
Aku membuka mataku ketika kudengar suara pintu apartemenku yang dibuka seseorang. Apakah itu Roni? Aku melirik ke jam yang tergantung di dinding kamarku, sudah pukul 01.15! Aku beranjak dari ranjangku untuk melihat apakan itu benar-benar Roni, tapi bagaimana kalau itu bukan Roni? Ah! Pikiranku membuat jantungku berdebar kencang!
Perlahan-lahan aku membuka pintu kamarku dan...
"Aaaaa!!!!" Aku dan orang itu menjerit bersamaan karena kami sama-sama terkejut. Aku bersyukur karena ternyata itu benar Roni!
"Maaf, aku membuatmu terbangun ya?" ucap Roni pelan. Ia membelai kepalaku dengan lembut. Aku menggelengkan kepalaku sambil tersenyum lembut padanya.
"Kupikir kamu tidak akan pulang ke sini." ucapku.
"Tadinya aku tidak ingin ke sini karena sudah sangat larut, pasti akan mengganggumu dan ternyata benar saja!" ungkap Roni.
"Tapi aku senang kalau kamu ada di sini!" akuku. Roni terdiam sejenak menatapku, aku melihat wajahnya perlahan memerah. Dia tersipu karena ucapanku barusan! Aku tertawa kecil.
"Sudah, kamu tidur lagi sana!" perintahnya sambil menggiringku kembali ke kamar. Ia juga membantuku merebahkan tubuhku yang kini semakin membesar.
"Oh iya, ada yang ingin kutanyakan!" ucapku. Roni tersentak mendengar ucapanku yang tiba-tiba itu, ia menatapku dengan seksama.
"Kamu yang memberikan nomorku pada mantan eee.. maksudku Ropha ya?" tanyaku pelan. Sejenak Roni hanya menatapku dan kemudian ia menganggukkan kepalanya pelan. Syukurlah, setidaknya bukan Bayu dan Adnan yang memberikan nomorku pada Ropha.
"Apa dia mengganggumu?" ucap Roni balik bertanya.
__ADS_1
"Dia mengajakku bertemu siang nanti." terangku.
"Bertemu? Untuk apa?" Roni mulai terlihat penasaran.
"Katanya ada yang ingin dia bicarakan denganku." jawabku. Roni terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Eemm.. apa aku perlu ikut dalam pertemuan kalian itu?" tanyanya. Aku tersentak mendengar ucapannya.
"Katanya dia hanya ingin bertemu denganku saja." terangku. Roni menatapku dengan seksama.
"Apa dia akan melakukan hal yang berbahaya untukku?" tanyaku. Roni tersentak.
"Tidak! Dia tidak mungkin bersikap jahat pada orang lain!" seru Roni. Suaranya cukup keras hingga membuatku terkejut. Jantungku berdebar lebih cepat dari sebelumnya. Dia masih memiliki perasaan pada wanita itu sampai-sampai tidak terima kalau ada yang menuduh wanita itu macam-macam! Apakah dia juga akan membelaku seperti dia membela mantannya itu?
...
"Kamu mau kuantar ke tempat pertemuan itu?" tanya Roni memecah keheningan di antara kami.
"Bukannya kamu ada pertemuan dengan investormu?" ucapku balik bertanya.
"Ya! Aku akan mengantarmu sekaligus pergi ke tempat pertemuan dengan investor itu." terang Roni.
__ADS_1
"Baiklah!" ucapku. Setelah pembicaraan singkat itu, suasana di antara kami kembali hening dan dipenuhi oleh kecanggungan. Perbuatan yang sangat tidak benar kalau kita akan menikahi seseorang yang masih memiliki perasaan pada mantan kekasihnya! Aku tahu, aku yang membuat mereka terpisah jadi ini sudah resiko yang harus kuterima! Tapi aku berani bersumpah, hal ini sangat tidak mengenakkan! Aku ingin terlepas dari semua perasaan ini tapi aku takut kalau harus kehilangan Roni! Dia pria terbaik yang pernah kutemui!
...
Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.
Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.
Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.
Dukung terus karya-karyaku ya..
Aku sayang kalian semua.. π€ππ₯°πβΊ
Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..
Dukungan darimu sangat berarti untukku.. β€
Terima kasih ππ€π₯°
Baca juga karyaku yang lainnya ya! Kamu pasti suka! ππβΊπππ€
__ADS_1