Sebuah Kebodohan

Sebuah Kebodohan
Episode 42


__ADS_3

"Bagaimana kalau lusa kita berangkat ke kampung halamanmu?" tanya Roni tiba-tiba. Aku tersentak. Apa keluargaku sudah siap mendengar semua berita ini?


"Bisakah kita menyembunyikan berita kehamilanku dari keluargaku?" pintaku. Berganti kini Roni yang tersentak, ia terlihat sangat terkejut dengan permintaanku itu.


"Keluargaku mungkin tidak bisa menerima berita ini, terutama bapak." ungkapku. Roni menatapku dengan seksama.


"Aku takut bapakku akan bersikap kasar padamu." tambahku. Roni menghela nafasnya perlahan.


"Kalaupun itu yang harus kuterima, aku akan menerimanya sebagai bentuk pertanggung jawabanku." ucap Roni pelan. Dia berhasil membuat jantungku berdebar kencang lagi! Dia bahkan tetap ingin menjalankan tanggung jawabnya meskipun resikonya sangat besar. Bapak pasti akan sangat marah kalau mendengar berita ini. Bagaimana ini?


"Kamu takut?" tanya Roni lembut. Aku menganggukkan kepalaku.


"Aku akan melindungimu." ucapnya dengan suara berbisik. Setelah membuat jantungku berdebar kencang, kini ia berhasil membuat jantungku berhenti berdetak. Dia mengucapkannya dengan sangat romantis, suaranya itu terdengar mesra di telingaku.


"Aku tahu keluargamu pasti tidak akan menerimanya, keluarga mana pun pasti tidak akan senang mendengar kabar seperti ini tapi aku harus mempertanggung jawabkan dosaku ini." ucap Roni lagi.


Dosanya? Dia terus menyebut ini semua sebagai dosanya bahkan di hadapan orang lain. Bagaimana dia tahu kalau semua ini adalah rangkaian dari rencana orang-orang yang mengaku sebagai sahabatnya itu? Tidak! Bukan hanya mereka, akupun terlibat dalam rencana ini! Bagaimana kalau Roni tahu hal ini? Mungkinkah dia masih akan bersikap sebaik ini padaku? Tidak mungkin! Dia pasti akan membuangku! Bukan hanya aku tapi juga anak ini! Aku yakin itu! Aku harus bisa menutup mulutku ini rapat-rapat!

__ADS_1


"Hei!" tegur Roni. Ia menyentuh pundakku dengan lembut.


"Kamu sedang melamunkan apa?" tanyanya.


"Ah! Ee.. aku.." Aku bingung akan menjawab apa.


"Sudah, jangan ketakutan seperti itu terus! Ayo kita hadapi semuanya bersama-sama!" ucap Roni. Ia berusaha menenangkanku, tapi sesungguhnya bukan itu yang lebih kutakuti saat ini. Rasa ketakutanku akan kehilangannya jauh lebih besar dari rasa takut menyampaikan kabar ini. Haruskah hal ini kuungkapkan pada Roni.


"Jadi, bisa kan kita menemui keluargamu lusa?" tanya Roni mengulangi pertanyaan awalnya. Aku mengangguk pelan.


Entah apa yang akan terjadi, aku pasrah dengan semuanya. Aku yakin bapak pasti akan marah besar! Bagaimana kalau bapak memukul Roni? Roni sudah sangat baik sampai saat ini, aku tidak tega kalau harus melihat Roni mendapat perlakuan kasar dari bapak, tapi kalau aku mengakui semua sebagai kesalahanku yang terjadi akan lebih buruk lagi! Maafkan aku! Aku belum mampu untuk mengambil tanggung jawab ini.


"Hei, kamu melamun lagi!" tegur Roni. Suaranya membuatku tersadar.


"Maaf!" ucapku. Roni menghela nafasnya perlahan lagi.


"Maafkan aku, aku jadi membebanimu seperti ini karena kesalahan terbodohku ini!" ucap Roni. Aku tertunduk, aku tidak tega melihat wajahnya dengan ekspresi bersalah seperti itu.

__ADS_1


...


Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.


Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.


Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.


Dukung terus karya-karyaku ya..


Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺


Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..


Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤


Terima kasih 😘🤗🥰

__ADS_1


__ADS_2