
Pelayan itu membawaku menyusuri sebuah lorong yang didesain dengan tampilan mewah, tak berapa lama langkahnya terhenti di depan sebuah pintu yang berada paling ujung.
"Tok.. tok.. tok!" Pelayan itu mengetuk pintu dengan sopan dan kemudian ia masuk ke dalam ruangan itu dan meninggalkan aku sendiri. Jantungku mulai berdebar kencang dan tak karuan.
"Silahkan masuk, ibu!" ucap pelayan itu ketika ia keluar dari ruangan. Aku menganggukkan kepalaku pelan.
Perlahan aku melangkah masuk ke ruangan yang didominasi dengan warna hitam dan putih. Ruangan itu tampak sangat mewah dan eksklusif. Jantungku semakin kencang berdebar ketika kulihat sosok yang duduk di sofa mewah yang berada di tengah ruangan. Ya! Itulah sosok Roni Wijaya, ayah dari janin yang berada dalam kandunganku saat ini.
Roni tampak sangat tampan menggunakan kemeja lengan panjang berwarna biru tua. Ia yang sedari tadi terlihat sangat sibuk dengan laptop yang ada di hadapannya itu menoleh ke arahku begitu aku berdiri di hadapannya.
"Silahkan duduk!" ucapnya sopan. Sesaat ia tersenyum padaku, senyumnya itu terlihat sangat manis, tapi kemudian ia kembali menatap layar notebook-nya. Aku duduk di kursi yang ada di seberang mejanya.
"Maaf, aku harus menyelesaikan ini sebentar ya!" ucapnya pelan, ia menatapku seakan menunggu persetujuanku untuk memperbolehkannya menyelesaikan pekerjaannya itu. Aku mengangguk pelan.
"Emm.. Kamu mau minum dan makan apa?" tanyanya pelan. Ia meraih buku menu yang ada di samping notebook-nya dan memberikannya kepadaku.
__ADS_1
Aku membaca daftar makanan dan minuman yang ada di sana, hampir 80% namanya tidak kukenal. Nama-nama itu sangat sulit untukku ucapkan. Aku melirik ke arah Roni dan ia membuatku terkejut, ternyata sedari tadi ia menatap ke arahku. Dia membuatku jadi salah tingkah!
"Sudah pilih apa yang mau kamu makan dan minum?" tanyanya lembut. Aku menggeleng pelan.
"Aku tidak mengerti makanan dan minuman yang ada di daftar menu ini." akuku polos. Ia tertawa kecil. Astaga! Ia terlihat lebih tampan ketika tertawa seperti itu!
"Aku pilihkan menu yang populer di sini, ya!" ucapnya mengambil alih buku menu itu. Aku mengangguk pelan.
Roni berjalan ke pojok ruangan, ia menekan tombol yang ada di tembok lalu kemudian mulai menyebutkan nama makanan dan minuman yang dipesankannya untukku pada sebuah speaker kecil yang berada di samping tombol itu. Roni kembali ke kursinya, ia menatapku sejenak.
"Aku menyelesaikan ini dulu ya!" lanjutnya sambil menunjuk ke arah notebook-nya itu.
"Oke!" ucapku pelan.
Aku mengeluarkan ponselku dari tas dan mulai mengutak-atiknya untuk menghabisakan waktu selama menunggu makanan dan minuman itu jadi serta Roni selesai dengan pekerjaannya. Aku melirik ke arah Roni, ia tampak sangat serius mengerjakan pekerjaannya. Sesekali ia mengutak-atik ponselnya lalu kembali mengerjakan pekerjaannya di notebook-nya. Sesekali juga keningnya terlihat berkerut, tapi ia tetap terlihat tampan. Inikah pria yang akan menjadi suamiku? Aku sungguh beruntung kalau bisa berjodoh dengan pria ini! Tanpa kusadari, aku tersenyum lembut sambil memandanginya.
__ADS_1
...
Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.
Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.
Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.
Dukung terus karya-karyaku ya..
Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺
Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..
Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤
__ADS_1
Terima kasih 😘🤗🥰