Sebuah Kebodohan

Sebuah Kebodohan
Episode 64


__ADS_3

Ropha kembali ke bagian kantor hotel untuk menemui Rangga, tapi ketika ia sampai di sana kantor hotel tersebut sudah cukup gelap karena beberapa lampunya sudah dimatikan dan sudah tidak ada karyawan yang berada di tempat itu. Ropha melirik jam tangannya.


"Sudah jam 9 ternyata!" gumamnya pelan. Ropha membalikkan tubuhnya dan seperti hendak meninggalkan tempat itu, tapi matanya menangkap seberkas cahaya di bagian bawah pintu ruang general manager, cahaya itu berasal dari lampu di dalam ruangan yang masih menyala.


"Apa dia masih ada di dalam?" gumam Ropha. Ropha menarik nafasnya perlahan, ia memberanikan diri berjalan melintasi ruangan yang gelap itu menuju ruangan general manager hotel.


"Tok.. tok.. tok!" Ropha mengetuk pintu ruangan itu pelan dan menunggu seseorang membuka pintu itu, tapi setelah beberapa detik tetap tidak ada yang membukakan pintu itu, bahkan tidak terdengar suara sama sekali dari dalam ruangan.


"Tok.. tok.. tok!!" Ropha mengulangi ketukannya, kali ini dengan tenaga yang sedikit lebih besar dari sebelumnya.


"Kamu belum pulang, Ntan?" ucap Rangga yang tiba-tiba muncul dari balik pintu itu. Rangga muncul dengan mulut yang sedang sibuk mengunyah makanan.


"Hmpf!" Rangga nyaris tersedak karena terkejut, bukan sekretarisnya yang berada di hadapannya melainkan Ropha. Ropha tertawa kecil melihat tingkah Rangga itu.


"Maaf, bu!" ucap Rangga kikuk.


"Saya pikir tadi sekretaris saya!" terangnya.


"Mari silahkan masuk!" ucap Rangga mempersilahkan Ropha untuk masuk. Ropha masuk ke ruangan itu dengan perlahan, ia melihat meja kerja Rangga yang penuh dengan berkas-berkas dan beberapa kotak makanan.

__ADS_1


"Silahkan duduk, bu!" ucap Rangga mempersilahkan Ropha duduk.


"Maaf, saya ke toilet sebentar ya bu!" pamit Rangga. Ropha menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Matanya mulai menjelajah ke berkas-berkas yang ada di meja kerja Rangga dan perlahan tangannya mengambil salah satu berkas kemudian membacanya.


Tak lama kemudian Rangga kembali ke ruangannya, wajahnya terlihat lebih segar, sepertinya ia membasuh wajahnya di toilet.


"Maaf membuat ibu menunggu!" serunya pada Ropha sambil kembali duduk di kursi kerjanya.


"Tidak apa-apa, pak! Saya yang seharusnya meminta maaf karena sepertinya bapak sedang banyak kerjaan dan saya malah mengganggu waktu bapak!" tukas Ropha.


"Tidak, ibu tidak mengganggu! Saya malah senang ada yang menemani!" canda Rangga. Ropha tersenyum lembut.


"Ibu sudah menemukan rekaman CCTV yang sesuai?" tanya Rangga. Ropha menganggukkan kepalanya.


"Saya sangat berterima kasih pada bapak karena saya boleh mendapat rekaman ini." ucapnya.


"Kalau tidak ditolong oleh bapak, mungkin selamanya saya tidak akan bisa membantu sahabat saya itu." lanjutnya.


"Hahaha.. saya tidak membantu apa-apa, bu! Pak Eric yang membantu ibu menemukan bukti yang akurat!" tukas Rangga.

__ADS_1


"Tapi bapak yang memberikan saya kesempatan untuk mencari bukti itu! Itu hal yang paling penting dalam proses ini, kalau bukan karena ijin bapak, saya tidak akan mungkin bisa menemukan bukti itu!" ungkap Ropha. Rangga terdiam, ia hanya tersenyum lembut sambil menatap wajah cantik Ropha.


"Terima kasih, pak Rangga! Apa yang bapak berikan pada saya itu sangat berarti!" ucap Ropha lembut. Wajah cantiknya tampak semakin sempurna dengan senyuman manis yang merekah di bibirnya.


...


Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.


Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.


Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.


Dukung terus karya-karyaku ya..


Aku sayang kalian semua.. πŸ€—πŸ˜˜πŸ₯°πŸ˜Šβ˜Ί


Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..


Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❀

__ADS_1


Terima kasih πŸ˜˜πŸ€—πŸ₯°


Baca juga karyaku yang lainnya ya! Kamu pasti suka! πŸ˜πŸ˜Šβ˜ΊπŸ˜šπŸ˜˜πŸ€—


__ADS_2