
"Permisi." ucap Roni lembut begitu masuk ke dalam rumahku. Ia terlihat sedikit kikuk. Mungkin rumahku tidak seperti yang ia bayangkan!
"Mah.. kak Amel pulang nih!" jerit Tilla. Roni tersentak mendengar jeritan Tilla memanggil ibuku.
"Di sini biasa seperti ini." terangku pelan. Roni menganggukkan kepalanya.
"Silahkan duduk!" ucapku mempersilahkan Roni duduk.
Roni duduk di salah satu kursi yang ada di ruang tamuku. Ia terlihat sedikit tegang, mungkin karena akan berbicara dengan kedua orang tuaku. Tak lama kemudian mamah muncul dari arah dapur.
"Ya ampun anakku! Kamu pulang kok tidak memberi kabar dulu?" seru mamah histeris melihatku. Mamah memelukku dan seketika mamah terkejut begitu menyadari kehadiran Roni.
"Siapa ini?" tanya mamah pelan. Roni langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Selamat sore ibu!" sapanya sopan. Sejenak mamah tersenyum lebar pada Roni dan kemudian melirikku.
"Perkenalkan ini Roni, mah!" ucapku memperkenalkan Roni.
"Saya Roni, bu!" ucap Roni memperkenalkan diri sambil mengajak mamah berjabat tangan. Mamah menyambut jabatan tangan Roni itu.
"Roni ini teman kerjanya Amel?" tanya mamah.
"Saya.." Roni hendak menjelaskannya tapi aku memotongnya.
__ADS_1
"Nanti Roni jelaskan kalau sudah ada bapak, mah!" ucapku.
"Bapak mana?" tanyaku.
"Bapak lagi di tempat pak Tanto, biasa!" jawab mamah.
"Tilla, panggilkan bapak!" seru mamah. Tilla langsung berlari ke rumah pak Tanto, tetangga kami, untuk memanggil bapak.
"Nak Roni sudah makan?" tanya mamah.
"Ibu ambilkan makan ya!" seru mamah.
"Ah iya! Maaf merepotkan, bu!" ucap Roni. Aku tersentak, Roni tidak menolak tawaran makanan dari ibuku padahal dia pasti tahu bagaimana makanan orang miskin. Dia memang pria yang sopan!
...
"Kamu mau bicarakan sekarang atau nanti?" bisikku pada Roni setelah ia selesai menyantap masakan mamah.
"Sekarang saja biar semua masalahnya cepat selesai!" ucap Roni.
"Baiklah!" ucapku pelan. Aku menutup rapat pintu utama rumahku agar tidak ada orang lain yang mendengar percakapan kami. Seperti biasanya di kampung, ketika sebuah keluarga mempunyai masalah internal pasti semua warganya ikut penasaran.
Aku menyentuh lengan Roni dengan lembut untuk menyemangatinya karena ia terlihat sangat tegang. Sejenak Roni menatapku.
__ADS_1
"Saya minta maaf sebelumnya kepada bapak dan ibu serta keluarga di sini karena tiba-tiba datang ke sini tanpa memberi kabar terlebih dahulu." ucap Roni memulai pembicaraannya. Bapak dan mamah terlihat sangat serius menyimak setiap ucapan Roni. Jantungku mulai berdebar kencang hingga lama kelamaan membuat dadaku terasa sesak.
"Iya, tidak apa-apa!" sahut bapak.
"Saya datang ke sini dengan niatan mau meminta ijin dari bapak dan ibu serta keluarga di sini untuk bisa menikah dengan Amel." terang Roni. Bapak dan mamah tampak sangat terkejut mendengar ucapan Roni barusan. Seketika kaki dan tanganku terasa lemas. Bapak dan mamah menatap Roni dengan seksama, wajah mereka tampak sangat serius. Apakah bapak dan mamah akan menerima Roni? Bagaimana sikap mereka kalau mengetahui alasan Roni mengajakku menikah?
...
Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.
Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.
Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.
Dukung terus karya-karyaku ya..
Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺
Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..
Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤
Terima kasih 😘🤗🥰
__ADS_1