Maaf!" ucapku akhirnya setelah bisa menahan tawaku.
"Iya aku tadi berbicara padamu!" ungkapku.
"Oh, maaf! Aku kalau sedang bekerja kadang terlalu fokus jadi tidak bisa mendengar orang di sekitar yang sedang berbicara padaku." terangnya. Aku menganggukkan kepalaku sambil tertawa kecil.
"Tadi kamu bertanya apa?" ucapnya.
"Kamu sering ke restoran ini ya?" ulangku.
"Eee.." Ia terlihat ragu menjawab pertanyaanku.
"Restoran ini milikku." ucapnya pelan.
"Hah?!" Aku terkejut mendengar jawabannya. Restoran mewah ini miliknya? Ah! Mungkin maksudnya milik orang tuanya.
"Milik orang tuamu maksudnya?" tanyaku. Aku tersentak, ia menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku yang membangun restoran ini sendiri!" jelasnya. Woaaahh!! Kurasa dia terlalu muda untuk bisa memiliki bisnis restoran seperti ini.
__ADS_1
"Apa restoran ini terlihat sangat tua?" tanyanya.
"Hah?!" Aku tersentak mendengar pertanyaannya.
"Aku berusaha merancangnya menjadi restoran yang moderen, tapi... apa restoran ini terlihat tua sampai kamu mengira kalau ini milik orang tuaku?" Dia memperjelas pertanyaannya. Aku menggelengkan kepalaku pelan.
"Aku bukan berpikir begitu." ucapku pelan
"Lalu?" desaknya.
"Aku hanya berpikir kalau kamu terlalu muda untuk memiliki restoran semewah ini." ungkapku.
"Hei! Aku sudah berumur 33 tahun!" serunya.
"Kita hanya selisih 3 tahun tapi aku tidak memiliki apa-apa!" gumamku pelan. Ia tertawa kecil mendengar gumamanku itu.
"Aku sudah berusaha bekerja ke sana-sini tetap saja aku tidak bisa mengumpulkan modal untuk membangun usaha sendiri!" terangku.
"Karena kamu tidak memfokuskan diri untuk membangun usaha." tukasnya.
"Kamu bisa bicara begitu karna kamu kan sudah kaya dari lahir, orang tuamu pasti yang memberikan modalnya atau setidaknya membantu mencarikan jalan untuk usahamu bisa berkembang!" gerutuku. Ia memalingkan pandangannya ke mataku, tatapan matanya itu membuatku salah tingkah.
"Tidak!" ucapnya pelan. Aku terdiam.
"Ayahku hanya seorang buruh sampai aku selesai SMA." ungkapnya.
__ADS_1
"Ma.. maksudnya?" tanyaku bingung.
"Ayahku hanya seorang buruh dan ibuku adalah seorang ibu rumah tangga biasa." jawabnya.
"Aku memulai usahaku untuk membangun bisnisku sendiri sejak lulus SMA, modal bisnisku hanya tabungan dari uang jajanku yang kusisihkan." ungkapnya. Waaah keren! Dia memang benar-benar pria yang mengesankan!!
"Bisa-bisanya kamu menilai aku kaya dari lahir, apa wajahku terlihat seperti seorang pria manja?" gerutunya.
"Maaf!" ucapku pelan. Ia tersenyum lembut dan kembali memfokuskan diri pada pekerjaannya hingga selesai. Aku sangat beruntung memiliki anak dari pria seperti ini! Dia benar-benar luar biasa!
...
Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.
Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.
Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.
Dukung terus karya-karyaku ya..
Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺
Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..
Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤
__ADS_1
Terima kasih 😘🤗🥰