
Bayu menunjukkan di mana kamarku yang ternyata bersebelahan dengan kamarnya dan Adnan. Ia memberikan kartu akses kamar tempatku menginap itu. Aku membuka pintu kamar itu dan aku benar-benar takjub melihat apa yang ada di balik pintu.
Kamar itu tampak sangat mewah untukku. Ranjangnya terlihat sangat empuk, perabotan di dalamnya pun terlihat sangat elegan, dan lihat! pemandangan yang disajikan di balik jendela tampak sangat menakjubkan! Jendela besar itu menampilkan pemandangan pantai yang terlihat sangat cantik. Satu lagi, sebuah fasilitas yang mereka berikan yang tidak akan pernah bisa aku rasakan sekalipun aku bekerja dengan sangat keras.
"Lo tunggu di sini sampai kami membawa orang itu ke sini!" ucap Bayu. Suaranya memecahkan lamunanku yang sedang mengagumi kamar itu.
"Oke!" sahutku.
"Lo jangan sampai ketiduran ya nanti malam!" ucap Bayu memperingatkan. Aku mengangguk pelan.
"Ya sudah kalau begitu gue balik ke kamar gue ya!" pamit Bayu.
"Ee.. Bay!" panggilku sesaat sebelum Bayu membalikkan tubuhnya untuk keluar dari kamarku itu.
"Kenapa?" tanyanya datar.
"Bagaimana kalau nanti malam tidak berjalan lancar?" tanyaku pelan.
"Gue dan Adnan akan memastikan semuanya berjalan lancar! Lo ga perlu khawatir!" serunya. Aku mengangguk pelan. Tak lama kemudian Bayu meninggalkanku sendiri di kamar mewah itu.
...
"Oke, kalau begitu sudah selesai kan meeting kita ini?!" seru Roni sambil memasukkan laptopnya kembali ke ranselnya.
"Gue balik ke kamar ya, mau istirahat!" pamitnya.
"Buru-buru banget lo, Ron!" protes Bayu.
"Iya nih, Roni payah! Padahal kita sudah jarang kumpul, tapi sekalinya bisa kumpul malah buru-buru mau cabut saja!" sambung Adnan.
"Besok gue harus ke bandara pagi-pagi, karena pesawat gue jam sembilan!" terang Roni.
"Kan masih besok pagi, Ron! Malam ini kita party dulu lah sebentar!" tawar Adnan.
"Gue capek, mau istirahat!" tolak Roni. Roni beranjak dari tempat duduknya dan hendak meninggalkan tempat itu, tapi Bayu mencoba menahannya dengan menghalangi jalan Roni.
"Ayolah, Ron!" bujuk Bayu. Roni menatap Bayu dengan tajam.
"Jarang-jarang kita punya waktu bersama lagi seperti ini, apa lo ga kangen dengan kekompakan kita dulu?" tanya Bayu.
"Ga!" jawab Roni singkat. Bayu terdiam, ia tampak pasrah dengan sikap Roni.
__ADS_1
"Ron!" panggil Adnan pelan sambil beranjak dari tempat duduknya untuk mendekati Roni. Roni membalikkan tubuhnya menghadap Adnan.
"Gue tahu lo menjaga jarak dengan kami karena peristiwa waktu itu." ucap Adnan. Tangannya menepuk pundak Roni pelan.
"Kasih kesempatan kami untuk memperbaiki semuanya!" pinta Adnan.
"Ayolah kita kembalikan suasana di antara kita menjadi seperti dulu!" ajak Adnan.
"Iya, Ron!" sambung Bayu, ia tampak kembali bersemangat.
"Dulu masalah apa pun di antara kita bisa kita selesaikan dengan minum bersama!" ucap Adnan.
"Gue sudah berhenti minum!" tukas Roni.
"Karena itulah makanya masalah di antara kita ga kelar-kelar!" seru Adnan. Bayu mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Khusus untuk malam ini, malam pertama kita bisa kumpul bertiga lagi, ayo kita minum minuman terenak!" ajak Adnan.
"Gue sudah janji ga akan minum-minum lagi!" tolak Roni.
"Ayolah Ron, satu gelas saja!" bujuk Adnan.
"Iya, Ron! Pleaseee!" sambung Bayu. Roni menatap kedua temannya itu dengan tatapan tajam. Ia menghela nafasnya.
"Yeaaah!" seru Bayu.
"Okay! Satu gelas! Gue akan buatkan campuran terbaik untuk lo! Khusus untuk lo!" seru Adnan antusias.
Adnan segera beranjak dari tempat itu untuk menemui bartender. Ia meminta bartender untuk meracikan minuman sesuai dengan keinginannya. Tak memakan waktu lama, bartender itu sudah menyelesaikan minuman spesial pesanan Adnan.
Adnan merogoh saku celananya dan mengambil sebuah plastik kecil yang berisi beberapa butir pil berwarna putih. Ia mengeluarkan sebuah pil dan mencampurnya dalam minuman itu. Perlahan ia mengaduk sampai pil itu larut dalam minuman.
Adnan meraih gelas berisi minuman itu dari meja, tapi ia tampak ragu. Diletakkannya kembali gelas itu dan ia memasukan sebuah pil lagi ke dalam minuman itu, setelah pil itu larut dalam minuman spesial itu ia bergegas membawanya ke tempat teman-temannya berkumpul.
"Nih! Spesial buat lo!" seru Adnan sambil meletakan gelas berisi minuman spesial di meja, tepat di hadapan Roni.
"Minuman apa lagi ini?" tanya Roni. Ia menatap Adnan curiga.
"Minuman spesial khusus buat lo!" terang Adnan. Roni mengerutkan keningnya.
"Lo cicip dulu, baru lo bakal tahu sespesial apa minuman ini!" tukas Adnan.
__ADS_1
Roni meraih gelas yang ada di hadapannya itu, ia meneguk minuman itu sedikit.
"Gimana?" tanya Adnan.
"Lumayan!" jawab Roni singkat.
"Habiskan dong biar lebih mantap!" seru Bayu. Roni meneguk minuman itu hingga tak bersisa.
"Sudah kan?!" seru Roni.
"Gue mau balik ke kamar sekarang!" Roni beranjak dari tempat duduknya, ia meraih ranselnya dan menggantungnya di pundak sebelah kanannya. Tiba-tiba saja pandangan matanya menjadi kabur.
"BRUUUUKKKK!!" Roni jatuh tersungkur di lantai. Beberapa pengunjung bar yang berada di sekitarnya terkejut dan menjerit.
"Ada apa ini pak?" Seorang pelayan bar yang kebetulan berada di sekitar mereka menghampiri dengan cepat.
"Tidak apa-apa!" ucap Adnan.
"Dia biasa begini kalau mabuk!" terangnya. Beberapa pengunjung memperhatikan mereka.
Bayu dan Adnan mengangkat tubuh Roni dari lantai dan membopongnya keluar dari bar.
"Tunggu dulu! Kita belum bayar minuman dan makanan kita!" ucap Bayu.
Dengan cepat Adnan menggeledah ransel Roni, mengambil dompetnya dan mengeluarkan credit card milik Roni.
"Nih! Bayar pakai ini!" seru Adnan. Bayu membayarkan semuanya dengan credit card milkk Roni itu. Setelah selesai, ia dan Adnan kembali membopong Roni yang sudah mabuk berat dan bergegas membawanya ke kamar.
...
Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.
Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.
Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.
Dukung terus karya-karyaku ya..
Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺
Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..
__ADS_1
Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤
Terima kasih 😘🤗🥰