Sebuah Kebodohan

Sebuah Kebodohan
Episode 73


__ADS_3

Roni merapikan semua berkas-berkasnya dan memasukkannya ke dalam tas kerjanya. Ia telah menyelesaikan pertemuannya dengan investornya dan menghasilkan hasil yang cukup memuaskan baginya, meskipun ia mengawali pagi dengan sebuah pertengkaran dengan wanita yang sebentar lagi akan dinikahinya.


"Trrrttttt... tttrrrttt!" Tiba-tiba ponselnya yang tergeletak di meja bergetar, sebuah panggilan masuk di ponselnya itu. Roni melihat siapa yang meneleponnya saat itu, ia tersentak begitu mengetahui kalau Ropha meneleponnya.


"Bukannya dia sedang bertemu dengan Amel?" gumam Roni pelan. Roni bergegas menerima panggilan itu.


"Ya Pha?" sapa Roni lembut.


"Kak Roni!" Terdengar suara lembut Ropha dari seberang sana, tapi suaranya itu terdengar sedikit aneh, Ropha seperti sedang berada dalam keadaan kalut.


"Kamu kenapa, Pha?" tanya Roni. Ia terlihat sedikit mengkhawatirkan keadaan Ropha.


"Bagaimana ini kak Roni?" tanya Ropha, kali ini suaranya terdengar bergetar.

__ADS_1


"Ada apa, Pha? Katakan padaku!" seru Roni.


"Terjadi sesuatu dengan Amel, kak! Aku sedang menuju rumah sakit bersama Amel!" terang Ropha.


"Ada apa dengan Amel?" tanya Roni, ia terlihat sangat kalut.


"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, aku tidak mengerti apa yang dialaminya, kak!" ungkap Ropha.


"Aku akan segera ke sana!" seru Roni.


...


Ropha menaruh ponselnya kembali di dasboard mobilnya. Air matanya mengalir perlahan membasahi pipinya, sesekali ia menoleh ke arahku yang duduk di sampingnya untuk memastikan keadaanku.

__ADS_1


"Maafkan aku!" ucapnya dengan suara bergetar. Ia menghapus air mata yang mengalir ke pipinya dengan tangannya tapi berkali-kali ia menghapusnya, pipinya terus basah dengan air mata karena air matanya itu tidak mau berhenti mengalir.


"Aku benar-benar minta maaf!" ucap Ropha lagi. Ia terlihat sangat menyesal dan mengkhawatirkan keadaanku padahal aku sudah melakukan hal yang sangat jahat padanya, bahkan ia mengendarai mobilnya dengan sangat cepat agar kami bisa segera tiba di rumah sakit. Aku meraih tangan kiri Ropha perlahan, Ropha terlihat terkejut dengan sikapku itu. Aku menggenggam tangannya itu dengan lembut.


Perutku terasa sangat sakit, aku pun bisa merasakan kalau ada sesuatu yang mengalir di pahaku dan itu adalah darah. Ropha dan para perawat mendorong emergency bed yang sedang kutiduri menuju Ruang Gawat Darurat. Aku menoleh ke arah Ropha, ia masih saja terlihat meneteskan air matanya, ia menggenggam tanganku dengan sangat erat hingga kami tiba di Ruang Gawat Darurat dan genggaman tangan kami itu harus terlepas karena dokter akan melakukan tindakkan padaku.


Perawat menutup sekelilingku dengan tirai berwarna putih, membuatku tidak bisa lagi melihat Ropha, tapi meskipun aku tidak bisa melihatnya lagi tapi aku masih bisa mendengar suara lembutnya.


"Kumohon selamatkan dia dan bayinya, dok! Saya akan melakukan apapun!" ucap Ropha masih dengan suaranya yang bergetar karena ia terus menangis. Itulah kata-kata terakhir dari Ropha yang kudengar sebelum pandanganku kembali menjadi putih pekat dan aku merasa sangat mengantuk, akhirnya aku kembali tidak sadarkan diri.


Aku berharap tidak terjadi sesuatu yang berbahaya dengan bayi yang berada dalam kandunganku karena darah yang mengalir di kakiku cukup banyak, dan aku juga berharap ketika nanti aku terbangun kembali, Ropha masih berada di sisiku. Aku ingin mengungkapkan penyesalanku dan meminta maaf padanya sekali lagi. Ya Tuhan, kumohon wujudkan harapanku ini!


...

__ADS_1


__ADS_2