
Roni membimbingku keluar dari restoran menuju mobilnya, tangan kirinya menyentuh punggungku dengan lembut. Beberapa pelayan restorannya itu memperhatikanku, tatapan mereka seakan bertanya-tanya siapakah aku ini. Aku yakin mereka pasti membicarakanku di belakang. Wajar saja, bahkan dari segi pakaian saja aku dan Roni tidak sepadan, apalagi dari segi fisik! Apa mereka menduga yang tidak-tidak padaku?
Roni membawaku ke dokter kandungan yang berbeda dari tempat biasa aku memeriksakan kandunganku, dia membawaku ke dokter yang bertarif lebih mahal. Tempat prakteknya saja terlihat sangat mewah. Aku tidak pernah membayangkan bisa memeriksakan kandunganku di tempat ini.
Dokter itu memeriksakan perutku beberapa kali, ekspresi wajahnya sedikit membuatku cemas. Dokter itu mengerutkan keningnya.
"Ibu bekerja?" tanya dokter itu lembut.
"Iya, dok." jawabku. Ia menghela nafasnya perlahan.
"Mungkin sebaiknya ibu lebih banyak beristirahat dan kalau saya boleh menyarankan sebaiknya ibu tidak bekerja." Ucapan dokter itu membuat jantungku berdebar kencang, ada apa dengan kandunganku? Kenapa aku harus beristirahat dan tidak bekerja?
"Memangnya ada apa ya, dok?" tanya Roni. Aku baru saja ingin menanyakannya tapi Roni sudah lebih dulu bertanya.
"Maaf saya harus berkata seperti ini, tapi bapak dan ibu perlu tahu kalau keadaan janin ini dalam kondisi yang kurang baik." ungkap dokter itu pelan. Deg! Jantungku seperti berhenti berdetak sejenak. Ada apa ini? Sudah hampir 3 bulan dan selama ini keadaannya baik-baik saja, tapi kenapa sekarang seperti ini?
"Ukuran dan beratnya belum sesuai dengan standarnya." lanjut dokter itu.
"Makanya saya menyarankan untuk ibu kalau bisa tidak bekerja dan lebih memperbanyak istirahat serta minum vitamin." tambah dokter. Roni menatap wajahku sejenak lalu kemudian ia kembali menatap dokter itu.
"Kami akan membicarakannya, dok!" ucap Roni.
__ADS_1
"Tolong berikan vitamin yang terbaik ya dok!" pintanya. Aku tersentak mendengar permintaannya itu, sikapnya sangat kebapakan sekali!
"Pasti! Saya akan meresepkan vitamin yang terbaik!" seru dokter.
...
Roni menyalakan mesin mobilnya dan mengatur pendingin ruangan mobilnya itu, lalu sejenak ia menatap mataku. Aduh! Dia membuat jantungku berdebar kencang dan aku jadi salah tingkah!
"Emm.. kamu tidak usah bekerja lagi, ya!" ucapnya tiba-tiba. Ia terlihat sedikit ragu mengucapkannya, mungkin ia takut kalau aku akan tersinggung.
"Kalau aku tidak bekerja, bagaimana aku membiayai semua keperluan hidupku?" tukasku.
"Aku yang akan mencukupinya!" seru Roni penuh keyakinan. Aku sangat terkejut mendengar ucapannya itu.
"Aku yang akan memenuhi semua kebutuhanmu dan anak itu ee.. maksudku anak kita." terang Roni. Luar biasa! Aku seperti tertimpa durian runtuh! Aku beruntung sekali mendapatkan pasangan seperti Roni!
"Bagaimana? Kamu mau kan?!" bujuknya.
"Eem.. tapi aku merasa jadi membebanimu." tukasku.
"Tidak! Kita kan akan menikah!" ucap Roni.
__ADS_1
"Tapi kan kita belum menikah." bantahku. Roni terdiam sejenak, ia kembali menatap mataku dengan seksama.
"Baiklah, kalau kamu merasa tidak enak denganku, anggap saja aku sedang merawat anakku!" tukas Roni. Sekarang berganti aku yang terdiam, aku tidak bisa membantah ucapannya lagi.
"Bagaimana?" tanyanya.
"Baiklah!" jawabku pasrah.
...
Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.
Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.
Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.
Dukung terus karya-karyaku ya..
Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺
Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..
__ADS_1
Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤
Terima kasih 😘🤗🥰