Sebuah Kebodohan

Sebuah Kebodohan
Episode 38


__ADS_3

Aku, Roni, dan semua anggota keluarga Roni berkumpul bersama di meja makan untuk menikmati sarapan kami. Aku masih merasa sedikit canggung berada di antara mereka.


"Amel!" panggil ibu Roni lembut ketika aku sedang membantu mbak Ani membereskan peralatan makan yang kami gunakan tadi.


"Ya tante?" sahutku.


"Mama mau bicara sama Amel!" ucap mama.


"Ya, tante!" Aku mengikuti ibunya Roni yang berjalan menuju kamarnya.


Aku benar-benar terpukau melihat kamar orang tua Roni itu, kamarnya tampak sangat mewah dan luas, bahkan luasnya hampir setara dengan setengah luas rumahku.


"Amel duduk dulu!" ucap tante Lina. Aku mengikuti ucapan wanita anggun itu dengan duduk di sofa empuk yang ada di kamar itu, sementara tante Lina seperti sedang mencari sesuatu di dalam lemari pakaiannya yang sangat besar.


Tak lama kemudian ibunya Roni menghampiriku dengan membawa sebuah kotak kecil berwarna merah tua dan duduk di sampingku.


"Amel ingin pesta pernikahan seperti apa?" tanyanya tiba-tiba. Aku tersentak, aku tidak pernah memikirkan tentang pesta pernikahanku.


"Kamu pasti punya gambaran tentang pesta pernikahanmu kan?" tanya tante Lina lagi. Aku terdiam sejenak.

__ADS_1


"Aku tidak pernah memikirkannya, tante." jawabku pelan. Tante Lina terlihat terkejut.


"Panggil saja mama, Amel!" ucapnya.


"Amel sekarang sudah jadi anak mama dan papa." terangnya.


"Iya tante ee.. ma!" ucapku.


"Amel tidak punya pesta pernikahan impian?" Mama mengulangi pertanyaannya. Aku menggeleng pelan.


"Aku belum pernah memikirkannya ma, aku sudah sangat bersyukur Roni mau bertanggung jawab pada kehamilanku." ungkapku. Mama membelai kepalaku dengan lembut, matanya terlihat berkaca-kaca.


"Maafkan anak mama yang nakal itu ya Amel!" ucap mama. Suaranya terdengar bergetar.


"Roni sebenarnya anak yang baik, dia selalu bekerja keras untuk semua impiannya dan selalu bersungguh-sungguh dengan hidupnya, makanya mama benar-benar tidak menyangka kalau dia bisa berbuat hal buruk itu pada Amel." Mama mulai meneteskan air matanya. Aku mengusap lengan mama dengan lembut untuk menenangkannya. Tanganku bergetar, aku benar-benar tidak tega melihat mereka seperti ini. Dadaku terasa semakin sesak.


"Mama minta maaf karena perbuatan buruk Roni itu!" ucap mama. Tangisnya pun pecah. Mama memelukku erat. Apa yang harus kulakukan sekarang? Apakah aku harus mengakui semua perbuatanku? Aku benar-benar tidak tega melihat keluarga yang sangat baik ini menjadi seperti ini! Aku tidak tega melihat Roni terus dipersalahkan dengan perbuatan buruk yang sebenarnya bukan kesalahannya.


Sekuat tenaga aku menahan air mataku agar tidak mengalir. Aku mengusap punggung mama dengan lembut dan berusaha untuk membuatnya lebih tenang. Mama melepaskan pelukkannya dan menatap kedua mataku dengan seksama.

__ADS_1


"Walaupun dia sudah melakukan kesalahan besar itu, mama yakin kalau Roni akan menjadi suami yang baik untuk Amel, karena sebenarnya Roni adalah laki-laki yang baik!" ungkap mama. Aku mengangguk pelan. Aku setuju dengan pernyataan mama, akupun yakin Roni akan menjadi suami yang baik dan ayah yang baik untuk anaknya ini.


"Amel mau kan memaafkan Roni?" tanya mama.


"Amel mau kan menyayangi Roni dengan segenap hati?" tanya mama lagi. Aku menganggukkan kepalaku.


...


Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.


Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.


Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.


Dukung terus karya-karyaku ya..


Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺


Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..

__ADS_1


Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤


Terima kasih 😘🤗🥰


__ADS_2