Sebuah Kebodohan

Sebuah Kebodohan
Episode 18


__ADS_3

Roni meregangkan tubuhnya sejenak dan kemudian membenarkan kembali posisi duduknya.


"Maaf ya membuatmu menunggu lama." ucapnya. Ia memang pria yang sopan! Aku mengangguk pelan.


"Ah! Baiklah sekarang kita selesaikan masalah kita!" serunya.


Roni menatapku sejenak, perlahan raut wajahnya berubah menjadi serius. Ia menghela nafasnya perlahan. Jantungku berdebar kencang karena tatapan matanya itu.


"Jadi sekarang berapa umur kandunganmu?" tanyanya pelan.


"Emm.. delapan minggu." jawabku. Ia kembali terdiam dan hanya menatapku.


"Hmm.." Roni kembali menghela nafasnya perlahan.


"Aku bingung mau memulainya dari mana!" ucapnya. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya beberapa kali. Sepertinya ia sangat terbeban dengan kehamilanku ini.


Aku mengeluarkan berkas pemeriksaan kehamilanku dan foto USG janin yang ku kandung. Aku menyodorkan berkas-berkas itu ke hadapannya. Ia menghela nafasnya lagi dan sesaat kemudian mulai memperhatikan berkas-berkas itu.


"Kamu yakin tentang semuanya ini?" tanya Roni pelan. Ia kembali menatapku.


"Maksdunya?" tanyaku bingung.


"Ee.. maksudnya begini.. mm.. ini pertama kalinya hal ini terjadi padaku." ucapnya terbata-bata. Sepertinya dia menolak kehamilanku.


"Kamu pikir aku sudah berkali-kali seperti ini?" tukasku. Suaraku terdengar bergetar.

__ADS_1


"Bukan begitu maksudku!" bantahnya.


"Aku biasa meminum minuman beralkohol dalam jumlah besar tapi aku tidak pernah mabuk berat seperti waktu itu lalu menerobos kamar orang lain." ungkapnya.


"Ini pertama kalinya aku seperti itu." akunya. Ia menatapku, ia terlihat bersungguh-sungguh.


"Aku minta maaf karena sudah melakukan semuanya itu padamu, aku benar-benar tidak tahu apa yang menyebabkan aku bisa seperti itu." ucapnya.


"Sampai saat ini pun aku tidak bisa mengingat bagaimana aku bisa menerobos ke kamarmu." lanjutnya.


"Aku bingung harus berbuat apa sekarang." ucapnya pelan.


"Kamu hanya perlu bertanggung jawab dengan apa yang sudah terjadi." ucapku.


"Tidak semudah itu!" tukasnya. Aku tersentak, jantungku mulai berdebar kencang. Apa dia tidak ingin bertanggung jawab pada kehamilanku ini? Bagaimana ini?


"Apa kamu pikir keluargaku tidak akan terbeban dengan semuanya ini" tukasku. Ia menghela nafasnya dengan kasar. Dia benar-benar menolak kehamilanku! Rasanya aku ingin menangis!


"Aku punya sebuah rencana yang mungkin bisa jadi jalan terbaik untuk kita." ucapnya pelan.


"Apa itu?" tanyaku.


"Aku akan membiayai semua perawatan yang di butuhkan oleh anak itu sampai dia lahir." jawabnya.


"Lalu?" tanyaku lagi.

__ADS_1


"Setelah anak itu lahir, biarkan aku yang membawanya dan membesarkannya." terangnya. Dia benar-benar membuatku sangat terkejut dengan rencananya itu. Aku benar-benar terpukul, bukan anak ini yang tidak dia inginkan tapi kehadiranku di hidupnyalah yang tidak diinginkannya.


"Aku memiliki seorang wanita yang sangat kucintai, kami akan segera melangsungkan pertunangan kami, dan aku berharap bisa hidup bersamanya di sepanjang umurku." ungkapnya. Dadaku terasa sesak sekali mendengarnya. Kutatap kedua matanya dengan sorot mata tajam.


"Lalu bagaimana denganku?" tanyaku pelan. Ia tersentak dan menatapku dengan seksama.


"Aku memang tidak punya orang yang kucintai sepertimu itu, tapi apakah akan ada yang mau pada wanita sepertiku yang sudah kehilangan keperawananya dan sudah pernah melahirkan?" lanjutku. Perlahan air mataku menetes ke pipi. Ia hanya terdiam sambil terus menatapku.


"Kamu sudah mengambil keperawananku dan sekarang kamu akan mengambil anakku juga?" tanyaku pelan.


"Di mana hati nuranimu?" ucapku. Air mataku mengalir deras. Aku takut kalau dia benar-benar tidak akan bertanggung jawab padaku! Bagaimana aku akan menghadapi semuanya ini? Aku tahu ini bukan kesalahannya tapi... bagaimana dengan hidupku yang terlanjur seperti ini? Tangisku pun akhirnya pecah di hadapannya.


...


Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.


Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.


Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.


Dukung terus karya-karyaku ya..


Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺


Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..

__ADS_1


Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤


Terima kasih 😘🤗🥰


__ADS_2