Sebuah Kebodohan

Sebuah Kebodohan
Episode 72


__ADS_3

"Ropha!" panggilku sambil meraih tangan Ropha untuk menahan langkahnya. Ropha berbalik menatapku dengan tatapan dinginnya, sisa-sisa air mata masih ada disudut matanya.


"Apa lagi, Mel?" tanyanya ketus.


"Kumohon, jangan beri tahu Roni!" pintaku.


"Maafkan aku kali ini saja, Pha! Kumohon!" pintaku. Suaraku terdengar berat dan bergetar. Beberapa orang yang ada di sekitar kami mulai memperhatikan kami.


"Kali ini saja, Pha! Kumohon! Aku tidak akan melakukan kesalahan yang bodoh seperti ini lagi!" pintaku lagi. Ropha terus menatapku dengan tatapan tajamnya.


"Seharusnya kubiarkan saja kak Roni mengambil bayimu!" ucapnya pelan. Aku tersentak, bukankah dia yang mempunyai ide itu? Tapi kenapa sekarang dia bicara seakan dia yang menghentikan Roni melakukan hal itu?


"Seharusnya aku tidak menyalahkan semuanya pada kak Roni saat itu! Seharusnya aku tetap bersamanya saat itu!" lanjutnya.


"Seharusnya aku tidak pernah melepaskan kak Roni dan memaksanya untuk bersamamu, Mel!" sesal Ropha. Air matanya kembali mengalir dengan derasnya.


"Kak Roni harus tahu tentang semuanya ini!" ucapnya. Ia menghempaskan tanganku dan kembali melangkah meninggalkanku. Aku mengejarnya dan kembali meraih tangannya. Dengan cepat aku bersimpuh di hadapannya, Ropha terkejut dengan apa yang baru saja kulakukan. Kami benar-benar menjadi tontonan bagi para pengunjung kafe itu. Beberapa pelayan terlihat seperti hendak mendekati kami tapi mereka tampak ragu-ragu.


"Aku mengakui kesalahanku, Pha! Aku bersalah! Aku sangat bersalah pada kalian berdua!" akuku. Air mataku mulai membanjiri pipi, jantungku berdebar dengan sangat kencang dan tak karuan, dadaku pun terasa sangat sesak.

__ADS_1


"Kumohon berikan aku kesempatan kedua!" pintaku.


"Apa ada kesempatan kedua untukku, Mel?" ucap Ropha balik bertanya padaku.


"Kami saling mencintai! Kami sudah mempersiapkan semuanya untuk bersama di masa depan, tapi kamu... dengan sekejap mata menghancurkan semuanya!" terang Ropha. Aku bisa merasakan kekecewaannya itu, tapi semuanya sudah terlanjur! Satu-satunya jalan untuk mengembalikan keadaan seperti semula adalah dengan meninggalkan Roni, tapi aku tidak sanggup! Aku sudah terbiasa dengannya! Aku takut kehilangannya!


"Maafkan aku, Pha!" ucapku lirih.


"Kumohon maafkan aku!" pintaku.


"Minta maaflah pada kak Roni yang kau fitnah berkali-kali, Mel!" seru Ropha. Perlahan Ropha membalikan tubuhnya dan mulai melangkah meninggalkanku.


"Ro.. Ropha! To.. to.. long aku!" ucapku. Pandangan mataku mulai terasa kabur, tapi aku masih bisa melihat kalau Ropha membalikkan tubuhnya menghadapku.


"Amel!!" Samar-samar aku mendengar Ropha memanggil namaku. Sebelum pandanganku menjadi putih pekat, aku sempat melihat kalau Ropha berlari ke arahku dan beberapa orang pelayan serta pengunjung pun mendekati tubuhku yang terkulai lemah di lantai.


...


Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.

__ADS_1


Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.


Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.


Dukung terus karya-karyaku ya..


Aku sayang kalian semua.. πŸ€—πŸ˜˜πŸ₯°πŸ˜Šβ˜Ί


Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..


Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❀


Terima kasih πŸ˜˜πŸ€—πŸ₯°


Baca juga karyaku yang lainnya ya! Kamu pasti suka! πŸ˜πŸ˜Šβ˜ΊπŸ˜šπŸ˜˜πŸ€—



__ADS_1


__ADS_2