Sebuah Kebodohan

Sebuah Kebodohan
Episode 6


__ADS_3

Aku melirik jam yang tergantung di dinding. Sudah jam 02:23! Bayu dan Adnan belum juga menunjukkan tanda-tanda kalau akan datang. Aku sudah mengantuk sekali! Ke mana mereka? Apa yang sedang mereka lakukan sebenarnya? Sampai kapan aku harus menunggu seperti ini?


Aku benar-benar sudah tidak tahan menunggu mereka seperti ini, perlahan kupejamkan mataku.


"Tok.. tok.. tok..!!" Terdengar suara pintu kamarku di ketuk dengan keras. Spontan mataku langsung terbuka lebar karena terkejut. Apa itu Bayu dan Adnan?


Aku beranjak dari ranjang dan bergegas menuju pintu. Aku mengintip dari lubang kecil yang ada di pintu untuk memastikan siapa yang mengetuk pintu kamarku itu dan ternyata benar, Bayu dan Adnan-lah yang datang bersama seorang laki-laki lagi, wajahnya tidak terlihat karena kepalanya tertunduk.


Aku membuka pintu kamarku itu dan dengan cepat mereka menerobos masuk ke dalam.


"Lama sekali sih lo!" sentak Adnan kesal. Aku terkejut, ini pertama kalinya Adnan menyentakku. Ekspresi wajahnya tampak kesal.


Adnan dan Bayu merebahkan tubuh pria yang mereka bopong itu di ranjangku.


"Hah?!" Aku terkejut melihat wajah pria yang mereka bawa itu.


"I.. ini kan.."


"Iya! Itu cowok yang tadi pagi sama lo di receptionist!" potong Bayu. Aku menutupi mulutku dengan kedua tanganku.


"Kalian sudah pernah bertemu?" tanya Adnan. Aku mengangguk pelan.


"Mereka bertemu di bandara dan receptionist hotel tadi pagi." terang Bayu.


"Berarti emang sudah jodohnya lo!" seru Adnan. Ia tampak senang sekali. Aku tidak menyangka kalau pria itu lah yang menjadi target utama dari semua rencana ini.


"Ron.. Ronii!!" seru Adnan sambil mengguncang-guncangkan tubuh pria itu.


"Eerrggghh!" Pria itu mengerang sambil memegangi kepalanya. Adnan mendekatkan mulutnya ke telinga pria berambut lurus itu.

__ADS_1


"Ron, ini ada Ropha!" bisik Adnan. Spontan Bayu menepuk pundak Adnan.


"Sssttt!" Adnan memberi isyarat kepada Bayu untuk tidak berisik.


Tunggu dulu! Ropha? Siapa lagi itu?


Pria yang sedari tadi tergeletak lemah itu berusaha untuk bangkit dan duduk di ranjangku. Pria itu terus memegangi kepalanya, sepertinya kepalanya itu terasa sangat sakit.


"Kok dia seperti sakit kepala begitu?" tanya Bayu heran.


"Gue kasih dua butir tadi! Gue takut reaksinya kurang." terang Adnan.


"Gila lo! Nanti kalau dia overdosis gimana?" seru Bayu cemas. Dua butir? Dua butir apa maksud mereka?


"Ga akan!" seru Adnan.


"Sudah! Lo tenang saja deh, paling juga dia jadi lebih hot lagi nanti!" lanjutnya.


"Ini Ropha!" seru Adnan sambil menarik tanganku agar aku mendekat dengan pria itu. Pria itu menatapku, keningnya berkerut. Jantungku berdetak sangat cepat hingga membuat dadaku terasa sesak. Aku takut sekali kalau pria itu akan menyadari bahwa aku bukanlah Ropha.


"Ropha?" tanyanya. Ia berusaha meraih tanganku tapi tidak berhasil, akhirnya Adnan yang meraih tanganku dan memberikannya pada pria itu.


Pria itu menggenggam tanganku dengan erat dan membelai jari-jariku dengan lembut. Dia pria yang baik, bagaimana mungkin aku melakukan hal yang 'gila' bersamanya?


"Cup!" Jantungku seperti berhenti berdetak sesaat karena pria itu mencium tanganku yang digenggamnya.


"Ropha!" panggilnya lembut. Ia memandangi wajahku tapi ia tidak sadar kalau aku bukan Ropha. Sebenarnya apa yang mereka lakukan pada pria ini sampai keadaannya seperti ini?


"Siapa Ropha?" tanyaku dengan suara berbisik.

__ADS_1


"Perempuan yang pernah gue tunjukkan fotonya itu!" jawab Adnan. Oh! Jadi Ropha itu kekasihnya! Pantas saja dia memiliki kekasih yang secantik itu, dia saja setampan ini!


Pria itu berusaha untuk berdiri meskipun tubuhnya tampak sangat lemah, ia berpegangan padaku hingga akhirnya ia bisa berdiri tegak di hadapanku. Ia terus menatap wajahku dengan matanya yang tampak sayu itu. Perlahan tangan kanannya bergerak membelai pipiku lembut dan ia tersenyum lembut padaku. Astaga! Senyumannya itu tampak sangat manis! Ia tersenyum tulus padaku! Aku tahu senyuman itu sebenarnya untuk kekasihnya yang bernama Ropha, tapi senyuman itu membuat jantungku berdebar-debar.


"Bruukk!" Tiba-tiba saja pria itu jatuh ke arahku hingga membuat tubuhku terdorong. Tubuhnya tampak sangat lemah, aku menangkap tubuhnya agar ia tidak jatuh ke lantai. Bayu dan Adnan membenarkan posisi pria itu, sekarang posisinya seperti sedang memelukku.


"Gue serahin selanjutnya sama lo ya, sekarang giliran lo!" seru Adnan.


"Lo harus berhasil!" ucapnya lagi. Ucapannya itu terdengar seperti sebuah ancaman untukku.


Bayu dan Adnan akhirnya meninggalkanku dan pria ini berdua saja. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Jantungku berdebar kencang, ini pertama kalinya aku berdua dengan seorang pria di dalam kamar hotel.


Aku mencoba merebahkan tubuh pria itu ke ranjangku lagi karena aku sudah tidak kuat lagi menahan tubuhnya itu. Aku merebahkan tubuhnya dengan hati-hati, tapi tiba-tiba saja kedua tangannya melingkar di pinggangku dan menarik tubuhku hingga jatuh menimpanya.


Jantungku seperti mau meledak karena berdetak terlalu cepat. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, tubuhku berada di atas tubuh seorang laki-laki! Pria itu memelukku dengan sangat erat dan dalam sekejap ia membalikkan keadaan, kini tubuhnya-lah yang menimpa tubuhku!


...


Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.


Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.


Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.


Dukung terus karya-karyaku ya..


Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺


Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..

__ADS_1


Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤


Terima kasih 😘🤗🥰


__ADS_2