Sebuah Kebodohan

Sebuah Kebodohan
Episode 24


__ADS_3

"Selain menghitung uang, pekerjaan lo juga sekarang jadi tukang melamun ya?!" tegur Hendra dari belakang tubuhku. Suaranya yang keras itu memecahkan lamunanku.


"Sorry, gue lagi ga enak badan." ucapku beralasan. Hendra mengangguk-anggukkan kepalanya.


Sudah hampir 1 bulan Roni tidak menghubungiku ataupun datang ke kontrakanku, mungkin ia benar-benar tidak akan bertanggung jawab padaku, ia benar-benar tidak ingin membawaku ke masa depannya.


"Tuh ponsel lo dari tadi bergetar!" seru Hendra memberitahuku dan aku baru menyadarinya kalau ponselku yang tergeletak di meja bergetar panjang.


"Ponsel ada di belakang lo saja lo bisa ga sadar kalau dari tadi bergetar!" makinya.


"Lo lagi ngelamun mesum ya?!" candanya.


"Huh!" gerutuku sambil meraih ponselku. Aku terdiam terpaku, jantungku berdebar kencang saat mengetahui kalau yang menelepon ponselku itu Roni.


"Ha.. halo!" sapaku gugup.


"Halo!" sahutnya. Suaranya terdengar begitu manis di telingaku.


"Winda Amelia?" tanyanya pelan.


"Panggil saja Amel!" ucapku.


"Ya! Ini aku! Ada apa ya?" tanyaku.


"Apa kita bisa bertemu hari ini?" ucapnya balik bertanya.


"Tidak bisa." jawabku.


"Aku sedang bekerja sekarang!" terangku.

__ADS_1


"Mmm... kamu kerja di mana?" tanyanya.


"Di toko roti." jawabku singkat.


"Kamu bisa share location tempat kerjamu?" tanyanya lagi.


"Untuk apa?" ucapku balik bertanya.


"Aku akan menjemputmu pulang kerja nanti!" terangnya.


"Boleh?" Jantungku berdebar sangat kencang sampai-sampai aku merasa dadaku akan meledak!


"Kamu pulang jam berapa?" tanyanya. Suaranya terasa lebih lembut dari sebelumnya.


"Aku pulang jam 8 malam." jawabku pelan.


Aku meletakkan kembali ponselku di atas meja dan aku berjongkok karena kakiku terasa lemas. Jantungku terus berdebar kencang. Ini bukan pertama kalinya aku bertemu dengannya tapi aku entah mengapa aku merasa sangat gugup karena dia akan menjemputku dan aku sangat bahagia!!


...


Perasaanku mulai tak karuan, 15 menit lagi toko ini akan tutup dan waktunya aku pulang. Malam ini Roni akan menjemputku! Ya Tuhan aku merasa sangat gugup!


"Triiiiing!" Bel toko berbunyi pertanda ada pengunjung yang datang.


"Selamat datang, selamat..." Ucapanku terhenti ketika melihat sosok tampan yang menjadi pengunjung toko malam itu.


"Hai!" sapa Rio sambil mengangkat tangan kanannya. Ia terlihat kikuk! Ia berkeliling toko sambil melihat-lihat produk yang ada di toko tempatku bekerja itu.


Tampilannya malam ini sungguh sangat tampan! Ia mengenakan kaus slim fit berwarna biru tua yang dipadu dengan jeans hitam panjang. Bentuk tubuhnya benar-benar keren!

__ADS_1


"Siapa itu, Mel?" tanya Hendra.


"Teman gue!" jawabku singkat.


"Teman lo?" tanyanya lagi. Aku mengangguk pelan.


"Kalau itu cuma teman lo, kenapa lo kelihatan salah tingkah begitu?" ledek Hendra.


"Hah?!" Aku tersentak mendengar ucapan Hendra barusan.


"Tidak! Gue tidak salah tingkah kok!" bantahku. Seketika wajahku memerah, jantungku jadi berdebar kencang karena ledekan Hendra itu. Hendra tertawa lepas karena puas bisa meledekku.


...


Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.


Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.


Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.


Dukung terus karya-karyaku ya..


Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺


Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..


Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤


Terima kasih 😘🤗🥰

__ADS_1


__ADS_2