Sebuah Kebodohan

Sebuah Kebodohan
Episode 44


__ADS_3

Roni menghela nafasnya perlahan. Mungkin ia kesal dengan sikapku itu.


"Tadi kamu bilang kalau kamu tidak ingin anak ini kenapa-kenapa." ucapku pelan. Suaraku terdengar sangat pelan bahkan nyaris tidak terdengar oleh Roni.


"Ternyata benar kata orang." gumam Roni pelan. Aku menatapnya bingung dan ia balik menatapku.


"Katanya perasaan wanita hamil itu sensitif dan sekarang aku benar-benar merasakannya." ucapnya. Ia tersenyum lembut padaku.


"Darimana kamu mengetahui hal-hal seperti itu?" tanyaku.


"Aku membacanya di internet!" jawabnya. Aku tersentak.


"Kamu mencari informasi-informasi seperti itu." seruku. Roni tersipu, ia tersenyum lembut sambil menundukkan kepalanya, wajahnya yang putih seketika memerah.


"Sejak kapan kamu mencari tahu informasi-informasi seperti itu?" tanyaku penasaran.


"Sejak aku memutuskan untuk menikahimu." akunya. Jantungku berdebar sangat kencang. Aku tidak menyangka kalau dia akan bertindak konyol seperti itu. Jarang sekali kulihat pria yang mau repot-repot mencari informasi yang berhubungan dengan kehamilan seperti itu. Bolehkah aku memeluknya? Hatiku benar-benar tersentuh dengan sikapnya itu.

__ADS_1


Roni tersentak, ia menatapku dengan ekspresi terkejut karena tiba-tiba aku melingkarkan tanganku di lengannya dan menyandarkan kepalaku di bahunya. Jantungku berdebar kencang hingga membuat dadaku terasa sesak, sebenarnya aku malu melakukan hal ini padanya tapi aku sungguh menyukainya! Tidak.. kurasa aku jatuh cinta padanya!


"Boleh kan aku seperti ini?" tanyaku manja. Sejenak Roni masih menatapku dengan ekspresi terkejutnya tapi sesaat kemudian ia tersenyum lembut padaku dan mencium keningku. Ah! Dia benar-benar membuatku seperti terbang ke awan!


...


Roni mulai memejamkan matanya dan sesaat kemudian ia sudah terlelap, mungkin ia sedang kelelahan.


"Ttrrrrrtttt... ttttrrrrttttt" Tiba-tiba saja ponselku bergetar panjang, sepertinya ada panggilan masuk. Aku segera merogoh tasku untuk mengambil ponselku. Aku terkejut begitu mengetahui siapa yang meneleponku, yang ternyata adalah Adnan.


Aku melirik ke arah Roni, untung saja dia masih terlelap. Aku segera mematikan panggilan itu. Bisa-bisanya Adnan meneleponku di saat seperti ini! Bagaimana kalau Roni mengetahuinya? Bisa semuanya berantakan! Jantungku berdrbar kencang lagi, tapi kali ini karena perbuatan Adnan itu! Aku menghela nafasku perlahan untuk menenangkan diriku.


'Lo mau cari masalah dengan gue? Kirimkan uangnya sekarang atau gue bongkar semuanya!'


Adnan mencoba mengancamku dan dia berhasil membuatku benar-benar gelisah! Apa yang harus kulakukan.


'Gue lagi sama Roni.' Dengan cepat aku mengetikkan pesan itu.

__ADS_1


"Kamu sedang apa?" Tiba-tiba terdengar suara Roni. Jantungku seperti berhenti berdetak! Roni sudah terbangun! Apa dia melihat pesan singkat yang dikirim kan Adnan padaku dan yang kukirimkan pada Adnan itu? Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Roni menatapku dengan tatapan serius. Apa aku harus mengakui semuanya? Tapi bagaimana kalau dia meninggalkanku dan anak ini setelah mengetahui yang sebenarnya? Bagaimana nasib aku dan anak ini?


...


Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.


Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.


Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.


Dukung terus karya-karyaku ya..


Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺


Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..


Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤

__ADS_1


Terima kasih 😘🤗🥰


__ADS_2