Sebuah Kebodohan

Sebuah Kebodohan
Episode 75


__ADS_3

"Ada apa, kak? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ropha. Roni terdiam sejenak, ia menundukkan kepalanya sebentar dan sesaat kemudian ia menatap kedua mata Ropha.


"Mungkin sebaiknya kamu dan Amel tidak perlu berhubungan lagi!" ucap Roni pelan. Ropha tampak sangat terkejut mendengar ucapan Roni barusan. Roni menatap kedua mata Ropha.


"Maaf aku harus mengatakan semuanya ini!" ucap Roni lagi. Ropha terdiam menatap mantan kekasihnya itu.


"Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan dan lakukan tadi, aku juga tidak tahu mengapa semua ini bisa terjadi, tapi kamu perlu mengetahuinya kalau Amel nyaris saja kehilangan bayinya!" Terang Roni.


"Hah?!" Ropha terlihat sangat terkejut.


"Tidak! Bukan hanya Amel, tapi aku juga nyaris kehilangan bayiku!" tegas Roni.


"Dokter bilang kalau Amel tertekan! Aku tidak tahu apa yang menyebabkannya, aku tidak tahu tekanan apa yang dirasakannya saat ini!" ungkap Roni.


"Aku tidak ingin kehilangan bayi itu!" ucap Roni. Matanya terlihat berkaca-kaca.


"Bisakah kamu tidak menghubungi atau bertemu dengannya lagi?" pinta Roni.


"Kumohon!" ucapnya pelan.

__ADS_1


"Hanya satu yang ada di benakku saat ini, kurasa sudah saatnya kita harus mengakhiri semuanya sampai di sini! Sudah saatnya kita tidak memiliki hubungan apa-apa selain pekerjaan!" lanjut Roni. Air mata Ropha mulai berkumpul di pelupuk mata cantiknya.


"Maafkan aku sudah mengatakan ini semua!" tambahnya. Roni menundukkan kepalanya. Ropha terdiam sejenak sambil terus memandangi wajah tampan mantan kekasihnya itu, perlahan sebutir air mata mengalir ke pipinya tapi dengan cepat ia menghapus air mata itu dengan tangannya sebelum Roni melihatnya.


"Baiklah!" ucap Ropha pelan. Roni menganggkat kepalanya dan kembali menatap Ropha.


"Maafkan aku yang sudah membuat kekacauan ini semua! Tolong sampaikan permintaan maafku pada Amel!" lanjutnya. Roni menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih banyak sudah mau mengerti keadaan ini!" ucap Roni. Ropha memaksakan dirinya untuk tersenyum lembut pada Roni dan tak lama kemudian Roni berlalu dari hadapannya. Setelah Roni menghilang dari pandangannya barulah semua air mata yang ditahannya sedari tadi tumpah membasahi pipinya.


"Dia benar-benar pria yang sangat baik!" gumam Ropha di sela-sela tangisnya.


...


...


Aku membuka mataku perlahan, seketika seberkas cahaya yang menyilaukan masuk ke dalam mataku dan perlahan-lahan mataku mulai beradaptasi. Aku memperhatikan sekitarku, entah di mana aku berada saat ini, ini seperti sebuah kamar di rumah sakit tapi terlihat cukup mewah dan aku baru pertama kalinya melihat ruang rawat pasien sebagus ini.


Aku mencoba menegakkan tubuhku dan duduk di ranjang tempatku terbaring, tidak ada orang lain selain aku di ruangan itu. Di mana orang-orang? Apa tidak ada yang menemaniku selama aku berada di sini? Di mana Ropha?

__ADS_1


"Sreeeekkk!" Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, seorang wanita muda yang mengenakan seragam perawat masuk ke ruangan itu dan menghampiriku.


"Wah syukurlah ibu sudah sadar!" seru perawat itu dengan ekspresi wajah yang ceria.


"Suster!" panggilku pelan.


"Ya ibu?" tanya perawat itu.


"Apa tidak ada yang menjenguk saya di sini?" tanyaku. Perawat itu tersentak.


"Ada ibu! Suami ibu terus menemani ibu di sini!" jawab perawat itu.


"Suami?" tanyaku pelan.


"Iya, suami ibu yang tampan itu! Dari kemarin beliau terus menemani ibu di sini, bahkan beliau sampai tidak mau makan sama sekali!" terangnya. Hatiku terasa sangat hangat mendengar ucapan perawat itu.


"Tadi dokter kenalan suami ibu yang bekerja di rumah sakit ini juga memaksa suami ibu untuk makan bersama karena suami ibu terus-terusan tidak mau makan!" ungkapnya.


"Mungkin sebentar lagi juga suami ibu kembali!" tambah perawat itu.

__ADS_1


"Sreeekkk!" Pintu ruangan ini kembali terbuka dan benar saja ucapan perawat itu, sosok yang sangat kucintai itu muncul dari balik pintu.


...


__ADS_2