Sebuah Kebodohan

Sebuah Kebodohan
Episode 51


__ADS_3

"Kamu sendirian ke sini?" tanya Roni. Ropha menggeleng pelan.


"Aku bersama teman-teman yang lain! Itu mereka di sana!" jawab Ropha sambil menunjuk ke arah meja tempat ia dan teman-temannya berkumpul. Roni menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Ropha itu.


"Kak Roni bersama siapa ke sini?" ucap Ropha balik bertanya.


"Aku bersama Amel ee.. maksudku bersama.." Roni terlihat kikuk akan menjawab pertanyaan mantan kekasihnya itu.


"Bersama calon istrimu?" terka Ropha. Roni mengangguk pelan.


"Di mana dia?" tanya Ropha.


"Itu di sana." jawab Roni sambil menunjukkan mejanya.


Ropha tampak tersentak begitu melihat ke arah meja itu. Keningnya berkerut, ia mencoba memfokuskan pandangannya agar bisa melihat lebih jelas pada objek yang ditunjuk oleh Roni. Roni memperhatikannya.


"Kamu kenapa?" tanya Roni penasaran.


"Wajahnya seperti tidak asing lagi." terang Ropha.


"Oh ya?" seru Roni.


"Kamu pernah bertemu dengannya?" tanya Roni. Ropha mengangkat bahunya.


"Entahlah kak, aku hanya merasa wajahnya tidak asing lagi, tapi aku lupa di mana aku melihatnya." jelas Ropha. Roni mengangguk pelan.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu aku kembali ke sana, ya! Dia sudah menungguku terlalu lama." pamit Roni. Ropha mengangguk pelan sambil tersenyum lembut pada Roni.


"Oh iya, kak!" Baru selangkah Roni hendak meninggalkannya, tapi Ropha sudah memanggilnya lagi.


"Kapan kalian akan menikah?" tanya Ropha. Roni tersentak mendengar pertanyaan Ropha itu.


"Dua bulan lagi." jawab Roni ragu.


"Jangan lupa mengundangku, ya!" ucap Ropha.


"Kamu mau hadir ke pernikahanku?" tanya Roni tak percaya.


"Kalau kamu mengundang, aku akan datang!" seru Ropha.


...


"Maaf membuatmu menunggu lama!" ucap Roni begitu tiba di hadapanku. Wajahnya terlihat berseri. Roni duduk di kursi yang ada di hadapanku dan bersiap untuk menyantap makanan yang tersaji di hadapannya.


"Aku ingin pulang!" ucapku pelan sedetik sebelum sendok dan garpu yang ada di tangan Roni menyentuh makanannya. Roni tersentak, ia menatapku dengan ekspresi bingung.


"Aku mau pulang!" ulangku. Roni terus menatapku.


"Kamu kenapa?" tanya Roni. Aku hanya diam sambil menundukkan kepalaku. Air mataku mulai berkumpul di pelupuk mataku dan siap meluncur keluar. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menahannya hingga dadaku terasa sesak.


"Kamu sakit?" tanya Roni lagi. Aku masih terdiam karena kalau aku mengeluarkan suaraku, aku pasti menangis. Ayolah kita cepat pulang.

__ADS_1


"Amel!" panggil Roni pelan. Keras kepala sekali dia! Aku mengangkat kepalaku dan akhirnya apa yang kutakutkan terjadi, air mataku mengalir ke pipiku. Roni tampak sangat terkejut melihatku menangis.


"Aku mau pulang!" lirihku.


"Baiklah!" sahutnya pelan. Roni memanggil pelayan dan meminta mereka untuk membungkus makanan yang belum sempat kami makan.


"Ayo!" ajak Roni. Ekspresi wajahnya terlihat berbeda dari sebelumnya, mungkin ia kesal denganku, tapi ia masih bersikap lembut padaku.


...


Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.


Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.


Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.


Dukung terus karya-karyaku ya..


Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺


Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..


Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤


Terima kasih 😘🤗🥰

__ADS_1


__ADS_2