
Hari ini aku dan Roni akan pergi ke kampung halamanku, Roni sudah menyiapkan segala sesuatunya yang kami perlukan. Kami menempuh perjalanan dengan menggunakan bus karena aku belum diperkenankan menaiki pesawat. Jantungku berdebar kencang karena bisa duduk berdekatan dengan Roni seperti ini.
Roni mengatur kursiku agar aku bisa nyaman. Dia sangat peka dengan semua yang kubutuhkan dan kurasakan. Mungkin karena ada anaknya di dalam perutku makanya dia bersikap seperti itu, kalau tidak pasti dia tidak akan pernah memperlakukan aku seperti itu.
"Aku mau ke minimarket sebentar, kamu mau kubelikan sesuatu?" tanya Roni. Aku menggeleng pelan.
"Kalau begitu, aku pergi dulu ya!" pamitnya. Aku menganggukkan kepalaku. Baru selangkah Roni pergi, tiba-tiba saja ponselku yang berada di dalam tas bergetar. Aku segera merogoh tasku itu untuk mengambil ponselku.
Aku tersentak, ternyata Adnan mengirimiku sebuah pesan singkat. Dengan cepat aku membuka pesan itu. Aku tersentak begitu membaca pesan singkat dari Adnan itu.
'Gue butuh uang sejuta, kirim segera!' Begitu bunyi pesan singkatnya. Dia pikir aku apa? Menyuruhku seperti itu! Begitu mudahnya dia meminta uang 1 juta padaku!
Aku mengabaikan pesan singkat Adnan itu dan mengembalikan ponselku ke dalam tas. Tak lama kemudian Roni kembali dengan sekantung belanjaan yang berisi minuman dan beberapa makanan. Aku membantunya untuk dapat duduk kembali di kursinya karena ia terlihat kesulitan untuk kembali duduk.
"Kamu membeli makanan dan minuman sebanyak ini, apa kamu mau piknik?" candaku. Aku tertawa kecil.
"Kata orang, wanita hamil itu sering merasa lapar, makanya aku beli makanan-makanan ini." terangnya. Aku langsung terdiam terpaku mendengar penjelasannya kenapa membeli makanan sebanyak itu. Aku tidak menyangka kalau karena memikirkanku ia sampai bertindak selugu itu. Aku benar-benar tersentuh dengan sikapnya itu.
__ADS_1
"Kamu sudah membawa vitamin-vitaminmu, kan?!" tanyanya memastikan. Aku mengangguk pelan.
"Aku tidak mau terjadi sesuatu pada anakku." ucapnya pelan. Deg! Jantungku seperti berhenti berdetak sejenak. Dia bertindak seperti itu karena anaknya berada di dalam perutku! Aku lupa dengan posisiku! Kalau tidak ada anak ini, Roni juga pasti tidak akan pernah memperlakukanku semanis ini. Seketika perasaanku menjadi tidak enak.
"Hei! Kamu melamunkan apa?" tanya Roni. Suaranya itu memecahkan lamunanku. Aku menggeleng pelan.
"Kamu mau memakan sesuatu?" tanyanya lembut. Aku menggeleng pelan. Roni menatapku dengan seksama.
"Apa aku melakukan kesalahan?" tanyanya pelan. Aku tersentak. Kutatap wajah tampannya itu. Sebenarnya dia tidak melakukan kesalahan apa-apa, wajar saja kalau dia memperhatikan anaknya dan wajar saja kalau dia tidak memperhatikanku karena aku bukan wanita yang di cintainya, lalu kenapa aku merajuk seperti ini?
"Apa kamu tidak menyukai makanan-makanan ini?" tanya Roni polos.
"Aku akan memakan semua yang kamu belikan itu demi anakmu ini." ucapku tiba-tiba. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku.
"Maksudmu? Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Roni, ia terlihat bingung dengan sikapku.
"Kamu melakukan semua ini hanya demi anakmu ini kan?!" terkaku. Roni terlihat tersentak.
__ADS_1
"Tidak sedikitpun kamu memikirkan aku, kan?!" lanjutku. Roni terlihat sangat terkejut mendengar curahan hatiku itu.
"Bagaimana mungkin aku hanya memikirkan anakku saja sementara anak itu ada di dalam perutmu?!" tukasnya. Wajahnya terlihat sangat serius. Aku terdiam.
...
Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.
Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.
Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.
Dukung terus karya-karyaku ya..
Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺
Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..
__ADS_1
Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤
Terima kasih 😘🤗🥰