Sebuah Kebodohan

Sebuah Kebodohan
Episode 32


__ADS_3

Sore ini Roni mengajakku berkunjung ke rumahnya. Rumahnya tampak minimalis tapi terlihat sangat mewah. Melihat rumahnya yang seperti ini, aku jadi ragu kalau orang tuanya dulu hanya seorang buruh! Aku yakin kalau dia terlahir dengan kondisi keluarga yang sudah kaya raya!


"Ini rumah orang tuaku!" ucap Roni pelan. Aku mengangguk-anggukkan kepalaku.


"Ayo turun!" ajak Roni.


"Tunggu dulu!" seruku sesaat sebelum Roni membuka pintu mobilnya.


"Tadi kamu bilang ini rumah orang tuamu, apa kamu memiliki rumah sendiri?" tanyaku. Sejenak Roni hanya menatapku tanpa berbicara apa pun tapi kemudian ia menghela nafasnya perlahan.


"Iya! Aku memiliki rumah sendiri yang saat ini aku tempati." ungkap Roni.


"Aku sedang mempersiapkan rumah itu agar bisa ditempati setelah menikah." tambahnya. Entah mengapa dalam pandanganku wajah Roni terlihat sedih, mungkin sebenarnya rumah itu sedang ia persiapkan untuk ditempatinya setelah menikahi kekasihnya itu, tapi ia malah menikah denganku.


"Ayo turun!" ajak Roni lagi. Suara Roni itu memecahkan lamunanku. Aku segera keluar dari mobil.


Roni membukakan pintu utama rumahnya itu dan mempersilahkanku untuk masuk. Ini pengalaman pertamaku menginjakkan kaki di rumah semewah itu, rasanya aneh dan canggung sekali! Jantungku berdebar kencang. Aku merasa gugup sekali akan bertemu dengan keluarga Roni.


"Mas Roni!" seru seorang wanita setengah baya yang melihat Roni dan aku memasuki rumah itu. Itukah ibunya?


"Mama dan papa ada di rumah, bi?" tanya Roni lembut.


"Ibu ada di halaman belakang, mas! Kalau bapak masih belum pulang!" terang wanita itu.

__ADS_1


"Bibi panggilkan ibu dulu ya mas!" serunya.


"Iya, bi! Terima kasih ya!" ucap Roni. Wanita itu melangkah dengan cepat meninggalkan kami.


"Itu bi Ani, orang yang membantu ibuku merawat semuanya yang ada di sini!" terang Roni padaku. Aku mengangguk-anggukkan kepalaku.


"Duduk, Mel!" ucap Roni mempersilahkanku untuk duduk di sofa mewah milik keluarganya.


Tak lama kemudian datang seorang wanita anggun yang umurnya tidak jauh dari bi Ani, wanita itu terlihat sangat cantik! Itu pasti ibunya! Pantas saja Roni memiliki mata yang indah, Roni mewarisi mata indah ibunya. Semoga saja kelak anakku ini pun mewarisi keindahan mata mereka.


"Kamu pulang kok tidak memberi kabar dulu, mak!" seru ibunya Roni. Aku beranjak dari tempat dudukku.


"Kan aku mau buat kejutan!" canda Roni.


"Siapa temanmu ya?!" terka ibunya itu.


"Ini Amel, ma! Winda Amelia!" ucap Roni memperkenalkanku.


"Selamat sore, tante!" sapaku.


"Selamat sore, Amel! Saya tante Lina, mamanya Roni!" sahut calon mertuaku itu, ia sangat ramah!


"Ropha tidak ikut, Ron?" tanya tante Lina. Roni tersentak mendengar ibunya menanyakan mantan kekasihnya itu, sepertinya Roni belum menceritakan apa-apa tentang semua yang terjadi.

__ADS_1


"Papa belum pulang, ma?" Roni terlihat kikuk, ia berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Mungkin sebentar lagi papa pulang!" jawab tante Lina. Sejenak ia menatap putra tampannya itu dengan seksama.


"Ada apa, Ron?" tanya tante Lina akhirnya.


"Tunggu papa pulang, nanti Roni ceritakan, ma!" jawab Roni. Tante Lina menatap curiga pada Roni.


...


Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.


Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.


Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.


Dukung terus karya-karyaku ya..


Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺


Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..


Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤

__ADS_1


Terima kasih 😘🤗🥰


__ADS_2