
Perasaanku masih tidak enak karena meninggalkan Roni menghadapi kedua orang tuanya sendirian sedangkan aku beristirahat, tapi aku berada di sana pun percuma karena tidak dapat membantunya sedikitpun. Aku hanya bisa membantunya kalau aku mengakuin yang sebenarnya terjadi.
Vino membukakan pintu kamar Roni untukku. Ia tersentak ketika masuk ke dalam kamar itu.
"Ee.. ini kamar kak Roni saat masih tinggal di rumah ini, kak!" ucap Vino pelan. Aku menganggukkan kepalaku dan perlahan masuk ke dalam kamar itu. Aku tersentak ketika melihat apa yang ada di dalam kamar itu.
"Maaf, kak! Kami tidak tahu kalau kakak akan datang jadi kami tidak sempat membereskan ini semua." terang Vino. Aku tersenyum lembut.
"Tidak apa-apa." ucapku pelan.
Aku tersentak melihat kamar Roni bukan karena kamar itu berantakan, tapi karena di dalam kamar itu terpasang sebuah foto Roni dengan Ropha dalam ukuran sangat besar di salah satu dindingnya. Vino pun terkejut karena hal itu, mungkin ia lupa kalau di kamar kakaknya ada foto kakaknya sebesar itu dengan pujaan hatinya. Mereka tampak sangat bahagia di dalam foto itu.
"Aku tidak bisa melepasnya, kak! Nanti biar kak Roni saja yang melepasnya ya?! Tidak apa-apa kan kak?!" tanya Vino. Aku menganggukkan kepalaku sambil tersenyum manis padanya.
"Kasurnya selalu di bersihkan kok kak, kakak istirahat saja di situ ya!" ucap Vino.
__ADS_1
"Iya, terima kasih ya!" ucapku.
"Kalau ada yang kakak perlukan, ketuk saja pintu kamarku di sebelah, ya!" terang Vino. Aku mengangguk.
"Biasanya mama kalau sudah mengomel akan sangat panjang jadi kakak lebih baik tidur saja!" saran Vino. Aku tertawa kecil.
"Iya!" sahutku. Tak lama kemudian samar-samar terdengar suara dari lantai bawah, sepertinya mereka mulai membahas permasalahan itu lagi
"Tuh kan, sudah mulai lagi!" ucap Vino. Aku dan Vino tertawa kecil.
Vino menutup pintu kamar dengan hati-hati dan aku mulai merebahkan tubuhku di kasur mewah milik Roni itu. Rasanya seperti tidur di atas awan, barang mewah memang sangat berbeda. Aku memiringkan tubuhku menghadap foto besar itu, sejenak aku menghabiskan waktu dengan memandangi kedua wajah yang ada di dalam foto itu. Aku belum pernah melihat ekspresi Roni seperti di foto itu. Ia terlihat sangat tampan dan bahagia, senyumnya terlihat lepas dan tulus.
Ropha pun terlihat sangat cantik di foto itu, ia seperti bidadari dalam dunia nyata. Sejujurnya, aku pun mengakui kalau mereka adalah pasangan yang sangat serasi. Mereka seperti seorang pangeran dan seorang putri. Aku sungguh keterlaluan sudah ikut bersekongkol menghancurkan hubungan yang sangat sempurna itu.
...
__ADS_1
Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.
Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.
Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.
Dukung terus karya-karyaku ya..
Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺
Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..
Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤
Terima kasih 😘🤗🥰
__ADS_1