
"Kamu terbangun karena suara berisik air ya?" tanya Roni. Aku mengangguk pelan.
"Maaf!" ucapnya singkat.
"Kupikir tadi ada 'penghuni lain' yang menyalakan keran air." ungkapku polos. Mendengar ucapanku itu, Roni terbahak-bahak.
"Kamu pikir rumahku ini rumah hantu?!" serunya di sela-sela tawanya. Entah mengapa suara tawanya itu terdengar menyenangkan sekali di telingaku. Aku membelai lembut perutku, aku berharap anak ini akan menjadi sama seperti ayahnya.
Roni membuka pintu lemari pakaiannya dan mulai mengeluarkan beberapa pakaian yang akan di kenakannya.
"Bagaimana semalam?" tanyaku pelan. Roni terdiam sejenak, tak lama kemudian ia berbalik badan menghadapku.
"Bisakah kamu berbalik?" tanyanya pelan.
"Hah?" Lagi-lagi aku tidak mengerti dengan ucapannya.
"Aku ingin mengenakan pakaian." terangnya.
"Apa kamu mau melihatku berganti pakaian?" tanyanya. Dia sedang bercanda? Tapi wajahnya terlihat serius!
"Tidak!" seruku begitu menyadari maksud dari ucapannya. Aku segera berbalik badan dan samar-samar terdengar suara tawa, sepertinya Roni sedang menertawakanku. Apakah masalah dengan orang tuanya sudah selesai sampai-sampai dia bisa terus tertawa seperti itu? Aku harap begitu!
Ah iya! Aku melupakan sesuatu! Aku harus menanyakan ke mana foto besar itu menghilang bersama foto-foto lainnya?
"Apa kamu yang memindahkan foto besar itu?" tanyaku tanpa membalikkan tubuhku.
__ADS_1
"Foto besar apa?" ucap Roni balik bertanya.
"Foto besar yang ada di sana!" ucapku sambil menunjuk dinding tempat foto besar itu tergantung semalam.
"Tidak! Tidak ada foto di situ!" bantahnya.
"Mungkin kamu hanya bermimpi!" ucapnya.
"Tidak mungkin! Adikmu saja melihatnya, dia bilang kalau akan menyuruhmu yang melepaskannya." ungkapku.
"Kamu yakin?" tanyanya.
"Huaaa!" Aku menjerit karena Roni berbicara di telingaku dari belakang, rupanya ia sudah selesai berpakaian. Lagi-lagi ia tertawa karena berhasil menggodaku. Aku memasang ekspresi kesal.
"Tidak perlu menanyakan hal yang tidak perlu dipertanyakan lagi." ucapnya pelan. Aku mencoba mencerna ucapannya itu perlahan-lahan dan ia tertawa lagi karena ekspresiku terlihat sangat bodoh. Aku memang sangat kesal karena dia terus menggodaku, tapi aku merasa bahagia melihat tawanya.
"Semalam kamu tidur di mana?" tanyaku.
"Di sini, bersamamu!" jawabnya singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. Aku tersentak mendengar jawabannya. Apa benar semalam kami tidur bersama? Seketika jantungku berdebar kencang hingga membuat dadaku terasa sesak.
"Apa kamu tidak merasa kalau aku tidur di sampingmu?" tanyanya. Ia melirik ke arahku.
"Berhenti menggodaku!" seruku kesal. Ia tertawa keras mendengar seruanku itu.
"Sampai kapan kamu mau berdiri di situ?" tanyanya. Ah iya! Aku terus berdiri di tempat yang sama dari tadi! Lalu aku harus ke mana? Apakah aku duduk di kursi kerjanya atau aku duduk di ranjang itu bersamanya?
__ADS_1
Dengan jantung yang terus berdebar kencang, kuputuskan akan duduk di sampingnya di ranjang itu. Aku akan balik menggodanya! Aku duduk dekat sekali dengannya hingga lengan kami pun saling bersentuhan.
"Kamu sedang melakukan apa?"Aku berpura-pura menanyakan apa yang sedang ia lakukan dengan ponselnya. Ia terdiam, sepertinya aku berhasil menggodanya. Aku menolehkan wajahku menghadap wajahnya, saat ini wajah kami menjadi sangat dekat. Walaupun aku yang mencoba menggodanya tapi jantungku pun itu berdebar kencang.
Aku tersentak, bukannya menjauh dari wajahku dan merasa malu-malu, Roni malah mendekatkan wajahnya ke wajahku, bahkan hidung kami pun saling bersentuhan, dan Roni membuat jantungku nyaris meledak karena bibir kami nyaris menempel. Dengan cepat aku memalingkan wajahku sebelum ciuman itu terjadi, dan lagi-lagi Roni tertawa. Ternyata ia menggodaku lagi! Aarrggghh! Aku kesal karena tidak berhasil menggodanya tapi malah kalah dengannya!
"Aku tahu kamu gadis yang baik!" bisiknya. Aku tersentak, kutatap wajahnya dan ia tersenyum lembut padaku.
"Maafkan aku sudah melakukan hal yang tidak baik itu padamu!" ucapnya. Ia menepuk-nepuk kepalaku dengan lembut, ia melakukannya seperti sedang menepuk-nepuk kepala seekor anak anjing. Kurasa jantungku berhenti berdetak!
...
Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.
Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.
Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.
Dukung terus karya-karyaku ya..
Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺
Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..
Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤
__ADS_1
Terima kasih 😘🤗🥰