Sebuah Kebodohan

Sebuah Kebodohan
Episode 36


__ADS_3

"Sssrrrrrrr...." Samar-samar aku mendengar suara air yang mengalir dari sebuah keran. Aku tersentak, kubuka mataku dengan cepat. Astaga! Sejak kapan aku tertidur di kamar ini? Bagaimana dengan Roni dan keluarganya semalam? Di saat penuh dengan masalah seperti ini, bisa-bisanya aku tertidur pulas!


Aku melirik jam yang tergantung di dinding kamar Roni itu. Pukul 06.15, ternyata sekarang sudah pagi! Suara air mengalir itu tidak terdengar lagi sejak aku membuka mataku, mungkin suara air itu hanya ada dalam mimpiku, lagipula siapa yang akan mandi pagi-pagi seperti ini!


"Sssrrrrrr..." Aku terkejut, tiba-tiba saja suara air mengalir itu terdengar lagi. Mungkinkah itu Roni yang sedang mandi? Aku beranjak dari ranjang milik Roni itu dan melangkah perlahan mendekati pintu kamar mandi pribadi yang ada di kamar Roni.


Kutempelkan telingaku di pintu kamar mandi itu, aku takut kalau itu bukan Roni. Aku sering mendengar cerita kalau rumah besar dan mewah seperti ini sering ada 'penghuni lain', tiba-tiba aku merasa bulu kudukku berdiri. Aku tersentak, ada sesuatu yang lain dengan kamar ini! Aku menatap salah satu sisi dinding kamar Roni yang terlihat berbeda. Apa yang berbeda dari dinding itu ya? Ah iya! Foto besar itu sudah tidak ada lagi di dinding itu!


Aku menoleh ke meja kerja Roni, bingkai yang berisi foto-foto Roni dan kekasihnya itu pun sudah menghilang! Ke mana perginya mereka? Apa semalam aku hanya berhalusinasi? Tidak mungkin! Vino pun melihat semuanya itu!


"Ceklek!" Tiba-tiba pintu kamar mandi pribadi Roni yang ada di hadapanku terbuka dan aku masih dalam posisi telinga yang menempel pada pintu itu.


"Huaaa!! A.. apa yang kamu lakukan?" tanya Roni yang baru saja muncul dari balik pintu. Ia terlihat sangat terkejut melihatku berada di balik pintu kamar mandinya, akupun sangat terkejut dan malu.

__ADS_1


"A.. aku.." Aku sangat kikuk dan gugup hingga bingung akan menjawab apa. Ia berdiri di hadapanku hanya dengan sehelai handuk yang menutupi bagian pinggang ke bawahnya, sementara itu dadanya terekspos dengan sangat bebas. Aku membenarkan posisi berdiriku dan melangkah mundur untuk segera menjauhi Roni, tapi aku melakukannya dengan ceroboh. Kakiku terpeleset keset handuk yang ada di depan pintu dan tubuhku pun goyah.


Dengan cepat Roni menarik tangan kiriku dengan tangan kanannya sebelum aku benar-benar terjatuh. Ia menariknya dengan kuat hingga tubuhku tertarik dan menabrak dadanya yang tidak tertutup sehelai benang pun. Dadanya terasa dingin. Memang ini bukan pertama kalinya aku menyentuh kulit tubuhnya tapi ini benar-benar membuatku gugup! Roni mendekap tubuhku dengan kedua tangannya agar aku tidak terjatuh. Ya Tuhan! Jantungku berdebar sangat kencang! Kurasa Roni pun bisa merasakannya karena tubuh kami saat ini menempel erat.


"Eee.. bisakah kamu berdiri dengan benar?" tanyanya pelan.


"Hah?!" Aku bingung dengan ucapan Roni.


"Maaf!" ucapku pelan. Roni tertawa kecil, wajah putihnya perlahan memerah. Apa ia juga merasa gugup memelukku?


...


Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.

__ADS_1


Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.


Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.


Dukung terus karya-karyaku ya..


Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺


Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..


Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤


Terima kasih 😘🤗🥰

__ADS_1


__ADS_2