Sebuah Kebodohan

Sebuah Kebodohan
Episode 15


__ADS_3

"Ro.. ni Wijay..a!" eja Hendra. Aku terdiam sejenak mendengar Hendra mengejakan nama itu, sepertinya nama itu tidak asing lagi bagiku! Aku membalikkan tubuhku menghadap ke arah Hendra.


"Ponsel lo bergetar dari tadi, Mel!" seru Hendra sambil menunjuk ke arah ponselku yang tergeletak di atas meja kasir. Pantas saja nama itu sudah tidak asing lagi bagiku, itukan nama ayah dari anak yang kukandung ini! Bagaimana mungkin aku tidak menyadari kalau ponselku itu bergetar padahal suara getarannya cukup besar.


Aku segera meraih ponselku itu, teranyata Roni sudah menghubungiku beberapa kali dan aku terlalu dalam melamun hingga tidak menyadarinya.


"Halo!" sapaku lembut.


"Halo!" sahut Roni dari seberang sana.


"Apa kamu sedang sibuk? Maaf kalau aku mengganggu!" ucapnya sopan.


"Tidak! Aku tidak sedang sibuk, aku hanya tidak mendengar kalau kamu meneleponku." terangku.


"Oh, oke!" ucapnya.


"Emm.. hari sabtu ini apa kamu punya waktu luang?" tanyanya ragu-ragu. Dengan cepat aku membalikkan tubuhku untuk melihat jadwal kerjaku yang tertempel di dinding.


"Ya! Hari sabtu aku libur!" jawabku.


"Baguslah!" seru Roni. Ia terdengar menghela nafasnya perlahan.


"Kalau begitu kamu bisa bertemu denganku kan?!" tanyanya lagi.


"Bisa!" jawabku dengan penuh keyakinan.


Roni mengatur jadwal kami bertemu, ia menentukan tempat dan waktu kami bertemu dan aku hanya menyetujuinya saja. Aku merasa sangat senang akhirnya kami bisa bertemu kembali setelah sekian lama untuk membicarakan masa depan kami.

__ADS_1


Aku meletakan kembali ponselku di meja kasir setelah selesai berbincang dengan Roni. Aku tersentak begitu membalikkan tubuhku sudah ada Hendra di belakangku.


"Lo mengejutkan gue saja!" seruku. Hendra menatapku dengan tatapan curiga.


"Siapa itu? Tidak biasanya ada laki-laki yang nelpon lo!" ucap Hendra.


"Lo sudah punya pacar ya?!" terka Hendra.


"Bukan! Bukan!" bantahku.


"Terus?" tanya Hendra penasaran.


"Teman! Dia temannya teman gue!" terangku. Untuk apa aku menjelaskan sedetail itu pada Hendra? Dia tidak akan mengerti juga posisiku!


"Teman? Teman hidup ya?!" ledeknya. Ia terbahak-bahak karena puas bisa meledekku.


"Terserah lo deh!" seruku. Ingin sekali aku membalas ledekkannya itu dengan berseru kalau Roni adalah calon suamiku!


...


Aku menaiki angkutan umum untuk mencapai ke tempat pertemuanku dengan Roni siang ini, dan akhirnya setelah setengah jam perjalanan aku tiba di tempat yang sudah dijanjikan. Aku menghela nafasku perlahan, jantungku berdebar dengan sangat kencang begitu melangkah masuk ke restoran tempat kami janji bertemu.


"Selamat siang, ibu!" sapa pelayan restoran itu.


"Si.. siang!" sahutku gugup, ini pertama kalinya aku masuk ke dalam sebuah restoran mewah.


"Maaf ibu, apa sebelumnya ibu sudah memesan tempat?" tanya pelayan itu sopan. Aku menggeleng pelan.

__ADS_1


"Kami mohon maaf ibu, kebetulan restoran kami sedang full saat ini." terang pelayan itu. Luar biasa! Restoran semewah ini sudah full berapa kira-kira penghasilannya sehari ya?


"Tapi saya sudah janji bertemu di sini dengan teman saya." ungkapku.


"Oh ya?! Boleh saya tahu nama teman ibu?" tanya pelayan itu.


"Roni! Roni Wijaya!" jawabku. Pelayan itu terlihat sedikit terkejut.


"Oh, ibu akan bertemu dengan pak Roni?!" tanya pelayan itu meyakinkan. Aku mengangguk pelan.


"Apa ibu yang bernama ibu Winda Amelia?" tanyanya lagi. Aku menganggukkan kepalaku lagi.


"Mari ibu, saya antarkan!" ajak pelayan itu sopan.


...


Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.


Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.


Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.


Dukung terus karya-karyaku ya..


Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺


Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..

__ADS_1


Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤


Terima kasih 😘🤗🥰


__ADS_2