Sebuah Kebodohan

Sebuah Kebodohan
Episode 49


__ADS_3

"Seenaknya saja kamu meminta maaf pada saya! Memangnya kamu pikir saya membesarkan anak saya ini tidak pakai perjuangan?" maki bapak. Roni tertunduk, akupun tertunduk. Aku benar-benar merasa bersalah pada Roni.


"Sekarang setelah melemparkan kotoran ke wajah saya dengan membuat aib pada keluarga kami, kamu dengan mudahnya meminta maaf!" lanjut bapak.


"Kamu pikir keluarga kami ini apa?!" seru bapak marah. Suara bapak terdengar sangat kerasa hingga memekakkan telinga.


"Kamu pikir maafmu itu bisa mengembalikan masa depan anak saya yang sudah kamu hancurkan itu?" tambah bapak.


"Ijinkan saya menebus dosa dan kesalahan saya ini, pak." pinta Roni.


"Tidak! Saya tidak akan mengijinkanmu menikahi putri saya!" seru bapak. Aku, mamah, dan Tilla terkejut mendengar penolakan bapak.


"Bapak.." ucap mamah pelan. Mamah mengusap punggung bapak beberapa kali untuk menenangkan bapak.


"Anak saya adalah kebanggaan saya! Sekarang kamu, si pembawa aib mau mengambil anak saya begitu saja?" ucap bapak. Aku tidak kuat menahan tangisku lagi dan akhirnya tangisku pun pecah. Bapak tidak tahu kalau sebenarnya anaknya inilah si pembawa aib untuk keluarga pria baik ini. Aku tidak pantas menjadi kebanggaan bapak! Maafkan Amel, pak!


"Bapak..." panggilku dengan suara lirih.


"Kalau bapak tidak mengijinkan Roni menikahiku, bagaimana dengan anak ini, pak?" ucapku di sela-sela tangisku. Bapak menatapku, ia menatapku dengan tatapan kecewa.

__ADS_1


Bapak terduduk di kursinya, air matanya mengalir membasahi pipinya. Aku bersimpuh di hadapan bapak dan meletakkan kepalaku di dalam pangkuannya.


"Maafkan Amel, pak." ucapku pelan.


"Amel membawa musibah untuk keluarga ini." lanjutku.


"Ijinkan Amel dan Roni memperbaiki semuanya, pak." pintaku. Bapak masih saja diam, tapi air matanya terus mengalir.


"Saya berjanji akan selalu berusaha membuat Amel bahagia, pak! Saya mohon ijinkan saya menebus kesalahan ini pada bapak!" pinta Roni.


...


"Aku pulang ya." ucapku setelah selesai menaruh barang-barang Roni di hotel.


"Aku ingin bicara denganmu sebentar saja." ucap Roni. Jantungku berdebar kencang ketika mendengar ucapannya itu. Apa yang akan dibicarakannya padaku? Apakah dia marah padaku?


Aku duduk di sofa yang ada di kamar hotel itu dan Roni duduk di sampingku. Sejenak ia hanya tertunduk lalu kemudian ia memutar sedikit tubuhnya menghadapku dan menatapku dengan tatapan lembut. Dia terlihat sangat tampan malam ini. Mataku beralih pada pipinya, samar-samar masih terlihat bekas tamparan bapak tadi.


Tanganku bergerak secara spontan menyentuh pipinya itu. Roni terkejut dengan sentuhan tanganku itu dan akupun tersadar, aku menarik tanganku tapi dengan cepat tangan Roni menangkap tanganku. Wajahnya terlihat sangat serius. Apakah dia marah karena aku menyentuhnya?

__ADS_1


Jantungku berdebar dengan sangat kencang hingga membuat dadaku terasa sesak. Perlahan Roni menempelkan kembali tanganku itu ke pipinya dan ia memejamkan matanya seakan menunjukkan kalau ia menikmati sentuhan tanganku itu. Astaga, jantungku sepertinya akan meledak!


...


Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.


Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.


Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.


Dukung terus karya-karyaku ya..


Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺


Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..


Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤


Terima kasih 😘🤗🥰

__ADS_1


__ADS_2