
"Aku akan mengantarkanmu pulang." ucap Roni pulang.
"Tidak perlu!" tolakku.
"Keadaanmu seperti itu, kamu mau pulang dengan angkutan umum?" tanyanya.
"Iya! Memangnya kenapa?" ucapku balik bertanya.
"Matamu bengkak!" terangnya.
"Biarkan saja! Apa pedulimu?!" seruku kesal. Roni menghela nafasnya.
"Kamu hanya akan mempermalukan dirimu sendiri." tukasnya.
"Yang malu kan aku bukan kamu! Kenapa kamu mengkhawatirkannya? Memangnya kalau aku dipermalukan orang lain, kamu juga akan merasa malu?" cecarku. Emosiku menjadi sangat tak karuan. Aku menarik beberapa lembar tisu dan mengusap pipiku untuk menghapus sisa-sisa air mataku.
"Kamu itu sedang membawa anakku!" seru Roni. Suaranya terdengar cukup keras, sepertinya ia merasa kesal dengan penolakkanku. Sikapnya itu membuatku takut, tapi... aku tidak boleh kalah!
"Oh ya ini anakmu ya?! Kamu hanya menginginkan anak ini kan?! Aku tidak akan pernah menyerahkannya padamu!" seruku. Ia menatapku dengan sorot mata tajam, keningnya berkerut.
Aku membereskan berkas-berkas hasil pemeriksaan kandunganku dan memasukkannya kembali ke dalam tasku. Aku bergegas menuju pintu, tapi dengan cepat Roni menghadangku dengan berdiri di depan pintu itu.
__ADS_1
"Aku mau keluar!" seruku. Roni menghela nafasnya dengan kasar.
"Ijinkan aku memgantarmu pulang!" pintanya. Suaranya terdengar lebih lembut dari sebelumnya, sepertinya ia menahan emosinya sekuat tenaga.
"Kamu sedang hamil dan matamu juga bengkak karena menangis, kalau kamu menggunakan angkutan umum, orang-orang akan membicarakanmu!" ungkapnya.
"Ayolah! Aku akan mengantarkanmu pulang dengan baik!" bujuknya. Ia menatap kedua mataku dengan lembut. Aku tahu dia masih kesal, tapi dia sangat baik karena mau mengalah untukku.
Akhirnya aku mengikuti keinginanya. Ia membukakan pintu mobilnya untukku dan membantuku masuk ke dalam mobilnya karena mobilnya memiliki postur yang sedikit lebih tinggi daripada mobil biasanya. Sikapnya sangat gentle, aku suka dengan sikapnya ini, tapi aku masih marah dengan rencana konyolnya itu. Kuharap dia akan berubah pikiran dan mau membawaku juga di masa depannya.
Roni menepati janjinya, ia membawaku pulang menggunakan mobilnya dengan sangat baik.
"Iya!" jawabku singkat.
"Berapa kamu menyewa tempat ini?" tanyanya lagi.
"Murah!" jawabku ketus. Ia memalingkan pandangannya ke wajahku dan perlahan menghela nafasnya.
"Baiklah! Kapan-kapan aku akan mengunjungimu lagi!" ucapnya pelan.
"Tidak perlu!" tolakku.
__ADS_1
"Kalau kamu hanya ingin mengambil anakku, lebih baik kamu jangan pernah mengunjungiku lagi!" ucapku tegas. Lagi-lagi Roni menghela nafasnya dengan pasrah.
Dengan sedikit kewalahan aku turun dari mobil Roni, Roni tidak membantuku seperti tadi karena aku melarangnya keluar dari mobilnya. Aku takut tetangga-tetanggaku akan membicarakan yang tidak-tidak kalau melihat wajah dan penampilannya itu. Begitu berhasil turun dari mobilnya, aku bergegas masuk ke dalam kontrakanku dan mengunci pintunya rapat-rapat. Aku memperhatikannya dari balik jendela, mobilnya tidak segera meninggalkan lingkungan tempat tinggalku, entah apa yang dilakukannya. Dan aku baru bisa menjauh dari jendela kontrakanku setelah mobilnya pergi.
...
Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.
Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.
Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.
Dukung terus karya-karyaku ya..
Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺
Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..
Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤
Terima kasih 😘🤗🥰
__ADS_1